alexametrics

Pembelajaran Kooperatif melalui Metode The Power of Two and Four

Oleh: Dinik Yuni Astuti, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, DEWASA ini kreativitas pendidik dalam mengeksplor penyampaian materi pembelajaran semakin beragam. Meski berawal dari pernyataan tuntutan, nyatanya melihat peserta didik antusias dalam mengikuti pembelajaran karena penyampaian yang menyenangkan dilakukan adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Perlahan pembelajaran konvensional mulai terevaluasi dan diperbaiki oleh pendidik.

Kreativitas dan kompetensi yang dimiliki oleh pendidik bersifat dinamis diantaranya dengan bergantinya metode pembelajaran yang dilakukan pendidik dari konvensional menjadi interaktif. Selain membuat kualitas pengembangan diri pendidik semakin baik, juga membuat kualitas pemahaman peserta didik dalam menerima transfer ilmu semakin terasah. Pembelajaran yang dianggap menyeramkan berubah menjadi menyenangkan karena pendidik tidak lagi menjadi pemeran utama dalam pembelajaran, melainkan menjadi pemeran utama bersama peserta didik dalam pembelajaran.

Berikut ulasan mengenai metode The Power of Two and Four dalam pembelajaran yang dapat diimplementasikan dalam proses penyampaian materi di kelas. Metode The Power of Two and Four merupakan referensi pembelajaran interaktif. Pembelajaran dengan metode ini menimbulkan reaksi dua arah antara pendidik dan peserta didik sehingga pembelajaran tidak akan terasa monoton.

Baca juga:  CTL Meningkatkan Hasil Belajar Matematika

Metode The Power of Two and Four apabila diartikan secara ringkas yakni menggabungkan dua dan empat menjadi kekuatan. Metode ini memberikan pemahaman kepada pesert didik bahwa membiasakan diri untuk belajar secara individu dan kelompok secara aktif akan memberikan hasil yang lebih maksimal dan berkesan. Pembelajaran ini dapat dikategorikan dalam pembelajaran kooperatif karena menimbulkan kerjasama antar peserta didik.

Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam penyampaian mata pelajaran matematika. Mata pelajaran matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang menakutkan bagi peserta didik khususnya dalam jenjang sekolah dasar. Pemahaman akan mata pelajaran yang menakutkan tersebut dapat disingkirkan dengan metode yang tepat dan menyenangkan dalam kegiatan belajar mengajar yang dapat dilakukan oleh pendidik. Salah satunya dalam materi pengukuran yakni materi di jenjang sekolah dasar kelas kedua.

Baca juga:  Meningkatkan Hasil Belajar IPS dengan Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples

Langkah yang dilakukan dalam pembelajaran materi pengukuran menggunakan metode The Power of Two and Four yakni: pendidik memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan materi pokok pengukuran berdasarkan KI, KD, dan indikator atas materi tersebut, kegiatan ini dilakukan juga untuk menstimulus peserta didik di awal pembelajaran, pendidik memberikan waktu kepada peserta didik untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh pendidik, pendidik memberikan lembar jawaban kepada peserta didik sebagai sarana untuk menuliskan gagasan atas pertanyaan tersebut secara mandiri kemudan memeriksa hasil jawaban peserta didik, pendidik memberikan arahan kepada peserta didik untuk berpasangan dan mendiskusikan jawaban, setelah menemukan keputusan final dari hasil diskusi peserta didik menuliskan jawaban tersebut, pendidikan kemudian memberikan arahan agar peserta didik melakukan kerjasama dengan berpasangan empat orang, dan melakukan kegiatan yang sama yaitu merumuskan jawaban yang final berdasarkan diskusi yang dilakukan oleh empat peserta didik, lalu pendidik memeriksa jawaban tersebut, dan pendidik mengemukakan uraian penjelasan dan jawaban atas pertanyaan yang telah didiskusikan oleh peserta didik, selain itu pendidik juga memberikan simpulan yang berujung pada tindak lanjut yang harus dilakukan oleh peserta didik.

Baca juga:  Meningkatkan Keterampilan Menyimak dengan Model Pembelajaran Kooperatif

Secara keseluruhan implementasi metode The Power of Two and Four memiliki muara untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran secara individu maupun berkelompok dengan aktif. Saling menjadi pemeran utama dan proses pembelajaran menjadikan momok belajar yang menakutkan menjadi menyenangkan. Kebebasan berpendapat dalam menemukan keputusan final saat berdiskusi akan melatih kerjasama dan keaktifan peserta didik. Melalui metode ini harapannya peserta didik termotivasi untuk terus dan tetap antusias dalam mengikuti pembelajaran. Antusias dan keaktifan peserta didik dapat menjadi stimulus untuk meningkatkan kualitas hasil belajar semakin baik dan meningkat. (ips2/zal)

Guru SDN Genuksari 01 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya