alexametrics

Fotografi untuk Belajar Perubahan Akibat Interaksi Antarruang

Oleh: Sugeng Triatmono, SE

Artikel Lain

RADARASEMARANG.ID, KEGIATAN pembelajaran IPS dapat menggunakan berbagai macam sumber dan media. Salah satunya menggunakan fotografi. Pada SMP Negeri 2 Mrebet Purbalingga digunakan fotografi untuk mempejari materi perubahan akibat interaksi antarruang. Materi perubahan akibat interaksi atarruang menuntut siswa untuk dapat mengidentifikasi perubahan ruang yang terjadi di sekitarnya. Idealnya siswa diajak belajar langsung mengamati lingkungan sekitarnya. Keterbatasan waktu terkadang menjadi faktor penghambat. Fotografi menjadi alternatif untuk mengatasi permasalahan yang terjadi.
Guru memberikan tugas individu kepada siswa. Masing-masing siswa disuruh memfoto obyek-obyek yang terdapat di sekitar tempat tinggal siswa. Obyek yang di foto seperti : sarana prasarana, aktivitas masyarakat, penggunaan lahan, kenampakan budaya, dan obyek lainnya yang mengalami perubahan. Setiap siswa minimal menghasilkan dua buah foto. Setiap foto disertai keterangan nama obyek, lokasi, dan waktu pengambilan foto. Foto dicetak dalam kertas hvs. Foto tersebut dibawa pada saat dilaksanakan pembelajaran materi perubahan akibat interaksi antarruang.

Baca juga:  Konsistensi Pembelajaran IPS di Tengah Pandemi Covid-19

Guru menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Yang terdiri dari : lcd proyektor, laptop, gunting, kertas manila, lem kertas, spidol berbagai warna, dan lakban. Seperti biasa guru melakukan apersepsi dan pendahuluan. Termasuk penyampaian informasi tentang kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru menayangkan video singkat tentang suasana kota Jakarta di tahun 1980an. Siswa disuruh menunjukkan foto yang dibawa dari rumah. Guru membagi kelompok heterogen. Jumlah setiap kelompok rata-rata lima orang siswa. Semua kelompok menyiapkan diri di tempat yang ditentukan. Guru membagikan alat dan bahan yang diperlukan. Dilanjutkan dengan pemberian lembar kerja kelompok.

Setiap kelompok untuk mengamati setiap foto. Siswa berdiskusi untuk mendeskripsikan setiap foto yang diamati. Deskripsi yang dibuat menerangkan perubahan yang dimungkinkan terjadi obyek tersebut. Seluruh foto ditempelkan pada kertas manila. Kertas manila diberi keterangan nama kelompok dan anggotanya. Setiap kelompok memajangkan hasil karya di areal kelas. Pemajangan hasil karya diberi jarak antara satu dengan lainnya.

Baca juga:  Mind Mapping Tingkatkan Hasil Belajar Siswa

Aktifitas kelompok berikutnya adalah kunjung karya. Setiap kelompok menyisakan satu anggota untuk menunggu di dekat karya masing-masing. Satu orang tersebut bertugas memberikan informasi terhadap kelompok lain yang berkunjung. Anggota yang lain melakukan kunjungan menuju kelompok laninya. Pada saat berkunjung mengamati dengan seksama karya kelompok lainnya. Pengamatan dapat disertai dengan wawancara. Hal-hal baru yang ditemukan untuk dicatat. Setiap kelompok dipersilahkan kembali bergabung dengan kelompoknya.

Hasil kunjung karya dikumpulkan dan didiskusikan. Hal-hal baru yang didapatkan dicatat dalam lembar kerja kelompok. Secara bergantian setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi. Kelompok yang lain memberikan mengkritisi. Guru bersama siswa membuat simpulan. Evaluasi, refleksi, dan penutup menjadi bagian akhir dalam kegiatan pembelajaran.

Baca juga:  Menulis Teks Berita dengan Metode Naturale Learning

Fotografi dapat dimanfaatkan dalam mempelajari perubahan akibat interaksi antarruang. Foto yang dihasilkan membantu siswa menemukan bentuk-bentuk perubahan. Siswa menemukan perkembangan pusat-pusat pertumbuhan. Adanya peningkatan sarana-prasarana di sekitar temapat tinggal siswa. Berkurangnya lahan pertanian dan buruh tani di desa. Dan yang menarik munculnya fenomena pamongpraja (papa momong mama kerja). Fakta-fakta tersebut menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. (fbs2/zal)

Guru IPS SMPN 2 Mrebet, Purbalingga.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya