alexametrics

W2C Mempermudah Menulis Descriptive Text

Oleh : Rustita Miarti S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Keterampilan berbicara (speaking skill) dalam bahasa Inggris merupakan suatu keterampilan seseorang untuk menyampaikan hasrat dan pemikirannya kepada siapa saja melalui lisan. Keterampilan harus dilatih secara terus menerus. Tujuannya untuk memperlancar keterampilan speaking, memperkaya penggunaan kosa kata, memperbaiki tatanan berbahasa, menyempurnakan ucapan-ucapan kosa kata, kalimat-kalimat bahasa Inggris, dan melatih pendengaran sehingga mudah menangkap pesan dari lawan bicara.

Keterampilan menulis (writing skill) merupakan keterampilan berbahasa aktif dan merupakan kemampuan puncak terampil berbahasa. Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang sangat kompleks. Kompleksitas menulis terletak pada tuntutan kemampuan untuk menata dan mengorganisasikan ide secara runtut dan logis, serta menyajikannya dalam ragam bahasa tulis yang baik. Goatly (2000:2) menyatakan bahwa writing is analysis which can help to clarify the concept and give practice in applying them to the production of texts. Bahkan White (2001:17) menambahkan “…when writing faced with prospect”.

Baca juga:  Online Games Atasi Kejenuhan Siswa Belajar Kosa Kata secara Daring

Menulis bahasa inggris adalah salah satu momok bagi siswa di SMP Negeri 4 Sragi. Padahal menulis adalah merupakan kecakapan “productive”. Artinya menulis merupakan salah satu bukti fisik yang dapat digunakan sebagai alat ukur kemampuan berbahasa siswa. Menurut Alwasilah (2003:77) ada beberapa hal sebagai penyebabnya seperti:1) tidak menguasai persoalan 2) tidak mengetahui cara menulis 3) tidak mampu menulis. Artinya tiga hal ini akan cenderung membuat siswa tidak melanjutkan tulisannya. Karena takut salah dan dinilai rendah dimata orang lain. Hal ini sejalan dengan pendapat White (2001:17) yang mengatakan bahwa “One of the scariest parts of writing is the sense of being exposed…” Maksudnya seseorang takut diketahui oleh pembaca atau orang lain akan kesalahan dan kelemahannya dalam menuliskan idenya.

Baca juga:  Layanan Bimbingan Klasikal dengan Game Edukasi Online Wordwall

Melihat kondisi tersebut, untuk membantu mengurangi kesulitan belajar siswa tersebut, penulis ketika mengajarkan descriptive text mencoba menerapkan sebuah model pembelajaran W2C atau what, what is it for, dan conclusion (So, It + something + 2) yang penulis adopsi dari Parman Hasibuan. Langkah-langkah dalam pembelajaran dengan model W2C ini adalah disajikan sebuah benda, maka siswa mengidentifikasi benda tersebut. Langkah 1: What is it? Apabila bendanya tunggal What are they? Apabila bendanya lebih dari satu atau jamak. Langkah 2: What is it for? Untuk Benda tunggal What are they for? Untuk Benda jamak. Langkah 3: So, what is a/an …(Benda yang dimaksud) ? untuk benda tunggal So, what are …(benda-benda yang dimaksud) untuk benda jamak. Langkah 4: Menentukan Relative Pronoun … (benda dimaksud) is…something which is used… Benda tunggal …(benda-benda dimaksud) are … things which are used… benda jamak Contoh: benda didepan siswa “Computer” (benda tunggal/satu) L1: Teacher (T) :What is this?Siswa mengamati mencari ciri-ciri benda, membuka kamus bila perlu. Kemudian, Student/s (S/Ss) :Computer L2: T: What is a computer for? Berproses, buka kamus, sampaikan ide secara sederhana S/Ss: for processing data. L3: T: So, what is a computer? L4: S/Ss : A computer is something which is used for processing data (https://e-journal.upp.ac.id/index.php/EDU/article/view/882).

Baca juga:  Mudah Belajar Ekosistem dengan Metode Pembelajaran Discovery Learning

Dengan pembelajaran menggunakan model W2C ini, ternyata siswa merasa enjoy dan senang. Karenanya model W2C ini dapat diterapkan dan dikembangkan dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk materi writing. (bp1/ton)

Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 4 Sragi Kab. Pekalongan.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya