alexametrics

Pertebal Iman Siswa dengan Metode Picture and Picture

Oleh : Mahmudah S.Pd.I

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, GURU sebagai seorang pendidik tidak hanya tahu tentang materi yang akan diajarkan. Akan tetapi, ia pun harus memiliki kepribadian yang kuat yang menjadikannya sebagai panutan bagi para siswanya. Hal ini penting karena sebagai seorang pendidik, guru tidak hanya mengajarkan siswanya untuk mengetahui beberapa hal. Guru juga harus melatih keterampilan, sikap dan mental anak didik. Penanaman keterampilan, sikap dan mental ini tidak bisa sekedar asal tahu saja, tetapi harus dikuasai dan dipraktikkan siswa dalam kehidupan sehari-harinya.

Melihat kenyataan sekarang agama di zaman ini hanyalah sebagai bahan pendidikan yang tidak penting dalam perkembangan bangsa ini. Pendidikan agama itu merupakan dasar pembentukan pribadi anak. Peserta didik di SDN 02 Pecakaran Wonokerto mengalami penurunan hasil belajar pada tema Allah Maha Pencipta, karena mereka kurang memerhatikan guru sewaktu pembelajaran, ada yang mainan di pojok kelas, ada yang ngobrol dengan teman sebangkunya dan lainnya. Guru dalam mengajar masih menggunakan model konvensional, model yang hanya ceramah dilanjutkan dengan penugasan.

Baca juga:  Peningkatan Memahami Bacaan dengan Metode GTG

Kemudian guru mencari ide dan menerapkan model yang sesuai untuk siswa kelas rendah yaitu metode Picture and Picture. Model pembelajaran Picture And Picture–Suprijono (dalam huda 2014: 236), mengemukakan Picture And Picture merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media pembelajaran. Strategi ini mirip dengan Example Non Example, dimana gambar yang diberikan pada siswa harus dipasangkan atau diurutkan secara logis. Gambar-gambar ini menjadi perangkat utama dalam proses pembelajaran.

Adapun langkah–langkah pembelajarannya sebagai berikut, pertama, penyampaian kompetensi. Guru diharapkan menyampaikan kompetensi dasar mata pelajaran yang bersangkutan. Di samping itu, guru harus menyampaikan indikator-indikator ketercapaian kompetensi tersebut untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa dalam mencapainya. Kedua, presentasi materi. Guru telah menciptakan momen awal pembelajaran. Guru harus berhasil memberikan motovasi pada beberapa siswa yang kemungkinan masih belum siap. Ketiga, penyajian gambar. Guru menyajikan gambar dan mengajak siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran dengan mengamati setiap gambar yang ditujukkan. Dengan gambar, pengajar akan lebih hemat energi, dan siswa juga akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Keempat, pemasangan gambar. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian untuk memasangkan gambar secara berurutan dan logis. Salah satu caranya adalah dengan undian, sehingga siswa merasa memang harus benar-benar siap untuk menjalankan tugas yang diberikan. Kelima, penjajakan. Guru untuk menanyakan kepada siswa tentang alasan/dasar pemikiran dibalik urutan gambar yang disusunnya. Setelah itu, siswa bisa diajak untuk menemukan rumus, tinggi, jalan cerita, atau tuntutan kompetensi dasar berdasarkan indikator-indikator yang ingin dicapai. Keenam, penyajian kompetensi. Guru bisa memulai menjelaskan lebih lanjut sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Selama proses ini, guru harus memberikan penekanan pada ketercapaian kompetensi tersebut. Ketujuh, penutup. Evaluasi pembelajaran.

Baca juga:  Pembelajaran Ulul Azmi Rasul dengan Metode Role Playing

Dari penerapan metode di atas maka peserta didik sangat antusias belajar dan sangat aktif dalam menjalankan arahan-arahan guru sehingga hasil belajar meningkat di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM). (fbs2/ida)

Guru PAI SDN 02 Pecakaran, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya