alexametrics

Serunya Belajar Persatuan dalam Perbedaan dengan Metode PBL

Oleh : Zulaecha S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARASEMARANG.ID, Membuat siswa merasa senang dan termotivasi dalam belajar memang tidak mudah karena ada beberapa faktor penyebabnya. Mulai guru yang tidak siap media pembelajarannya, metode yang tidak tepat, pendekatan yang tidak sesuai, materi yang sulit dan fasilitas yang tidak memadai. Penulis juga mengamati hal tersebut terjadi di SD Negeri Sidorejo, Kecamatan Tirto. Banyak siswa yang mengantuk dan tidak serius dalam mengikuti pembelajaran.

Untuk mengatasi hal tersebut, penulis lebih menekankan persoalan metode, maka untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan memotivasi siswa, penulis melakukan pembelajaran dengan metode Project Based Learning (PBL) dalam materi persatuan dalam perbedaan di kelas VI SD Negeri Sidorejo, Kecamatan Tirto.

Model pembelajaran ini dapat digunakan ketika guru yang ingin mengondisikan pembelajaran aktif yang berpusat pada siswa. Dengan model PBL ini, dapat membudayakan berpikir tingkat tinggi (high order thinking/HOT) dalam mengimplementasikan pembelajaran saintifik (Mengamati, Mengasosiasi, Mencoba, Mendiskusikan, dan Mengkomunikasikan) serta pembelajaran abad 21 (4C: Critical thinking, Collaboration, Creative, Communication).

Baca juga:  Model Pembelajaran Membaca Intensif dengan Teknik Scramble

Materi persatuan dalam perbedaan di kelas VI di SD Negeri Sidorejo Tirto ini memiliki kompetensi dasar siswa mampu memahami persatuan dalam perbedaan, menyebutkan persatuan dalam perbedaan. Serta memiliki indikator siswa mampu memahami bentuk nyata dari persatuan dalam perbedaan dan mampu menyebutkan contoh–contoh yang bisa ditemui secara langsung dilingkungan sekitar baik ditonton secara langsung atau di televisi.

Langkah-langkah model pembelajaran PBL, pertama, membuka pelajaran dengan suatu pertanyaan menantang. Misalnya coba tunjukkan peristiwa persatuan dalam perbedaan itu seperti apa, apa itu perbedaan, apa itu persatuan, kenapa harus bersatu dalam perbedaan, dan lain lain. Kedua, merencanakan proyek. Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dengan siswa. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial dengan mengintegrasikan berbagai subjek yang mendukung, serta menginformasikan alat dan bahan yang dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan proyek. Ketiga, menyusun jadwal aktivitas. Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Waktu penyelesaian proyek harus jelas, dan siswa diberi arahan untuk mengelola waktu yang ada. Keempat, mengawasi jalannya proyek. Guru bertanggung jawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas siswa selama Menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara memfasilitasi siswa pada setiap proses. Kelima, penilaian terhadap produk yang dihasilkan. Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing siswa, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai oleh siswa, serta membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya. Terakhir, keenam, evaluasi. Pada akhir proses pembelajaran, guru dan siswa melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan.

Baca juga:  Implementasikan Aplikasi Random Generator untuk Belajar PPKn

Penulis menemukan keunggulan penerapan model PBL di SD Negeri Sidorejo Tirto kelas VI (enam), meningkatkan motivasi belajar siswa untuk belajar mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting, dan mereka perlu dihargai, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, membuat siswa menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks, meningkatkan kolaborasi, mendorong siswa untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi, meningkatkan keterampilan siswa dalam mengelola sumber, memberikan pengalaman kepada siswa pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas dan menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan siswa secara kompleks dan dirancang berkembang sesuai dunia nyata. (ce1/ida)

Baca juga:  E-Learning dengan Media Web Tingkatkan Hasil Belajar Siswa

Guru SDN Sidorejo, Kecamaran Tirto, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya