alexametrics

Pemimpin adalah Pelaku Perubahan Lembaga Pendidikan

Oleh : Tilamsari, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Guru sebagai pelaku perubahan situasi dan kondisi lembaga pendidikan tidak lain adalah menjadi pemimpin (leader) bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Guru adalah gardan depan dan pelaku perubahan dalam dunia pendidikan. Berbagai macam peraturan, kebijakan, dan perubahan manajemen, dll, meskipun baik, namun jika tidak sampai mengubah praktek guru di dalam proses mengajar di kelas hanya akan tinggal sebagai macan kertas perubahan.

Pemahaman kepemimpinan yang eksklusif sudah tidak zamannya lagi. Kepemimpinan model ini menganggap bahwa tidak semua orang terlahir menjadi pemimpin. Hanya individu yang terbentuk dengan kualitas dan kemampuan khusus, ambisi, visi, kharisma dan pengalaman tertentu yang dapat menjadi pemimpin. Pemimpin heroik adalah mereka yang mampu menyelamatkan seluruh lembaga dan anggota-anggota dari jurang kehancuran. Mereka percaya bahwa individu itu dapat menjadi pemimpin besar karena ia terlahir untuk itu. Pandangan yang demikian ini sesungguhnya hanya sebuah mitos belaka.

Baca juga:  Metode Talking Stick pada Pembelajaran Mengemukakan Pendapat

Masih banyak guru memiliki pandangan bahwa diri mereka bukanlah pemimpin. Pemimpin dalam benak mereka adalah kepala sekolah, direksi, dan jabatan struktural lainnya yang tidak bisa lama dan kekal atau abadi. Tidak mengherankan jika inisiatif perubahan dari bawah jarang muncul. Guru lebih suka menyesuaikan diri dengan keinginan atasan daripada melaksanakan visi dan inspirasinya sebagai pendidik. Secara struktural-formal kepala sekolah adalah pemimpin pendidikan. Namun sesungguhnya guru adalah pemimpin pendidikan yang sesungguhnya sebab ia mengelola kelas dan terjun langsung berhadapan dengan siswa.

Tidak mudah mengubah konsep dasar yang kita miliki tentang kepemimpinan. Menimpanya kesalahan dan ketidakberesan yang terjadi dalam lembaga pendidikan adalah pada pimpinan memang tindakan paling mudah yang bisa dilakukan oleh guru. Kultur sekolah yang mengutamakan pendekatan “asal pimpinan senang” bisa menghambat perubahan dalam lembaga pendidikan karena mereka yang terlibat di dalam lembaga pendidikan merasa tidak enak dan rikuh jika mesti menyampaikan data-data permasalahan yang sesungguhnya.

Baca juga:  Asyiknya Berpantun dengan Sticky Notes pada Google Jamboard

Guru pada dasarnya adalah pemimpin bagi hidupnya sendiri dan dengan itu ia bersama-sama membangun sebuah idealisme dan cita-cita bersama. Kepemimpinan (leadership) merupakan sebuah kapasitas manusiawi untuk bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik dan mampu mempertahankan proses perubahan yang terus berjalan (Senge, 1999). Perubahan ini pada gilirannya menumbuhkan dan mengukuhkan identitas individu sebagai pelaku perubahan. Setiap individu yang bekerja dalam lembaga pendidikan adalah pelaku perubahan sebab mereka merancang masa depan pertumbuhan lembaga pendidikan dalam kebersamaan dengan orang lain.

Lembaga pendidikan melalui kinerjanya sesungguhnya dapat membantu menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang lebih baik dari yang sekarang ini ada kalau guru benar-benar dapat merealisasikan peranannya sebagai pelaku perubahan. Namun, apakah para guru mau menyadarinya dan sedia membentuk diri menjadi pelaku perubahan?

Baca juga:  Layanan Bimbingan Konseling Berbasis Microsoft Teams 365

Semua yang di lakukan para guru juga memperhatikan pemimpin. Dengan pemimpin yang tegas dan berani mengambil tindakan dan memberi keputusan, maka bisa memajukan dan meningkatkan mutu pendidikan. Didalam kepemimpin seorang pemimpin harus memberikan contoh motifasi dan tauladannya untuk semua guru tanpa membeda – bedakan dari segi manapun juga. maka para guru akan mengemban tugas dan tanggu jawab yang sama. (ti1/ton)

Guru SMP 2 Sragi Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya