alexametrics

Permudah Belajar Jaringan Meristem dengan Discovery Learning Berbantuan GC

Oleh: Yusriyati, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARNG.ID, Pembelajaran melalui daring dengan berbagai media baik Whatsapp, Google Classroom dan Google Meet menjadi tantangan bagi para guru dalam mentransfer ilmunya ke siswa. Meskipun demikian, berbagai kendala masih banyak ditemukan antara lain akses internet yang sulit, kuota yang terbatas, serta kejenuhan yang dialami oleh guru maupun siswa. Di sisi lain, mata pelajaran IPA kelas VIII pada materi jaringan meristem masih dianggap sulit oleh siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Semarang. Kondisi seperti ini tentunya sangat tidak diharapkan dalam proses belajar mengajar dan perlu dicarikan solusi pemecahan masalahnya.

Untuk mengatasinya, penulis mengupayakan solusinya melalui penerapan model pembelajaran discovery learning berbantuan GC (Google Classroom). Google Classroom merupakan aplikasi yang mudah digunakan dan tidak berbayar. Pembelajaran dengan menggunakan media Google Classroom membantu proses belajar siswa. Kelebihan Google Classroom adalah siswa dapat mengulang materi dan dapat dibuka setiap saat. Google Classroom akan sangat membantu siswa untuk mengulang pelajaran di rumah. Selain itu, dalam Google Classroom terdapat fitur chat yang dapat memberikan pembelajaran dan pengalaman melakukan diskusi dengan bahasa yang baik.

Baca juga:  Pembelajaran Daring Reproduksi Manusia dengan Video Pembelajaran

Syah berpendapat (2004:244) dalam mengaplikasikan metode discovery learning ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan sebagai berikut: pertama stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan). Pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan masalah agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Di samping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Dua problem statement (identifikasi masalah). Yaitu guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah). Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis. Tiga data collection (pengumpulan data).

Baca juga:  Asyiknya Menggunakan Congklak untuk Bilangan Loncat

Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Dengan demikian, secara tidak disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Empat data processing (pengolahan data). Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, dan ditabulasi. Lima verification (Pembuktian). Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing. Verification bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Enam generalization (menarik kesimpulan/generalisasi).

Baca juga:  Pembelajaran Inovatif Guna Meningkatkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0

Tahap generalisasi/menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.

Melalui penerapan metode discovery learning berbantuan GC, proses dan hasil pembelajaran IPA pada materi Jaringan Meristem pada siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Semarang diharapkan tercapai lebih optimal. (ips2.2/lis)

Guru IPA SMP Negeri 17 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya