alexametrics

Discovery Learning Tingkatkan Pembelajaran Zakat Fitrah dan Zakat Mal

Oleh : Moh Miftachudin S.Ag

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PROSES pembelajaran Pendidikan Agama, terutama materi zakat fitrah dan zakat mal, terkadang ditemui anak yang dinilai sangat lamban dalam berpikir. Hal tersebut dimungkinkan, anak itu kurang berbakat dalam pembelajaran agama. Ketika anak yang lainnya dapat menyelesaikan soal dengan cepat, anak yang kurang berbakat menyelesaikan soal tersebut dengan waktu yang lama. Karena itu, yang memungkinkan untuk mencapai prestasi diperlukan latihan, pengetahuan, pengalaman dan motivasi agar bakat dapat terwujud.

Semiawan dkk (1990:6) mengemukakan, setiap anak mempunyai bakat–bakat tertentu hanya berbeda dalam jenis dan derajatnya. Untuk itu bakat dan kreativitas perlu ditumbuhkan pada diri setiap anak.
Pengalaman penulis, dalam pembelajaran pendidikan agama terutama menghitung zakat fitrah dan zakat mal di kelas IX SMP Negeri 6 Taman, Kabupaten Pemalang tergolong rendah. Karena banyak siswa yang belum mencapai tuntas KKM secara klasikal. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan bakat serta kreativitas anak dalam pembelajaran agama, perlu guru menciptakan dengan menggunakan metode yang tepat. Pemilihan metode yang tepat dalam pembelajaran agama, sangat banyak untuk menunjang kreativitas anak, sehingga dapat berpikir logis dan sistematika. Penulis mencoba menggunakan metode discovery learning dengan harapan adanya peningkatan bakat dan kreativitas peserta didik di SMPN 6 Taman, Kabupaten Pemalang.

Baca juga:  Asyiknya Belajar Membaca dengan Buku Digital pada Pembelajaran Daring

Pembelajaran discovery learning merupakan suatu trik pembelajaran dimana peserta didik menentukan sendiri memiliki jawaban atas soal–soal yang diberikan (Widyastini, 2001:18). Dalam metode ini, bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk jadi, tetapi seperempat atau setengah jadi. Adapun langkah-langkah yang penulis praktikkan dalam pembelajaran di sekolah, yaitu 1) tingkat discovery penuh. Dalam hal ini, peserta didik memiliki kebebasan penuh untuk menentukan bahan dan bentuk kegiatan yang dilakukan. 2) Pengarahan pada tingkat pemikiran peserta didik. 3) Pemberian instruksi yang pelaksanaannya diserahkan kepada peserta didik. 4) Guru memberikan sejumlah persoalan setelah itu peserta didik membuat dan mencari generlisasi spesifikasi. 5) Guru memberikan pengarahan tentang spesifikasi dan peserta didik diminta mencari contoh atau menemukan pemecahan sendiri, dan 6) guru memberikan penjelasan kemudian peserta didik diminta untuk menggunakan lagi kegiatan berikutnya.
Proses pembelajaran kompetensi dasar menghitung zakat fitrah dan zakat mal pada peserta didik di SMPN 6 Taman, Kabupaten Pemalang, guru hanya berperan sebagai pemberi instruksi. Pelaksanaannya diserahkan kepada peserta didik. Model pembelajaran discovery learning diawali dengan guru memberikan sejumlah persoalan kepada peserta didik secara kelompok. Peserta membuat dan mencari generalisasi dan spesifikasi dan pemecahan. Guru juga dapat memberikan pengarahan tentang suatu generalisasi atau spesifikasi lalu peserta didik diminta mencari contoh–contoh dan pemecahan sendiri.

Baca juga:  Peningkatan Kecakapan Akademik Matematika dengan Reciprocal Teaching

Dalam proses pembelajaran discovery learning siswa terbukti adanya peningkatan. Aktivitas belajar peserta didik, yang meliputi keaktifan, tanggung jawab, kerja sama, percaya diri dan kesungguhan peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran, sehingga terbukti adanya peningkatan siswa dalam kompetensi menghitung zakat fitrah dan zakat mal. (db2/ida)

Guru PAI SMPN 6 Taman, Kabupaten Pemalang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya