alexametrics

Meningkatkan Kemampuan Bertanya melalui Metode Pembelajaran Talking Stik

Oleh : Musaropah, S.Ag.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Salat fardu adalah hal yang wajib dilaksanakan bagi setiap muslim. Pentingnya pemahaman tentang bertanya ketika anak didik belum memahami materi PAI dan Budi Pekerti dalam hal ini adalah salat fardu merupakan masalah yang harus diprioritaskan.

Tapi pada kenyataanya peserta didik belum begitu antusias untuk mengajukan pertanyaan tentang materi terkait, padahal ketika dievaluasi sebagian dari mereka belum tuntas. Rendahnya keberanian untuk bertanya akan mengakibatkan kurangnya pintu pemahaman bagi peserta didik terhadap sebuah materi.

Metode Talking stik adalah metode yang dalam praktiknya peserta didik akan dikondisikan untuk bertanya atau menjawab secara langsung pertanyaan dari guru atau dari peserta didik lain. Metode Talking stik penulis yakini tepat untuk mengatasi problem keberanian bertanya pada peserta didik. Guru berharap adanya peningkatan keberanian bertanya peserta didik sehingga materi bisa dipahami seutuhnya oleh semua peserta didik.

Baca juga:  Tingkatkan Keterampilan Reading dengan Voice Note

Keberanian adalah perlawanan terhadap rasa takut, penguasaan rasa takut tidak adanya rasa takut. Keberanian adalah apa yang diperlukan untuk berdiri dan berbicara, keberanian juga apa yang diperlukan untuk duduk dan mendengarkan. Brown (dalam Hasibuan dkk,2012:19) mengartikan bertanya sebagai “ . . . any statement which tests or creates knowledge in the learner” (setiap pernyataan yang mengkaji atau menciptakan ilmu pada diri pembelajar). Jadi keberanian bertanya adalah perlawanan rasa takut untuk menciptakan ilmu pada diri peserta didik.

Talking stick termasuk salah satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini dilakukan dengan bantuan tongkat, siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya. Pembelajaran Talking Stick sangat cocok diterapkan bagi siswa SMP Negeri 2 Doro. Selain untuk melatih berbicara, pembelajaran ini akan menciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat siswa aktif. Model pembelajaran Talking Stik adalah suatu model pembelajaran kelompok dengan bantuan tongkat, kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya, selanjutnya kegiatan tersebut diulang terus-menerus sampai semua kelompok mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru (http.idtesis.com).

Baca juga:  Serunya Belajar Nama Rasul dengan Metode Numbered Heads Together

Kelebihan metode Talking stick antara lain: Pertama, dapat menciptakan suasana yang menyenangkan, sehingga peserta didik tidak tegang dan bisa belajar dengan baik, peserta didik merasa termotivasi dan senang untuk dapat mengikuti pelajaran serta dapat menguasai materi pelajaran. Kedua, dapat sekali dayung dua pelajaran yaitu pelajaran beryanyi dan mapel yang dipakai. Ketiga, peserta didik menjadi termotivasi untuk kreatif dalam berbagai macam lagu. Kekurangan metode tersebut adalah: Pertama, model pembelajaran ini tidak efektif jika siswa tidak bisa bernyanyi. Kedua, pemberian sanksi yang kurang pas akan menghambat proses pembelajaran. Ketiga, membutuhkan waktu yang agak lama.

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa metode talking stick membuat siswa untuk selalu siap dalam mengikuti pembelajaran. Sebab semua mempunyai kesempatan untuk ditunjuk dan menjawab pertanyaan. Selain itu, kegiatan estafet sambil bernyanyi membuat siswa merasa gembira dan tidak tegang selama menunggu giliran menjawab pertanyaan. Saya pribadi berpendapat bahwa metode ini cocok digunakan untuk penguatan materi, sehingga siswa tidak bosan dengan materi yang diajarkan. (bp2/ton)

Baca juga:  Asyik dan Ceria dengan Modeling The Way

Guru PAI & BP SMPN 2 Doro

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya