alexametrics

Pembelajaran Bermain Peran Tingkatkan Motivasi Keterampilan Drama

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Guru mengidamkan setiap kompetensi yang diajarkan selalu tercapai sesuai tujuan. Pencapaian tujuan kompetensi memberikan tantangan tersendiri bagi guru yang memiliki tugas utama, yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi peserta didik. Proses tersebut dalam keseharian membutuhkan kemampuan yang inovatif supaya peserta didik memiliki kemauan untuk belajar.

Pembelajaran bahasa Indonesia melatih kompetensi peserta didik dari berbagai aspek kemampuan, yaitu adalah menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. Kemampuan tersebut dapat diserap secara berimbang melalui kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Kompetensi keterampilan dalam pembelajaran bahasa Indonesia bersinergi dengan tingkat pemahaman dan waktu.
Pencapaian kompetensi keterampilan mendemontrasikan drama di SMA Negeri 1 Subah memiliki permasalahan yaitu waktu yang kurang dan rendahnya kemauan peserta didik untuk memerankan tokoh drama. Proses pembelajaran drama yang terjadwal pada semester genap kurang maksimal karena ada agenda ujian dan kelulusan. Selain itu, peserta didik kurang termotivasi untuk bermain peran karena merasa canggung di depan umun dan kurang paham tentang bermain peran. Kondisi tersebut dapat diurai dengan strategi pembelajaran bermain peran dan penggunaan teknologi yang disukai peserta didik yaitu gawai.

Baca juga:  Mudahnya Belajar Menulis Greeting Card dengan Teknik Modelling

Santoso (2011) mengatakan bermain peran adalah mendramatisasikan dan mengekspresikan tingkah laku, ungkapan, gerak-gerik seseorang dalam hubungan sosial antar manusia. Dengan metode role playing (bermain peran) peserta didik berperan atau memainkan peranan dalam dramatisasi masalah/psikologis itu. Poorman (2002) menyebutkan menurut hasil penelitian, strategi bermain peran dapat meningkatkan minat peserta didik terhadap suatu mata pelajaran dan materi pelajaran. Dengan demikian juga dapat meningkatkan pemahaman terhadap konsep-konsep yang sedang dibelajarkan kepada mereka. Persiapan pembelajaran dengan strategi ini peserta didik terlebih dahulu melakukan studi tentang karakter atau tokoh yang akan diperankan.

Strategi pembelajaran bermain peran terdapat tujuh langkah dalam pelaksanaannya. Pertama identifikasi masalah dengan cara memotivasi para peserta didik. Guru memotivasi kepada peserta didik agar percaya diri untuk memerankan karakter tokoh. Guru memberikan contoh bermain peran dengan naskah yang telah dianalisis bersama. Pemberian contoh bisa mengurangi permasalahan kecanggungan pada peserta didik dan diharapkan peserta didik dapat berakting yang baik.

Baca juga:  Pembelajaran Perpindahan Kalor Radiasi Mudah dengan Thermogun

Kedua, guru membimbing peserta didik untuk memilih peran. Setelah peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok, perlu diarahkan untuk menentukan tema yang akan menjadi dasar untuk membuat atau mencari naskah drama. Setiap kelompok terlebih dahulu mengidentifikasi unsur intrinsik drama yang berguna untuk melakukan casting.

Langkah ketiga menyusun tahap-tahap peran, peserta didik dalam kelompok berlatih untuk memerankan tokoh yang telah ditentukan. Langkah keempat menyiapkan pengamat, salah satu peserta didik yang kompeten dalam bidang drama ditunjuk menjadi sutradara untuk menilai latihan.

Langkah kelima pemeranan, dalam langkah ini peserta didik melakukan akting sesuai dengan tokoh dalam naskah. Peserta didik tidak melakukan akting secara langsung dipanggung atau dihadapan penonton. Namun, peserta didik melakukan akting di depan kamera atau direkam yang bisa menggunakan waktu di luar jam pembelajaran. Hal tersebut merupakan solusi untuk mengatasi permasalahan kekurangan waktu. Peserta didik juga bisa mengekspresikan kemampuan editing video sebelum dipublikasikan.

Baca juga:  PjBL Solusi Pembelajaran Memerankan Fabel di Era Pandemi

Keenam diskusi dan evaluasi, setiap kelompok menampilkan hasil rekaman video secara bergantian di laboratorium bahasa. Setiap kelompok memberikan masukan dan menilai video yang ditampilkan secara lisan dan tertulis.

Langkah ketujuh membagi pengalaman dan mengambil simpulan, seluruh kelompok mengutarakan pengalamannya dalam proses berakting drama dengan menujuk salah satu anggota kelompok. Rekaman video yang telah dibuat dapat dipublikasikan melalui media sosial seperti YouTube, Instagram, Facebook, Twitter. Melalui teknik bermain peran dapat memotivasi peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran mendemontrasikan drama. (ips1/lis)

Guru SMA Negeri 1 Subah

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya