alexametrics

Motivasi Pembelajaran Salat melalui Metode STAD

Oleh : Suhaemi, S.Pd.I

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan merupakan upaya yang mempunyai sasaran manusia, yang keberhasilannya sangat ditentukan oleh sejauh mana upaya tersebut bersedia dan mampu memperhitungkan aspek-aspek intern, yang terdapat pada diri manusia.

Pendidik PAI BP memiliki tanggung jawab penuh melaksanakan pembelajaran agama terhadap anak didiknya. Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (Slavin, 1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif.

Menurut Slavin (dalam Noornia, 1997: 21) ada lima komponen utama dalam pembelajaran kooperatif metode STAD, yaitu pertama penyajian kelas. Penyajian kelas merupakan penyajian materi yang dilakukan guru secara klasikal dengan menggunakan presentasi verbal atau teks.

Kedua, menetapkan peserta didik dalam kelompok. Kelompok menjadi hal yang sangat penting dalam STAD karena didalam kelompok harus tercipta suatu kerja kooperatif antar peserta didik untuk mencapai kemampuan akademik yang diharapkan. Fungsi dibentuknya kelompok adalah untuk saling meyakinkan bahwa setiap anggota kelompok dapat bekerja sama dalam belajar. Lebih khusus lagi untuk mempersiapkan semua anggota kelompok dalam menghadapi tes individu.

Baca juga:  Serunya Belajar Sikap Rendah hati dengan Metode Picture and Picture

Ketiga, tes dan kuis. Peserta didik diberi tes individual setelah melaksanakan satu atau dua kali penyajian kelas tentang Salat, dan bekerja serta berlatih dalam kelompok. Peserta didik harus menyadari bahwa usaha dan keberhasilan mereka nantinya akan memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kesuksesan kelompok.

Keempat, skor peningkatan individual. Skor peningkatan individual berguna untuk memotivasi agar bekerja keras memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hasil sebelumnya. Skor peningkatan individual dihitung berdasarkan skor dasar dan skor tes.

Kelima, pengakuan kelompok. Pengakuan kelompok dilakukan dengan memberikan penghargaan atas usaha yang telah dilakukan kelompok selama belajar. Kelompok dapat diberi sertifikat atau bentuk penghargaan lainnya jika dapat mencapai kriteria yang telah ditetapkan bersama.

Baca juga:  Belajar Tata Cara Bersuci dengan Metode Demonstrasi

Menurut Slavin (dalam Hartati :1997) cooperative learning mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut: dapat mengembangkan prestasi siswa, baik hasil tes yang dibuat guru maupun tes baku. Rasa percaya diri siswa meningkat, siswa merasa lebih terkontrol untuk keberhasilan akademisnya. Ketiga strategi kooperatif memberikan perkembangkan yang berkesan pada hubungan interpersonal di antara anggota kelompok yang berbeda etnis.

Keuntungan jangka panjang yang dapat dipetik dari pembelajaran kooperatif menurut (Nurhadi : 2004) adalah sebagai berikut : pertama, meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial. Kedua memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan-pandangan.Ketiga,Memudahkan siswa melakukan penyesuaian. Keempat, memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen. Kelima, menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri dan egois. Keenam, membangun persahabatan yang dapat berkelanjutan hingga masa dewasa. Ketujuh, berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dapat dipraktikkan. Kedelapan, meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia. Kesembilan, meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perspektif.

Baca juga:  Penerapan Think Pair Share pada Iman kepada Rasul

Sedangkan keuntungan model pembelajaran kooperatif metode STAD untuk jangka pendek menurut (Soewarso : 1998) model pembelajaran kooperatif membantu siswa mempelajari isi materi pelajaran yang sedang dibahas. adanya anggota kelompok lain yang menghindari kemungkinan siswa mendapat nilai rendah, karena dalam tes lisan siswa dibantu oleh anggota kelompoknya.

Pembelajaran kooperatif menjadikan siswa mampu belajar berdebat, belajar mendengarkan pendapat orang lain, dan mencatat hal-hal yang bermanfaat untuk kepentingan bersama-sama. (bp1/lis)

Guru PAI BP SDN 02 Gumawang, Wiradesa

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya