alexametrics

Meningkatkan Pemahaman Isi Wedhatama Pupuh Pangkur dengan Gambar Kehidupan Sehari-hari

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Nomor 423.5/14995 tentang kerangka dasar dan struktur program Kurikulum 2013 muatan lokal bahasa Jawa, mewajibkan pembelajaran bahasa Jawa pada wilayah Jawa Tengah dengan alokasi waktu 2 jam tatap muka setiap pertemuan.

Dalam kurikulum tersebut terdapat kompetensi dasar Serat Wedhatama pupuh pangkur pada kelas X semester ganjil dan pupuh sinom pada semester genap. Salah satu assegment tagihan yang dikehendaki adalah siswa dapat memahami isi serat wedhatama pupuh pangkur. Dalam materi ini siswa mempelajari sastra Jawa, bahasa yang digunakan dalam serat ini adalah bahasa Jawa yang kaya akan perumpamaan dan paramasastra Jawa.

Kendala yang dihadapi siswa-siswi SMAN 1 Kesesi adalah tidak memahami bahasa yang digunakan sehingga mempersulit mereka untuk menyimpulkan apa isi dari serat Wedhatama pupuh pangkur tersebut. Sebagai contoh: mingkar-mingkuring angkara; mingkar artinya menjauhkan diri; angkara artinya nafsu angkara. Akarana karenan mardi siwi; mardi artinya mendidik; siwi artinya putra. Kesulitan lain yang dihadapi adalah tidak adanya kamus-kamus bahasa sansekerta yang mendukung dalam pembelajaran karya sastra tersebut.

Baca juga:  Belajar Budaya Wewaler Jawa dengan Teknik Gojaq

Siswa hanya mengandalkan suguhan serat tersebut dari internet. Sedangkan hasil akhir yang ingin dicapai dalam pembelajaran ini adalah siswa memahami makna dari serat Wedhatama pupuh pangkur sehingga dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Hermawan (2007: 39) setidaknya ada 3 hal yang perlu dijadikan pertimbangan dalam pemilihan media pembelajaran, di antaranya tujuan pemilihan media, karakteristik media dan alternatif media pembelajaran yang dipilih. Contoh-contoh media pembelajaran antara lain adalah media pembelajaran cetak (buku, gambar, papan flannel, kliping koran), media pembelajaran audio dan audio visual (video, podcast, siaran radio), dan multimedia interaktif (game, aplikasi pembelajaran berbasis android, dll).

Dalam hal ini untuk mempermudah pembelajaran guru menggunakan media gambar yang berkaitan langsung dengan isi serat wedhatama pupuh pangkur per bait.

Baca juga:  Pembiasaan Berjamaah Tingkatkan Kedisiplinan Salat Fardhu di Rumah

Langkah pertama, guru memberikan contoh tembang pangkur (bukan dari serat Wedhatama) dengan bahasa yang sangat sederhana, misalnya nuntut ilmu ing sekolah, bisa angerteni budi pekerti, papan bisa nggo sinau, wayah esuk lan awan, ngrungokake prentahing marang guru, lan bisa ngerti agama, agama kang migunani. Langkah kedua, guru memberikan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan gambar. Langkah ketiga siswa diminta untuk menjelaskan kenapa gambar tersebut ada hubungannnya dengan isi tembang tadi. Langkah keempat guru menyimpulkan antara gambar dengan isi tembang yang disajikan tadi. Langkah kelima siswa diminta untuk menguraikan isi serat Wedhatama pupuh pangkur seperti langkah-langkah di atas.

Dalam memberikan penilaian pun, hendaknya seorang guru mengubah pola soal dengan gambar kemudian siswa diminta untuk menjelaskan hubungan gambar tersebut dengan isi serat Wedhatama pupuh pangkur. Paradigma yang sering ditemui di lapangan adalah guru meminta siswa untuk mengartikan isi serat Wedhatama pupuh pangkur tersebut dan menyimpulkannya. Hal ini seringkali bertolak belakang dengan isi serat Wedhatama itu sendiri, sering juga keliru.

Baca juga:  Drill Memperlancar Menyelesaikan Matematika

Dengan media gambar sebagai sajian awal materi pembelajaran serat Wedhatama pupuh pangkur, didapatkan bahwa siswa mampu menjelaskan isi serat tersebut dengan baik dan lebih mudah memahaminya. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran serat Wedhatama pupuh pangkur dengan media gambar contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari dapat dijadikan referensi pembelajaran untuk guru bahasa Jawa di sekolah yang lain dengan cara sederhana dan cepat penyerapan ilmunya.

Dengan catatan khusus seorang guru harus mau menelaah isi serat Wedhatama dengan teliti dan cermat sehingga tidak mengaburkan makna serat Wedhatama itu sendiri. (ips2/lis)

Guru Bahasa Jawa SMAN 1 Kesesi, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya