alexametrics

Belajar Alquran Lebih Mudah dengan Ketukan

Oleh : Hadi Rosyadi, S.Ag.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Salah satu dari keistimewaan Alquran adalah membacanya dinilai sebagai ibadah, bahkan di hari kiamat nanti akan menjadi Syafaat (penolong) bagi pembacanya. Membaca Alquran wajib mengikuti aturan-aturan yang telah diterangkan dalam Ilmu Tajwid.

Dalam artikel ini saya akan memperkenalkan cara mengajar Alquran di SMPN 4 Kepil dengan metode pembelajaran yang praktis, yaitu dengan metode ketukan. Mengapa mengajar Alquran pakai ketukan, karena dengan ketukan anak lebih mudah memahami panjang dan pendeknya bacaan sesuai dengan Ilmu Tajwid.

Ketukan dalam seni musik dikenal dengan tanda birama artinya ketukan yang dilakukan secara berulang-ulang dengan tertur dalam waktu yang sama yang penulisannya dibatasi garis-garis vertikal. Musik atau lantunan lagu yang diiringi ketukan atau tanda birama akan menjadi dinamis dan indah.

Ketukan bisa diterapkan dalam membaca Alquran sebagai titian atau pegangan dalam pengucapan huruf-huruf Hijaiyyah secara perlahan dan pas. Setiap huruf dibaca satu ketukan, kecuali padam huruf Alquran yang harus dibaca panjang karena suatu sebab bertemu dengan huruf mad (alif, wau, dan ya).

Baca juga:  Supervisi Akademik Pengawas “PEMALAS” Genjot Efektivitas Pembelajaran

Pada awal pengenalan huruf Hijaiyyah setiap huruf berharakat dibaca satu ketukan dengan diberi aba-aba satu dua tiga dan pada hitungan ke empat adalah bunyi huruf hijaiyyah, kemudian di antara huruf-huruf berikutnya aba-abanya cukup satu dua dan hitungan ke tiganya adalah bunyi huruf hijaiyyah Contoh “…a..ba..ta..tsa dan seterusnya ” begitu juga huruf Hijaiyyah yang berharakat kasrah atau dlumah.

Pada huruf yang bersambung atau kata (kalimat dalam bahasa Arab) sama seperti pada pengenalan huruf hijaiyyah diawali dengan aba-aba satu dua tiga dan pada hitungan ke empat langsung membunyikan huruf yang pertama kedua dan ketiga atau ke empat tanpa diselingi aba-aba lagi, aba-aba hanya pada permulaan saja, ketukan sebagai sandaran membunyikan huruf. Contoh “…ba ya na”, “…ja ma la”.” …la ba da”.

Baca juga:  Metode Pembelajaran “Dibali Makan Duri Dilagukan”

Dalam mengajarkan bacaan Mad Thobi’i atau mad asli, yaitu bila huruf hijaiyah diikuti huruf mad (alif, wau, dan ya’) sesuai dengan ketentuan Ilmu Tajwid dibaca panjang dua ketukan. Contoh : “…baa, …taa, …tsaa, …bii, …tii, …tsii, …buu,…tuu, …tsuu .

Pada hukum bacaan mad far’i seperti mad badal, mad ‘iwadl, mad shilah qashirah, mad lazim harfi musyba’ maka cara menerapkan ketukan sama dengan penerapan pada mad thobi’i. Misalnya pada bacaan mad badal; “…aa ma nuu wa athii ’uu”, Mad Iwadl; “…sa laa many sa laa maa, Bacaan mad Shilah Qosiroh; “… la huu maa fis sa maa waa ti”, dan Mad Lazim Harfi Mukhoffaf; “… Thoo haa”.

Penerapan ketukan pada bacaan Mad Lazim mutsaqqol Kilmi, Mad Lazim Mukhoffaf Kilmi, Mad lazim harfi Mutsaqqal dan Mad ‘Aridl yang harus dibaca enam harakat, maka ketukannya harus sama. Misalnya pada Mad Lazim Mutsaqqol Kilmi; “…Wa ladl dloooooo lliiiiiin”, Mada Lazim Mukhoffaf Kilmi; “… Aaaaaaal aa na”, Mad Lazim Harfi Mutsaqqol; “…Shooooood e”, dan pada Mad ‘Aridl ini boleh dibaca dua harokat atau enam harokat.

Baca juga:  Pembelajaran Materi Peredaran Darah Manusia dengan Bermain Peran

Pada bacaan Mad Wajib yang panjang bacaanya lima harokat, maka cara membacanya juga lima ketukan contoh; “wal malaaaaa i ka tu”, sedangkan pada bacaan Mad Jaiz Munfashil boleh dibaca dua atau lima ketukan.

Di dalam bacaan Idzhar yang harus dibaca jelas maka cara menerapkannya hanya satu ketukan contoh; “Man aa ma na”, pada lafal yang mengandung bacaan ikhfa’, ghunnah, idghom mimi maka cara menerapkannya dua ketukan.

Dengan menggunakan ketukan para peserta didik di SMPN 4 Kepil lebih antusias dan senang di dalam membaca Alquran, karena lebih mudah memahami panjang dan pendeknya bacaannya. (fbs1/ton)

Guru PAIBP SMPN 4 Kepil Wonosobo

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya