alexametrics

Pembelajaran IPS Sukses dengan Jigsaw

Oleh: Peny Lestari, S.E

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kegiatan pembelajaran adalah proses interaksi antara pendidik dan peserta didik yang melibatkan perasaan dan emosi. Kegiatan tersebut berlangsung berulang-ulang sehingga dapat menimbulkan kebosanan pada kedua belah pihak. Dikarenakan kegiatan tersebut monoton dan begitu-begitu saja. Kebosanan dan kejenuhan tersebut menjadi masalah ketika ikut andil bagian dalam pencapaian hasil belajarnya. Hasil belajar yang tidak memenuhi target yang telah ditetapkan adalah sebuah masalah yang harus dicari solusinya.

Untuk menghindarkan terjadinya kejenuhan dan kebosanan pada proses pembelajaran, seorang guru harus bisa memetakan materi yang diajarkan dan menyesuaikannya dengan metode ataupun tehnik yang digunakan.

Seperti yang penulis alami di sekolah penulis, SMPN 3 Sragi Kabupaten Pekalongan. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana format yang efektif dan efesien dalam pembelajaran IPS di kelas 9 sehingga siswa menjadi tertarik, antusias, dan nilai belajarnya tinggi. Pembelajaran sebagaimana diungkapkan oleh E. Mulyasa (2013:12) yaitu pembelajaran pada hakikatnya adalah interaksi pendidik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Untuk itu dibutuhkan metode pembelajaran yang memiliki kesesuaian dengan materi, keadaan siswa, tujuan pembelajaran, dan lingkungan yang mencukupi.

Baca juga:  Pelajari Kolonialisme dan Imperialisme dengan Kartu Berpasangan Berbantu

Atas dasar tersebut penulis mencoba apakah metode jigsaw tepat dan sesuai untuk digunakan dalam pembelajaran materi Dinamika penduduk benua-benua di dunia. Materi tersebut adalah salah satu materi IPS kelas 9 semester gasal. Sedangkan Metode Jigsaw sendiri adalah tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Elliot Aronsons (1970). Metode ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain.

Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan tapi juga siap mengajarkan materi tersebut pada kelompoknya. Pada metode ini keaktifan siswa (student centered) sangat dibutuhkan, dengan dibentuknya kelompok-kelompok kecil beranggotakan 3-5 orang yang terdiri dari kelompok asal dan kelompok ahli.

Penerapan metode tersebut adalah sebagai berikut. Guru mengelompokkan siswa ke dalam kelompok kecil sebanyak materi atau subbab yang akan dibahas. Selanjutnya, setiap orang dalam tim tersebut diberi materi yang berbeda. Kemudian anggota tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian ataupun subbab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli setiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang dikuasai dan setiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Baca juga:  Belajar Matematika Bersama Alam Menjadi Lebih Mengasyikan

Dilanjutkan dengan tim ahli mempresentasikan hasil diskusinya. Sebelum ditutup, guru memberikan kesimpulan, mengevaluasi, mengapresiasi, dan memberikan tindak lanjut.

Dari penerapan metode Jigsaw sesuai dengan skenario yang telah penulis susun, dan dilaksanakan selama 2 siklus, didapatkan hasil yang cukup menggembirakan. Pada akhir pertemuan ke 3 siswa yang lulus KKM berjumlah 20 siswa atau 68 persen dengan nilai rata-rata kelas 72, 15. Hal tersebut tentu saja menggembirakan apabila dibandingkan dengan hasil penilaian formatif materi sebelumnya, hanya 11 siswa yang memperoleh nilai di atas KKM atau hanya sekitar 25 persen dari jumlah siswa dengan rata-rata sebesar 54,75. Selain itu, dari pengamatan yang penulis lakukan, terlihat keaktifan siswa lebih baik dari pembelajaran sebelum menggunakan metode ini.

Baca juga:  Media Power Point Efektif untuk Pembelajaran dengan Microsoft Teams

Dari uraian penulis di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode Jigsaw dapat diterapkan guna meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi Dinamika penduduk benua-benua di dunia. Metode ini dapat juga diterapkan pada materi IPS yang lain, semisal pembahasan tentang materi pengaruh globalisasi dan lainnya. Tapi tidak menutup kemungkinan para guru menerapkan metode yang lain yang sesuai dengan kondisi kelas. Dengan segala kreatifitasnya, dimungkinkan bagi para guru untuk menciptakan metode-metode yang lain. Sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan maksimal. (bp1/lis)

Guru IPS SMPN 3 Sragi, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya