alexametrics

Mengembangkan Kosa Kata Anak melalui Cerita dengan Media Wayang

Oleh: Wiwik Krissetiyawati, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Dalam proses pembelajaran di kelas terdapat beragam perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran tersebut direncanakan sesuai dengan kurikulum yang ada dan dikemas dengan menarik sehingga anak-anak mendapat suasana belajar yang menyenangkan. Selain menyenangkan, ruang belajar yang dibangun oleh pendidik juga harus interaktif artinya terdapat timbal balik antara pendidik dan peserta didik.

Ruang belajar yang interaktif dan memiliki kesan menyenangkan dapat diperoleh dengan menghadirkan media pembelajaran. Media pembelajaran adalah alat yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran dan memiliki fungsi membantu pendidik untuk menyampaikan materi pembelajaran. Meskipun kehadirannya bukan suatu kewajiban dalam proses pembelajaran, namun kebermanfaatannya sangat membantu pendidik.

Peserta didik pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sangat memerlukan media pembelajaran. Termasuk di TK PGRI 12 Kota Semarang. Karakteristik suka bermain, daya imajinasi yang tinggi, mudah bosan, ekspresif dan lain sebagainya dapat ditaklukan melalui media pembelajaran. Suasana dan kondisi kelas yang interaktif dan memiliki daya tarik akan terbangun sehingga peserta didik akan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Pendidik tidak hanya melakukan kegiatan pembelajaran dengan ceramah semata, sehingga tidak monoton.

Baca juga:  Bermain Sains dengan Anak TK Pertiwi Jatiroyom

Media yang dapat digunakan dalam jenjang pendidikan anak usia dini adalah media wayang. Media wayang merupakan salah satu media yang memiliki nilai budaya didalamnya. Selain mengenalkan nilai-nilai budaya, media wayang dapat dimainkan untuk menyajikan sebuah cerita. Media ini dapat diimplementasikan dalam proses pembelajaran melalui sebuah cerita. Media wayang yang digunakan dalam bercerita bermanfaat untuk mengembangkan aspek perkembangan dan pertumbuhan anak khususnya dalam mengembangkan kosa kata. Perkembangan kosa kata anak dapat terlihat dari penguasaan bahasanya dan anak dapat berbicara dengan lancar tanpa terbata-bata atau terjeda untuk berpikir.

Melalui bercerita dengan media wayang, pendengaran anak akan difungsikan dengan baik dan imajinasi anak-anak akan tervisualisasi melalui media wayang. Proses mendengarkan cerita tersebut akan menambah perbendaharaan kosa kata. Apabila perbendaharan kosa kata bertambah maka kemampuan anak dalam mengucapkan kata-kata juga berkembang. Hal ini memudahkan anak untuk melangkah ke tahap selanjutnya yaitu mengekspresikan kosa kata yang dimiliki dengan kegiatan lain seperti bernyanyi, menggambar, atau berkomunikasi dengan lawan bicara.

Baca juga:  Alat Bantu Bilbul dengan Manik-Manik Lebih Bersemangat Belajar Matematika

Bercerita dalam pembelajaran pendidikan anak usia dini bukan hal yang baru, namun memiliki daya tarik apabila diberi dengan tambahan media sebagai alat penunjangnya. Sebelum mengimplementasikan proses pembelajaran dalam bercerita terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu: pertama, peristiwa yang terdapat dalam cerita harus sesuai dengan tahap perkembangan anak. Sejauh ini, cerita-cerita yang ditampilkan dalam pembelajaran memiliki dua sisi yaitu negatif atau positif dimana sering diarahkan kepada tokoh antagonis dan protagonis. Hal tersebut harus diminimalisasi agar tidak ada lagi gambaran hal-hal negatif, sehingga anak dapat mengetahui bahwa dalam kehidupan hal-hal yang dibawa dan dilakukan adalah hal positif. Kedua, media sebagai alat penunjang dalam bercerita harus disesuaikan dengan baik. Usahakan jangan menggunakan media yang berbahaya, namun media yang edukatif dan memiliki nilai-nilai yang tertanam seperti media wayang yang memiliki nilai-nilai historis dan nilai-nilai budaya. Ketiga, menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak sehingga perbendaharaan kosa kata anak dapat bertambah. Dalam ranah ini pendidik harus memilah dan memilih kosa kata yang tepat dan mudah dipahami oleh anak. Keempat, cerita yang dibawakan harus memiliki substansi sehingga dapat menginternalisasikan nilai-nilai kehidupan melalui alur sebuah cerita. (fbs/aro)

Baca juga:  Penanaman Perilaku Santun pada Anak Usia Dini Berbasis Media Visual

Guru TK PGRI 12 Kota Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya