alexametrics

Boneka Tangan Efektifkan Belajar Memahami Dongeng

Oleh: Eliza Agustina Purwaningrum, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SALAH satu materi dalam pembelajaran Tematik muatan Bahasa Indonesia pada Kurikulum 2013 kelas 2 SD/MI adalah memahami isi dongeng. Terutama dongeng tentang binatang atau fabel. Di dalam Buku Siswa, telah disajikan beberapa dongeng untuk dipelajari oleh siswa. Pada panduan mengajar dalam Buku Guru, metode yang digunakan dalam pembelajaran adalah mendengarkan. Guru membacakan dongeng dan siswa mendengarkan. Kompetensi yang ingin dicapai adalah siswa dapat memahami isi dongeng yang dibacakan.

Dalam kenyataannya, ketika guru sedang membacakan dongeng, tak jarang siswa tidak mendengarkan atau justru berbicara sendiri. Salah satu penyebabnya adalah cara guru membacakan dongeng kurang menarik. Apalagi jika guru membacakan dongeng dengan nada yang cenderung datar dan membosankan. Hanya membaca saja, tanpa intonasi dan ekspresi yang sesuai. Padahal aspek itu mendukung pemahaman siswa. Setelah pembacaan dongeng selesai dan siswa ditanya tentang isi dongeng tadi, mereka hanya menjawab tidak tahu atau malah bingung. Akibatnya tujuan pembelajaran menjadi tidak tercapai.

Baca juga:  Asyiknya Menulis Teks Deskripsi melalui Field Trip

Karenanya diperlukan strategi pembelajaran yang menarik agar siswa lebih mudah memahami isi dongeng. Baik dari segi metode maupun media pembelajaran. Penulis selaku guru telah menggunakan salah satu media yang menarik untuk pembelajaran dongeng yaitu boneka tangan. Penggunaan media ini telah diterapkan pada siswa kelas II A MIN 1 Yogyakarta.

Di awal kegiatan, guru mempersiapkan bahan dan alat untuk mendongeng yaitu bacaan dongeng dan boneka tangan. Lalu guru menyampaikan sedikit penjelasan sebagai pengantar sekaligus apersepsi kepada siswa. Guru juga dapat menyampaikan aturan yang disepakati ketika pembacaan dongeng dan macam tugas pembelajaran yang akan dikerjakan oleh siswa.

Sebelum mendongeng, guru sebaiknya menganalisis dahulu banyak tokoh dalam dongeng. Apabila tokohnya agak banyak, maka dapat melibatkan beberapa siswa untuk membantu dalam memerankan tokohnya. Setelah proses persiapan selesai, maka guru dan siswa yang terpilih untuk berperan mulai membacakan dongeng dengan menggunakan boneka tangan. Intonasi dan ekspresi hendaknya diperhatikan agar dongeng yang dibacakan semakin menarik. Guru dapat memberi contoh intonasi dan ekpresi yang sesuai kepada siswa.

Baca juga:  Pengembangan Belajar Anak Usia Dini Berbasis Dolanan Anak

Setelah pembacaan dongeng selesai, guru dapat memberi kesempatan kepada siswa yang lain untuk mendongeng secara bergantian. Begitu seterusnya sampai seluruh siswa mendapat kesempatan untuk mendongeng. Bisa juga, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok berjumlah sesuai dengan jumlah tokoh dalam dongeng.

Setelah semua siswa mendapat kesempatan untuk mendongeng, guru membimbing siswa untuk membahas isi dongeng tadi melalui tanya jawab dan diskusi. Selanjutnya, siswa bersama guru dapat menyimpulkan hasil pembelajaran dan melakukan refleksi terhadap kegiatan yang telah dilakukan.

Berdasarkan pengalaman penulis, media boneka tangan ternyata efektif untuk pembelajaran dongeng pada siswa kelas II A MIN 1 Yogyakarta.. Siswa lebih tertarik dan antusias untuk memperhatikan dongeng yang dibacakan. Suasana pembelajaran menjadi lebih santai, menyenangkan dan tidak membosankan. Siswa tidak merasa sedang belajar, melainkan sedang bermain. Ketika pembahasan, siswa juga lebih mudah menyampaikan isi dongeng dengan tepat.

Baca juga:  Peran Guru dalam Mengoptimalkan Tugas-Tugas Perkembangan Peserta Didik di Sekolah Dasar

Kesimpulannya bahwa media boneka tangan efektif untuk pembelajaran dongeng. Dengan media ini, pembelajaran dongeng menjadi lebih menyenangkan dan mudah dipahami. Media juga dapat melatih siswa untuk kreatif dalam berimajinasi dan mengungkapkan ekspresi. (ips2/zal)

Guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Yogyakarta

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya