alexametrics

Connection Stories Permudah Belajar Personal Recount Text

Oleh : Ana Rahmawati Ningsih, S.Pd., M.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Berdasarkan hasil penilaian kelas 8 semester 2, nilai keterampilan berbicara (speaking) merupakan nilai yang paling rendah di antara 3 keterampilan yang lain. Siswa merasa kesulitan apabila mereka tampil untuk berbicara, baik berbicara secara individu maupun berkelompok.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesulitan siswa dalam hal berbicara (speaking). Pertama, faktor penguasaan kosakata. Kosakata-kosakata yang dikuasai siswa terbatas. Apalagi kosakata yang berhubungan dengan kata kerja (verb). Kata kerja dan perubahannya merupakan hal tersulit yang ditemui siswa. Siswa merasa kebingungan dengan perubahan kata kerja bentuk sekarang maupun bentuk lampau.

Kedua, siswa takut salah dalam menyusun kata per kata, frasa per frasa, dan kalimat per kalimat. Mereka berpikir bahwa susunan tata bahasa dalam kalimat yang salah akan membuat malu. Ketiga, faktor lingkungan yang kurang mendukung siswa untuk berlatih berbicara (speaking). Siswa akan termotivasi apabila mereka berlatih di lingkungan sekolah, tetapi mereka akan menjadi lain ketika mereka sudah berada di lingkungan keluarga dan sekitar.

Baca juga:  Penerapan Teknik Mind Mapping Tingkatkan Keterampilan Menulis

Personal recount text merupakan salah satu jenis recount text. Jenis teks ini paling mudah dibandingkan dengan jenis recount text yang lain. Dalam pembelajaran pada materi awal, siswa hanya diminta untuk menceritakan pengalaman mereka. Biasanya pengalaman tentang liburan. Keterampilan berbicara merupakan salah satu penilaian dalam personal recount text. Namun, siswa terbentur dengan perubahan kata kerja dan kosakata yang terbatas.

Pada penggambaran awal paragraf, siswa lancar dalam bercerita. Tapi, ketika masuk ke dalam tahap bercerita tentang runtutan peristiwa, siswa merasa kesulitan. Ditambah dengan motivasi dan kegiatan pembelajaran yang kurang mendukung di dalam ruang kelas. Jadi, hasil penilaian mereka semakin rendah.
Melchor Bernardo dalam artikelnya yang berjudul 30 Get to Know You Games for Kids memperkenalkan sebuah teknik. Teknik permainan dalam pembelajaran. Teknik tersebut adalah Connection Stories.

Baca juga:  Penguasaan Keterampilan Berbicara Offering Help dengan 6M

Melchor menyatakan bahwa siswa akan antusias dan terlibat aktif dalam pembelajaran apabila guru menggunakan teknik ini, khususnya dalam keterampilan berbicara (speaking). Siswa tidak akan ragu lagi untuk bercerita. Mereka akan mengaitkan satu cerita ke cerita yang lain secara berkelompok.

Adapun kegiatan dalam pembelajaran menggunakan teknik ini. Pertama, guru menjelaskan apa itu recount text.

Kedua, guru meminta siswa untuk membuat kelompok. Satu kelompok terdiri dari 6-8 siswa. Itu jumlah yang ideal. Ketiga, guru memberi tema tentang apa yang akan diceritakan oleh siswa. Misal, My Holiday.

Keempat, guru meminta siswa untuk bercerita. Satu siswa menyampaikan satu kalimat cerita. Setelah itu disambung oleh siswa lain. Dan seterusnya. Kalimat per kalimat yang berisi cerita liburan akan terus disampaikan oleh siswa dalam satu kelompok.

Baca juga:  Problem Based Instruction Mampu Memotivasi Belajar Siswa pada Persamaan Kuadrat

Kelima, guru akan memeriksa kelompok siswa satu per satu. Kelompok dengan cerita yang terbaik akan menjadi “pemenang” versi guru. Guru akan memberikan penghargaan kepada kelompok siswa yang menang.

Teknik permainan Connection Stories pada pembelajaran personal recount text akan membuat siswa tambah termotivasi dalam memperlancar keterampilan berbicara mereka. Teknik ini sudah diterapkan pada kelas 8 semester 2 di SMP Negeri 3 Patebon. Hasil penilaian siswa dalam keterampilan berbicara meningkat daripada menggunakan teknik pembelajaran sebelumnya. (ds1/lis)

Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 3 Patebon, Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya