alexametrics

Meningkatkan Kemampuan Berbicara melalui Role Playing

Oleh : Anita Yuli Widiasari, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar (SD) tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan siswa, namun sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan berbahasa yang mencakup empat aspek. Yaitu, menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Setiap keterampilan ini erat hubungannya dengan keterampilan yang lain.
Pada aspek berbicara misalnya, pembelajaran diarahkan kepada kemampuan siswa untuk berbicara secara efektif dan efisien untuk mengungkapkan ,pikiran, gagasan, perasaan, kritikan, pendapat dalam berbagai bentuk kepada orang lain.

Berdasarkan hasil pengamatan di kelas III SDN Reban Kecamatan Reban Kabupaten Batang keterampilan berbicara siswa masih pasif, tidak mau bertanya, masih ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan. Dengan memahami hal tersebut, dapat diketahui bahwa keterampilan berbicara siswa kelas III masih rendah dan sulit mengomunikasikan informasi yang diperolehnya. Oleh karena itu, guru dapat menanamkan keterampilan berbicara bahasa indonesia dalam suasana bermain dan menyenangkan. Sehingga siswa merasa bahwa pelajaran bahasa Indonesia itu tidak sulit. Metode role playing merupakan salah satu pendekatan yang sesuai untuk mengatasi kemampuan berbicara siswa. Metode role playing dapat diterapkan pada mata pelajaran bahasa Indonesia materi “Menguraikan pesan dalam dongeng”.

Baca juga:  Model Think Pair and Share Tingkatkan Kemampuan Menulis Siswa

Metode role playing (bermain peran) adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati (Syaiful Bahri Djamarah dan Zain, 2008:28).

Model ini bisa menjadi variasi yang bagus karena pada implementasinya pembelajaran ini menuntut siswa untuk berekspresi baik dari segi pikiran maupun perasaan.

Langkah-langkah model pembelajaran role playing (Wicaksono dkk. 2016) yaitu pertama, guru menyusun dan menyiapkan skenario dongeng, serta alat dan kostum yang akan ditampilkan di kelas. Dengan alat dan kostum pembelajaran akan lebih menarik dan menyenangkan.

Kedua, guru membentuk siswa dalam kelompok-kelompok. Jumlah kelompok disesuaikan dengan jumlah peran dalam dongeng. Ke tiga, guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai melalui kegiatan pembelajaran role playing. Ke empat, guru memanggil siswa yang telah ditunjuk untuk memainkan peran sesuai dengan skenario yang telah disiapkan oleh guru. Ke lima, masing-masing siswa berada dalam kelompoknya. Kemudian siswa tersebut melakukan pengamatan pada siswa yang sedang memperagakan skenarionya. Ke enam, guru meminta masing-masing kelompok untuk menyusun dan menyampaikan hasil kesimpulan berdasarkan skenario yang dimainkan oleh kelompok lain. Terakhir, guru menyampaikan kesimpulan dari kegiatan role playing yang dilakukan bersama siswa.

Baca juga:  Asah Nalar Statistik dengan RME Berbasis IT

Berdasarkan kegiatan pembelajaran dengan metode role playing tersebut, terlihat keaktifan dan antusias siswa. Melalui tanya jawab guru dan siswa tentang bermain peran dalam dongeng, terlihat banyak siswa yang menjawab pertanyaan dari guru secara lisan. Sebagian siswa mampu mengemukakan pendapatnya, dan berani mengajukan pertanyaan kepada guru tentang dongeng.

Selain itu, melalui kegiatan bermain peran siswa juga dapat memahami isi dari dongeng dan dapat mengemukakan pesan yang terkandung dalam dongeng. Oleh karena itu, metode role playing sangat disarankan untuk pembelajaran bahasa Indonesia guna meningkatkan kemampuan berbicara dan memahami isi dongeng. (pai2/lis)

Guru SDN Reban, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya