alexametrics

Asyik Belajar Rukun Iman dengan Games

Oleh : Nailul Minah, S.Pd.I

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Peserta didik dalam mengikuti pembelajaran membutuhkan kebebasan yang tetap menerapkan kedisiplinan. Pendekatan pembelajaran yang disampaikan seorang guru secara klasikal dan monoton seakan membuat aktifitas dan kreatifitas peserta didik sirna. Peserta didik tidak akan memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya dan mengeksplorasi isi materi yang disampaikan oleh gurunya. Selain berdampak terhadap rendahnya motivasi peserta didik dalam pembelajaran, juga akan membuat pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran turut menurun. Permasalahan ini juga dialami dalam pembelajaran di SDN 02 Pekiringanalit Kajen Kabupaten Pekalongan.

Kemampuan guru untuk menyajikan dan menampilkan model pembelajaran yang menarik dan menggembirakan bagi peserta didik menjadi tantangan tersendiri. Pelibatan peserta didik mengungkapkan ekspresinya dalam mengembangkan pemahaman terhadap materi pembelajaran harus menjadi titik fokus pemilihan model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang menarik dan dapat digunakan sebagai alternatif adalah Teams Games Tournaments (TGT). Model pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT) adalah model pembelajaran kooperatif yang memungkinkan guru membantu peserta didik mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berpikir, dan mengekspresikan ide melalui game dan turnamen.

Baca juga:  Tingkatkan Belajar Kimia dengan LC 5E Mandiri

Shoimin (2014:203) menjelaskan model pembelajaran TGT merupakan model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh peserta didik tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran peserta didik sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Implementasinya Model pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT) terdiri dari lima tahapan yaitu pertama penyajian kelas (class precetation), guru menyampaikan materi, tujuan pembelajaran, pokok materi, dan penjelasan singkat dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah. Peserta didik harus benar-benar memahami materi untuk membantu mereka dalam kerja kelompok maupun game.

Tahapan kedua belajar dalam kelompok (teams), caranya guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota antara 4 sampai 5 orang yang bersifat heterogen. Kelompok ini bertugas mempelajari lembar kerja, dengan mendiskusikan masalah-masalah, membandingkan jawaban, memeriksa, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan konsep temannya jika teman satu kelompok melakukan kesalahan. Tahapan berikutnya adalah permainan (games), permainan ini dijalankan pada meja turnamen oleh 3 orang peserta didik yang mewakili tim atau kelompoknya masing-masing. Peserta didik memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Peserta didik yang menjawab benar akan mendapat skor yang digunakan untuk turnamen atau lomba mingguan. Pertandingan (tournament) menduduki tahapan ke empat. Pada tahapan ini dilakukan dengan membagi peserta didik ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga peserta didik tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga peserta didik selanjutnya pada meja II, dan seterusnya.

Baca juga:  Pengembangan HOTS Siswa SD melalui Pembelajaran Jaring Laba-Laba

Tahapan kelima atau terakhir yaitu penghargaan kelompok (team recognition). Guru mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing kelompok akan mendapat hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Penulis sekaligus guru Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 02 Pekiringanalit menerapkan model TGT pada pembelajaran Rukun Iman di kelas satu semester 1 yang ternyata dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik secara signifikan. (ti1/ton)

Guru SD Negeri 02 Pekiringanalit Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya