alexametrics

KOP TPS Menumbuhkembangkan Keterampilan Menulis Aksara Jawa

Oleh: Tarfiatun, S.Pd., M.Hum

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, AKSARA Jawa atau sering disebut sebagai tulisan jawa dalam pembelajaran Bahasa Jawa menjadi salah satu materi yang sulit untuk dipelajari peserta didik. Hal itupun yang dilihat pada proses pembelajaran Bahasa Jawa di SMA Negeri 11 Semarang, ditemukan fakta bahwa salah satu kesulitan yang dihadapi peserta didik selama belajar Bahasa Jawa adalah kemampuan memahami dan menulis aksara Jawa. Fakta lain menunjukkan masih rendahnya aktivitas dan hasil belajar peserta didik pada materi menulis aksara Jawa. Kegiatan pembelajaran masih bersifat satu arah, walaupun sesekali guru meminta peserta didik untuk mengerjakan soal terkait aksawa Jawa dan menuliskan jawabannya di papan tulis. Akan tetapi secara mayoritas aktivitas belajar peserta didik masih kurang.

Keterampilan menulis aksara Jawa harus ditumbuhkan dan ditingkatkan mengingat pentingnya ketrampilan menulis aksara Jawa adalah kemampuan seseoarang dalam menulis aksara demi aksara (huruf demi huruf) kemudian dirangkai menjadi sebuah ukara (kalimat). Peserta didik terkadang kurang teliti, karena bentuk aksara Jawa sangat mirip satu dengan lainnya. Peserta didik kesulitan untuk menghafal dan memahami kaidah penulisannya.

Baca juga:  Mengajarkan Makna/Pitutur Tembang Macapat melalui Video Pembelajaran

Sebagai guru mata pelajaran Bahasa Jawa di SMA Negeri 11 Semarang, sudah semestinya penulis berusaha untuk mengevaluasi dan memperbaiki proses pembelajaran tersebut. Apabila kondisi tersebut terus dibiarkan dikhawatirkan memberi efek yang kurang baik bagi peserta didik. Penulis kemudian mencoba menerapkan suatu model pembelajaran KOP TPS. KOP TPS merupakan akronim dari Kooperatif Think Pair and Share untuk diaplikasikan pada pembelajaran Bahasa Jawa materi menulis aksara Jawa. Menurut Slavin (Isjoni:2011) pembelajaran kooperatif adalah suatu pembelajaran dimana system belajar dan kerja sama tim dalam satu kelompok-kelompok kecil dilakukan secara kolaboratif, sehingga mampu merangsang peserta didik lebih bersemangat dan bergairah dalam belajar.

TPS merupakan suatu model pembelajaran dimana peserta didik dihadapkan pada situasi rill secara berpasangan dengan temannya. Menurut Ngalimun: 2015 TPS juga merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi peserta didik. Mereka akan berkolaboratif menerapkan sintak-sintak TPS yaitu Think (berpikir), Pair (berpasangan) and Share (membagikan).

Baca juga:  Deotif Mudahkan Pesdik Nembang Macapat

Dalam pelaksanaan KOP TPS, penulis terlebih dahulu meminta peserta didik bergabung dalam masing-masing kelompok. Penulis kemudian memberikan arahan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Memberikan permasalahan untuk didiskusikan (berpikir secara kritis, sistematis, dan logis) peserta didik secara berkelompok, selanjutnya di akhir pembelajaran mereka akan berbagi peran atau tugas dalam menyampikan/mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas secara bergantian.

Penulis meminta setiap peserta didik membuat parikan (tetembungan utawa unen-unen kang nduweni pathokan utawa paugeran ajeg). Penulis memberikan contoh: “Manuk emprit menclok godhong tebu. Dadi murid, sing sregep sinau” ini merupakan tahapan (Think). Pada tahap (Pair) peserta didik bekerja dalam satu kelompok dengan berbagai sumber membuat parikan dalam bentuk aksara jawa dan saling mengoreksi milik teman dalam satu kelompoknya. Kemudian pada tahap terakhir yaitu (Share) peserta didik menuliskannya di papan tulis secara bergantian. Agar anggota kelompok lain bisa melihat hasil kerja kelompoknya.

Baca juga:  Asyiknya Mengenal Pahlawan Kemerdekaan dengan Bermain Peran

Penulis mempercayai bahwa pengalaman belajar dan kreativitas pembelajaran melalui metode pembelajaran seperti KOP TPS sangat perlu dikembangkan. Penerapan KOP TPS di SMA Negeri 11 Semarang ternyata bisa memudahkan peserta didik menguasai keterampilan menulis aksara Jawa. Proses atau kegiatan pembelajaran melibatkan peran peserta didik secara aktif. Peserta didik lebih antusias, merasa senang dan nyaman juga mereka merasa bertanggung jawab pada masing-masing kelompoknya dalam mengikuti pembelajaran, sehingga keterampilan menulis aksara Jawa semakin baik dan hasil belajar juga meningkat. (bp2/zal)

Guru Bahasa Jawa SMAN 11 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya