alexametrics

Efektifitas PBL dalam Pembelajaran Matematika

Oleh: Nelly Handayani Eka Putri, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran matematika di SMP selama ini masih didominasi oleh pembelajaran konvensional. Siswa diposisikan sebagai objek pembelajaran, siswa dianggap tidak tahu atau belum mengerti apa-apa. Sementara guru memposisikan diri sebagai seorang yang mempunyai pengetahuan. Sehingga guru terkesan menggurui dan memiliki otoritas tertinggi dalam proses pembelajaran.
Kenyataan di lapangan, siswa hanya menghafal konsep dan kurang mampu menggunakan konsep tersebut jika menemui masalah dalam kehidupan nyata yang berhubungan dengan konsep yang dimiliki (Trianto, 2011 : 65). Pemahaman yang dimaksud ini adalah pemahaman siswa terhadap dasar kualitatif di mana fakta-fakta saling berkaitan dengan kemampuannya untuk menggunakan pengetahuan tersebut dalam situasi baru. Sebagian besar siswa kurang mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dimanfaatkan /diaplikasikan pada situasi baru. Boud dan Margetson (Rusman, 2012 : 230) mengatakan pembelajaran berbasis masalah (BM) adalah inovasi yang paling signifikan dalam pendidikan.

Baca juga:  Belajar Seleksi Alam Menyenangkan dengan Metode Praktikum Menggunakan Biji-Bijian

BM membantu meningkatkan perkembangan keterampilan belajar dalam pola pikir yang terbuka, reflektif, kritis, dan belajar aktif.

Langkah-langkah dalam pengajaran PBL terjadi dalam 5 fase seperti yang dikemukakan oleh Ibrahim dan Nur (Rusman 2012 : 243). Yang pertama mengorientasikan siswa pada masalah. Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas yang akan dilakukan. Dalam penggunaan PBL, guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh siswa. Yang kedua mengorganisasikan siswa untuk belajar. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerja sama dan sharing antaranggota. Maka, guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok siswa yang masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda.

Langkah yang ketiga membimbing penyelidikan individu dan kelompok penyelidikan adalah inti dari PBL. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda, namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis dan penjelasan, dan memberikan pemecahan. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yangt sangat penting. Pada tahap ini, guru harus mendorong siswa mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Tujunnya agar siswa mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri.

Baca juga:  WA Grup Meningkatkan Gairah Menulis Descriptive Text dalam Masa Pandemi

Yang keempat mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan hasil karya seperti halnya laporan hasil belajar atau dapat juga mempresentasikannya di depan kelompok lain. Langkah kelima menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Tahap ini merupakan tahap akhir pada PBL.

Dapat dikatakan melalui pendekatan PBL siswa mempresentasikan gagasannya, siswa terlatih merefleksi persepsinya, mengargumentasikan dan mengomunikasikan ke pihak lain sehingga guru pun memahami proses berpikir siswa. Dan guru dapar membimbing serta menginvestasikan ide baru berupa konsep dan prinsip. Dengan demikian, pembelajaran berlangsung sesuai dengan kemampuan siswa dengan siswa menjadi terkondisi dan terkendali (Rusman, 2012 : 245).

Pembelajaran melalui metode pembelajaran PBL merupakan suatu rangkaian pendekatan kegiatan belajar yang diharapkan dapat memberdayakan siswa untuk menjadi seorang individu yang mandiri dan mampu menghadapi setiap permasalahan dalam hidupnya di kemudian hari. Dalam pelaksanaan pembelajaran, siswa dituntut terlibat aktif dalam mengikuti proses pembelajaran melalui diskusi kelompok. Langkah awal dalam pembelajaran PBL dengan mengajak siswa untuk memahami situasi yang diajukan baik oleh guru maupun siswa, yang dimulai dari apa yang telah diketahui oleh siswa. Dalam aplikasinya PBL membutuhkan kesiapan guru dan siswa untuk bisa berkolaborasi dalam memecahkan masalah yang diangkat. Guru harus siap menjadi pembimbing sekaligus tutor bagi para siswa yang dapat memberikan motivasi, semangat, dan membantu dalam menguasai keterampilan pemecahan masalah. (bp1/lis)

Baca juga:  Model Pembelajaran Creative Problem Solving Tumbuhkan Gairah Belajar Matematika

Guru Matematika SMPN 1 Kedungwuni, Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya