alexametrics

Optimalkan Pembelajaran KPK dan FPB dengan SFE

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN dikatakan berhasil apabila peserta didik dan guru mampu memerankan perannya secara optimal. Guru menyampaikan metode pembelajaran dengan tepat dan peserta didik mampu berperan aktif dalam pembelajaran. Salah satu alasan rendahnya nilai hasil belajar peserta didik kelas IV SDN Gedangalas 2 pada muatan pelajaran Matematika adalah minimnya peran aktif peserta didik dalam proses belajar mengajar. Untuk mengoptimalkan peran aktif tersebut, guru perlu merancang model pembelajaran yang tepat dan menarik.

Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan peserta didik adalah Student Facilitator and Explaining (SFE). Menurut Huda (2013:228) menyatakan bahwa gagasan dasar dari strategi pembelajaran ini adalah bagaimana guru mampu menyajikan atau mendemonstrasikan materi di depan siswa lalu memberikan siswa kesempatan untuk menjelaskan kepada teman-temannya. Sehingga model pembelajaran ini sangat tepat diterapkan pada peserta didik kelas IV SDN Gedangalas 2 pada muatan pelajaran Matematika materi KPK dan FPB.

Baca juga:  Mencegah Kecurangan dan Kebuntuan dalam Menulis dengan Draft Fastwriting

Student Facilitator and Explaining merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif dimana penyajian materi ajar yang diawali dengan penjelasan secara terbuka. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai dan model pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru mendemonstrasikan atau menyajikan garis-garis besar materi pembelajaran tentang KPK dan FPB. Dalam penyajiannya guru dapat mengemasnya dalam bentuk power point dengan audio visual yang menarik. Sehingga peserta didik tidak bosan dan lebih fokus terhadap materi pembelajaran. Di sela-sela penyajian materi, guru selalu memotivasi dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya atau menanggapi.

Tahap selanjutnya, guru memberikan lembar kerja pertama kepada semua peserta didik. Guru menjelaskan teknis pengerjaan lembar kerja tersebut. Setelah peserta didik menyelesaikan lembar kerja tersebut, guru dan peserta didik bersama-sama mengoreksi jawaban. Peserta didik yang mampu mengerjakan lembar kerja dengan baik diberikan reward dan yang belum dimotivasi untuk belajar lebih giat lagi. Langkah berikutnya, guru memberikan lembar kerja kedua. Namun, lembar kerja ini diberikan hanya untuk peserta didik yang belum mampu menyelesaikan lembar kerja pertama dengan baik. Peserta didik yang sudah mampu menyelesaikan lembar kerja pertama dengan baik, mendampingi dan mengajari teman-temannya yang mengerjakan lembar kerja kedua. Guru selalu mengawasi dan memberikan pendampingan apabila ada anak yang merasa kesulitan. Setelah selesai, peserta didik mempresentasikan hasil kerjanya dan guru memberikan penghargaan serta motivasi agar mental peserta didik menjadi lebih kuat.

Baca juga:  Mudah Pahami Materi Pluralitas Masyarakat Indonesia dengan PBL

Pada akhir pertemuan, guru memberikan penilaian atau evaluasi. Setelah evaluasi dilaksanakan, guru dan peserta didik mengoreksi jawaban secara bersama-sama. Hal itu dilakukan agar peserta didik tahu kekurangan dan kelemahannya. Sebagai penutup, guru dan peserta didik menyimpulkan materi yang telah dipelajari.

Berdasarkan hasil proses pembelajaran di atas, penggunaan model pembelajaran SFE mampu mengoptimalkan peran peserta didik kelas IV SD Negeri Gedangalas 2 Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak pada muatan pelajaran Matematika materi ajar KPK dan FPB. Hal itu terlihat dari keaktifan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Selain itu, hasil evaluasi peserta didik mencapai ketuntasan klasikal, sehingga model pembelajaran SFE dapat dijadikan alternatif bagi guru untuk mencapai kompetensi peserta didik. (ips1/ida)

Baca juga:  Penerapan Blended Learning Flipped Classroom pada Bangun Ruang Sisi Datar

Guru SD Negeri Gedangalas 2, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya