alexametrics

Kendala Dasar PJJ sebagai Implementasi Pembelajaran yang Sebenarnya

Oleh : Khabib Bastari, S.Pd, M.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pandemi Covid-19 memaksa kita melompat pada konsep pembelajaran masa depan dengan menggunakan TI, meninggalkan ruang kelas, buku, kertas dan segala macamnya. Akan tetapi, pembelajaran tersebut tidak mudah dicapai karena mengubah pandangan tentang belajar dan pembelajaran memang sulit.

Ketika guru mengajar ada makna tersirat siswa diajar, artinya guru memberi siswa diberi, transfer of knowledge, guru aktif siswa pasif. Siswa tergantung guru, tidak punya motivasi dan kreasi, tidak melakukan sesuatu sebelum diberi materi, soal, atau tugas. Ketika diberi pun sebagian siswa harus dikejar-kejar untuk melakukannya. Kondisi seperti ini masih terjadi pada sebagian besar guru-siswa di sekolah pada umumnya termasuk di SMPN 3 Ambarawa.

Pembelajaran adalah proses, cara, menjadikan belajar (KBBI V digital). Sedangkan belajar adalah aktivitas aktif yang timbul terutama karena stimulus intern bukan rangsang dari luar. Belajar berarti 1) berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, 2) berlatih, 3) berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (Ali, 1995:14). Konsep pembelajaran ini sebenarnya telah didengungkan melalui K-13. Dalam Permendikbud no. 65/2013 disebutkan ada 14 prinsip pembelajaran. Tiga di antaranya adalah peserta didik mencari tahu bukan diberi tahu; pembelajaran berlangsung di rumah, sekolah, dan masyarakat; serta siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.

Baca juga:  E-Learning Tingkatkan Minat Siswa Belajar IPS

Pembelajaran berhasil ketika motivasi dan rasa ingin tahu siswa meningkat. Siswa tidak lagi menunggu disuruh belajar, diberi soal atau tugas. Dia tidak hanya mengonsumsi pengetahuan, melainkan juga mengonstruksi pengetahuan, menuangkan ide, dan menghasilkan karya. Oleh karena itu, ativitasnya bisa terjadi kapan saja, di mana saja, kepada siapa saja, dan dengan media apa saja. Kondisi seperti ini rasanya belum tercapai. Mengapa setelah pelaksanaan PJJ pembelajaran bahkan semakin berat, padahal sumber belajar demikian melimpah? Ada beberapa kendala teknis seperti jaringan internet belum merata, sebagian belum memiliki perangkat, SDM sebagian guru belum memadai. Akan tetapi, kendala mendasarnya adalah belum berubahnya paradigma pembelajaran itu sendiri baik dalam pandangan guru, siswa, maupun buku-buku pelajaran.

Baca juga:  Latihan Soal Bervariasi Tingkatkan Penguasaan Rumus Matematika

Guru masih merasa sebagai pemberi ilmu, siswa selalu dianggap belum tahu. Siswa pun merasa bahwa tugasnya adalah menerima ilmu supaya pandai dan lulus. Ilmu merupakan barang jadi sebagaimana adanya dalam buku pelajaran. Jika tidak seperti dalam buku pelajaran berarti salah. Kewajiban siswa adalah mengonsumsi pengetahuan dalam buku-buku pelajaran tersebut. Buku pelajaran lebih berfungsi sebagai sarana menunjukkan informasi daripada sarana melatih berpikir, mengonstruksi informasi, dan memancing kreasi. Oleh karena itu, penyajiannya secara deduktif dengan struktur: topik, pengertian, ciri-ciri, contoh, latihan. Struktur seperti ini selamanya tidak bisa digunakan untuk metode pembelajaran seperti inquiry, problem based learning, CTL, active learning, discovery learning, dan sejenisnya.

Baca juga:  PjBL Tingkatkan Keaktifan Belajar IPA di Masa Pandemi Covid 19

Kondisi guru, siswa, dan buku pelajaran seperti ini sudah menggurita dan mencengkeram. Oleh karena itu, PJJ justru semakin berat bagi sebagian besar guru-siswa, meskipun didukung sumber informasi yang demikian melimpah. Mestinya kehadiran guru memancing siswa berpikir kritis dan kreatif. Mestinya buku pelajaran demikian dengan struktur induktif: masalah, contoh, ciri-ciri, baru mengonstruksi atau merumuskan pengertian. (bw2/ton)

Guru SMPN 3 Ambarawa

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya