alexametrics

Protagonis dan Antagonis, Siapa Baik, Siapa Jahat?

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Konsep protagonis dan antagonis dalam karya sastra anak cenderung menanamkan stigma baik dan buruk secara hitam putih. Protagonis identik dengan karakter utama yang selalu baik dan antagonis adalah tokoh lawan yang harus bersifat buruk. Dampaknya anak jadi menyimpulkan bahwa protagonis adalah tokoh baik dan antagonis yang jahat. Padahal dalam cerita anak sendiri tidak selalu dapat dipahami sesederhana itu.

Mari kita ambil contoh cerita Legenda Roro Jonggrang. Kita bersepakat dulu protagonisnya Roro Jonggrang dan antagonisnya Bandung Bondowoso. Roro Jonggrang bersifat baik karena dia protagonis dan Bandung Bondowoso bersifat jahat karena antagonis. Berdasar pengalaman penulis yang mengajar di SD, bertahun-tahun, itulah konsep yang tertanam pada siswa yang saya ajar. Apa sifat baik Roro Jonggrang? Berbakti pada orangtua, yaitu Prabu Baka. Lalu tidak adakah sifat buruknya? Roro membenci Bandung yang membunuh ayahnya, tapi dia takut pada Bandung sehingga tidak secara terang-terangan menolak lamarannya. Roro pun mengajukan syarat pada Bandung. Dia mau diperistri oleh Bandung asalkan dibuatkan seribu candi dalam semalam. Bandung menyanggupi dan hampir berhasil, tapi saat kurang satu candi lagi, tiba-tiba ayam jago berkokok menandai hari telah pagi. Meskipun sebenarnya hari masih malam karena berkokoknya ayam akibat ulah Roro dan para dayang yang membunyikan lesung dan membuat api unggun besar sehingga ayam jago di dekatnya mengira fajar telah tiba dan ia berkokok nyaring. Roro sudah berbuat curang demi mengingkari janjinya pada Bandung.

Baca juga:  Mengatasi Kecanduan Game Online dengan Literasi

Kita beralih ke Bandung Bondowoso, karakter yang diceritakan sakti, sanggup memerintah bangsa jin. Kejahatannya adalah membunuh Prabu Baka demi menguasai kerajaannya. Kebaikannya? Bandung sportif. Dia melamar Roro, menerima syarat yang diajukan dan mengerjakannya sesuai jadwal. Padahal kalau menurut kesaktian yang dimilikinya dia bisa saja langsung memaksa Roro jadi istrinya tanpa perlu susah payah membangun seribu candi dalam semalam. Bandung sungguh demokratis dalam hal ini, memberi kesempatan pihak yang lebih lemah untuk berpendapat dan tidak memaksakan kehendak meskipun berkuasa. Jadi siapa yang baik dan siapa yang jahat?

Dalam pengertian yang penulis nukil dari KBBI dalam lingkup arti nomina (kata benda) dalam karya sastra untuk pengertian protagonis adalah tokoh utama dalam cerita rekaan. Sedangkan antagonis adalah tokoh dalam karya sastra yang merupakan penentang dari tokoh utama atau disebut juga tokoh lawan.

Baca juga:  Ahmad Abu Rifa’i, dari Baca Buku Rongsokan, Kini Raih Dua Juara

Pengalaman penulis sebagai guru di SDN Wonokerso 01 yang mengajar kelas empat, saat pembelajaran sastra anak dapat disimpulkan dari pendapat siswa satu kelas siswa memahami protagonis sebagai tokoh utama dan bersifat baik. Kebalikannya antagonis dianggap sebagai lawan dari tokoh utama dan bersifat buruk. Itu berlaku untuk semua cerita yang mereka pahami.

Hal paling utama dalam memahami suatu karya sastra anak adalah penanaman karakter pada siswa untuk memahami bahwa tokoh protagonis tidak selalu yang bersifat baik dan antagonis tidak selalu berperilaku buruk. Secara manusiawi setiap karakter memiliki dua sifat bertentangan baik dan buruk yang dapat berubah karena suatu sebab. Siswa ditekankan untuk tidak menghakimi suatu karakter tokoh cerita secara baik dan buruk saja, tetapi pada perilaku sang tokoh. Membedakan perilaku baik yang patut dicontoh dan perilaku tercela yang harus dijauhi dari tokoh apapun, baik protagonis maupun antagonis. (dj2/ton)

Baca juga:  Strategi Bimbingan TIK untuk Mendukung PJJ

Guru di SDN Wonokerso 01 Kandeman, Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya