alexametrics

Mengatasi Masalah Siswa di Sekolah melalui Layanan Bimbingan dan Konseling

Oleh: R. DIDIK SETIA ADI, S.IP., S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEBAGAI sebuah layanan profesional, kegiatan layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun dan berpijak pada landasan yang kokoh, dengan adanya pijakan kokoh, setiap upaya mengatasi masalah siswa melalui layanan bimbingan dan konseling dapat lebih dipertanggungjawabkan, baik dilihat dari segi proses maupun hasilnya.

Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang bermasalah, dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku, yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah, dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: pendekatan disiplin dan pendekatan bimbingan dan konseling, hal ini yang telah dilakukan di SMP Negeri 1 Doro Kabupaten Pekalongan.

Penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Kendati demikian, harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perlaku. Sebagai lembaga pendidikan, justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perlaku yang terjadi pada para siswanya.

Baca juga:  Nyanyian Permudah Siswa Pahami Tokoh Pendiri ASEAN

Oleh karena itu, di sinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui bimbingan dan konseling. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera, penangan siswa bermasalah melalui bimbingan dan konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Penangan siswa bermasalah melalui bimbingan dan konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apapun, tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah, sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik.

Baca juga:  Peer Counseling Efektif Membantu Penyelesaian Masalah

Perlu diketahui bersama bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh konselor, dalam hal ini, Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah sebagai berikut:

Masalah (kasus) ringan, seperti: membolos, malas, kesulitan belajar, berkelahi dengan teman sekolah, berpacaran, bertengkar. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor) dan mengadakan kunjungan rumah.

Masalah (kasus) sedang, seperti: gangguan emosional, berpacaran dengan perbuatan menyimpang, berkelahi antar sekolah, kesulitan belajar karena gangguan di keluarga, mencuri, melakukan gangguan sosial dan asusila. Kasus sedang dibimbing oleh konselor, dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah, ahli/profesional, polisi, guru dan sebagainya.

Masalah (kasus) berat, seperti: gangguan emosional berat, kecanduan alkohol dan narkotika, pelaku kriminalitas, siswa hamil, percobaan bunuh diri, berkelahi dengan senjata tajam. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater, dokter, polisi dan sebagainya

Baca juga:  Tingkatkan Pemahaman Konsep Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat dengan “Maju Mundur Cantik”

Dengan melihat penjelasan di atas, tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan bimbingan dan konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan berbagai pihak untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. Kekuatan inti pelayanan bimbingan dan konseling terletak pada pendekatan interpersonal, dalam hal ini konselor bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa, tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. Seperti di SMPN 1 Doro, Kabupaten Pekalongan. (ti2/zal)

Guru BK SMPN 1 Doro ,Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya