alexametrics

Tantangan dalam Pembelajaran Berkarakter di Masa Pandemi

Oleh : Khalimi,.S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pepatah mengatakan “guru digugu dan ditiru“. Jadi seorang guru itu harus siap untuk digugu dan ditiru. Sang guru sejatinya siap menjadi model karakter di tengah para siswanya, di tengah masyarakat dan teman-teman yang majemuk. Seorang guru harus beriman dan bertakwa.

Dari keharusan guru harus beriman dan bertakwa, siap digugu dan ditiru, serta siap menjadi model karakter kuat di tengah kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, maka guru yang demikian pasti punya kepedulian terhadap perkembangan siswanya.

Guru akan sangat senang, merasa bahagia jika melihat siswa-siswanya menjadi orang yang sukses. Dan sebaliknya guru akan merasa sedih jika siswanya belum berhasil.

Sang guru dengan dasar seperti yang disebutkan di atas, maka punya cinta dan kasih sayang kepada muridnya. Dengan cinta dan kasih sayang yang dimilikinya, dengan sendirinya guru akan telaten dan sabar dalam membimbing, mendidik dalam rangka mentransfer ilmu yang diamanatinya sekaligus tugasnya. Agar siswanya akan tumbuh menjadi manusia yang berakhlak mulia, cerdas dan terampil. Sehingga kelak mereka akan siap meneruskan perjuangan agama bangsa dan negara, serta membanggakan orang tua sekaligus menjadi aset termahal bagi semua, dapat hidup di masyarakat dengan baik.

Baca juga:  Olahraga Sederhana di Rumah Selama Masa Pandemi

Seiring dengan kondisi pandemi sekarang ini, ada kebijakan pembelajaran dengan cara daring. Yaitu pembelajaran lewat sarana HP tidak tatap muka, tentu ini menjadi tantangan guru dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam pembelajaran menggunakan sarana ini tidaklah memuaskan bagi kedua belah pihak. Baik bagi guru maupun siswa. Berbeda ketika kita belajar dengan tatap muka.

Tingkat pahaman dan hasil akhir sangat-sangatlah kecil. Banyak sekali kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran sekarang ini. Namun karena pembelajaran sekarang berkarakter siswa karena sudah tahu maka walau dalam persentase yang minim, mereka tetap melaksanakan proses pembelajaran ini dengan penuh tanggung jawab, disiplin dan memiliki kemauan untuk mengikuti pembelajaran dengan baik. Walau banyak kendala yang harus dihadapi.

Baca juga:  Bouncing Ball Tingkatkan Hasil Belajar Tenis Meja

Fakta di lapangan ditemukan banyak kasus yang dihadapi siswa sekaligus orang tua. Di antaranya tidak semua siswa punya HP, masih banyak ditemukan tugas yang diberikan guru dikerjakan oleh orang tua. Siswa malas mengerjakan tugas, siswa asyik main HP dari pada belajar. Banyak orang tua mengeluh pusing karena pelajarannya sulit sehingga stres karena ada tugas dari guru sedangkan anaknya tidak memahami pembelajaran yang diperolehnya dalam waktu yang singkat. Dengan demikian yang akan terjadi adalah orang tua protes pada guru karena tidak memahami keadaan. Pada akhirnya siswa menjadi sasaran kemarahan orang tuanya.

Kondisi yang demikian tentu menjadi PR besar bagi guru untuk menemukan solusi agar pembelajaran bisa berjalan. Sehingga siswa tidak terlalu jauh ketinggalan materi pelajaran. Bagaimana cara yang dilakukan guru dalam memberi materi pelajaran.

Solusi guru yang dimaksud di atas diantaranya guru membentuk kelompok pada siswa-siswanya. Guru mendatangi kelompok demi kelompok di rumah salah satu siswa yang sudah ditentukan. Guru sebisa mungkin memanfaatkan waktu agar pembelajaran yang singkat itu punya arti bagi siswa.

Baca juga:  Belajar Asyik Kesebangunan dengan Menaksir Tinggi Pohon

Dengan langkah-langkah tersebut di atas harapan kita sebagai seorang guru adalah siswa merasa diperhatikan guru. Orang tua merasa lega karena guru mau mendidik dan membimbing anaknya. Mental anak didik bisa dikontrol walau dengan waktu yang singkat.

Langkah-langkah di atas tentu tidak bisa maksimal hasilnya. Tapi setidaknya siswa merasa punya guru yang menyayanginya, siswa tidak dilepas begitu saja untuk mengguru kepada google atau youtube dan medsos lainya yang bisa saja menjerumuskan siswa itu sendiri.

Semoga kondisi pandemi ini cepat berlalu. Semoga pemerintah jangan gebyah uyah dalam mengambil kebijakan pelaksanaan kegiatan belajar. Artinya kebijakan kegiatan belajar daerah zona merah dengan kuning serta zona hijau, harus berbeda, agar generasi bisa diselamatkan, yang imbasnya kepada maju mundurnya sebuah bangsa. (ti1/lis)

Guru SDN 09 Kabunan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya