alexametrics

Dampak Psikologis Siswa dalam Mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh

Oleh : R. Didik Setia Adi, S.IP., S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Sejak pandemi Covid-19 menyerang Indonesia pada bulan Maret 2020, banyak kegiatan yang harus dilakukan dari rumah. Salah satunya belajar bagi anak-anak sekolah. Hingga kini, berbagai daerah masih harus menyelenggarakan pendidikan secara daring karena angka kasus Covid-19 masih cukup banyak di berbagai daerah.

Pelaksanaan program belajar dari rumah yang sudah berlangsung cukup lama memberikan dampak tersendiri terhadap psikologis anak. Perpindahan metode siswa belajar dari rumah akan berefek pada siswa hal ini terjadi di SMP Negeri 1 Doro, Kabupaten Pekalongan.

Guru dalam pembelajaran online selalu memberikan tugas banyak bahkan bukan hanya satu guru saja tetapi semua guru mata pelajaran yang mengakibatkan tugas menumpuk dalam waktu sehari dan anak akhirnya menjadi kelelahan dan lama-lama bosan.

Hal itu menyebabkan siswa tidak mau mengerjakan tugas dan pengerjaannya diselesaikan oleh orang tuanya, kakaknya atau orang lain, tentu akan menimbulkan dampak ke depannya. Dampaknya, si anak akan mengalami ketergantungan pada bantuan orang lain, kurang mandiri dalam menyelesaikan tugas, dan cenderung menjadi anak yang kurang percaya diri.

Baca juga:  Flipped Learning Jurus Jitu PTMT IPS

Namun belajar online semakin lama membuat perbedaan terhadap proses belajar, dan akhirnya siswa mulai jenuh. Tekanan akan berpotensi menjadi lebih kuat manakala tidak ada bimbingan atau pengawasan ketika belajar di rumah masing-masing.

Mereka kehilangan “mitra curhat” antar-teman sebaya. Lebih dari itu, mekanisme belajar dari rumah telah mengubah pula jadwal kegiatan dari para orangtua murid yang harus turut mengawasi anak-anaknya dalam mengikuti program pelajaran di rumah. Tidak cukup hanya mempersiapkan anak-anak untuk bangun pagi dan persiapan mengikuti pelajaran sekolah, akan tetapi juga turut serta dalam proses membimbing dalam mengikuti tata cara pelajaran “online” dalam memandu anak mengikuti pelajarannya.

Pola pembelajaran dari rumah ini akan bagus jika dilaksanakan dengan pengaturan dan pengendalian yang bagus, capaian mata pelajaran berupa pembentukan karakter harus ditransfer pada orang tua supaya orang tua juga bisa mentransfer kepada anak meskipun metodenya berbeda.

Baca juga:  Meningkatkan Kemampuan Menulis Teks Recount melalui Metode PaP

Pendidikan dari orang tua berpotensi mendapatkan hasil yang lebih bagus sebab orang tua biasanya lebih mengetahui anaknya dan berinteraksi lebih intens.

Ketidakjelasan dalam pola pengajaran akan berdampak negatif pada anak terutama pada pola hidup dan perkembangannya yang tak berjalan sebagaimana harusnya. Demikian halnya apabila hal ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama, maka secara emosi perkembangan anak didik nantinya akan sangat berbeda bila dibandingkan dengan perkembangan anak didik yang mengikuti mekanisme belajar tatap muka.

Belum juga dapat diramalkan apakah ada dampak negatif dari mekanisme sekolah di rumah bagi anak didik nantinya. Dengan berjalannya waktu maka model dari sekolah di rumah akan menjadi objek yang menarik bagi sebuah penelitian yang bertujuan untuk peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya.

Baca juga:  Video Animasi Tingkatkan Kemampuan Pemahaman Cerita Bima Bungkus

Harapannya adalah, semoga wabah Covid-19 ini akan dapat cepat berlalu, sehingga mekanisme proses belajar mengajar akan dapat kembali seperti semula. Pilihan lainnya, bisa saja akan tercipta metoda pendidikan sekolah anak-anak yang merujuk kepada Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Pertanyaannya adalah apakah AKB akan berwujud tetap bersekolah dari rumah atau sekolah di ruang gedung sekolah yang disesuaikan dengan protokol kesehatan, pakai masker, jaga jarak dan sering cuci tangan sebelum dan setelah kegiatan. (ti1/lis)

Guru SMP Negeri 1 Doro, Kabuupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya