alexametrics

Terapkan Mind Mapping dalam Pembelajaran Puisi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN bahasa Indonesia di sekolah berorientasi pada pencapaian tujuan berbahasa sebagai alat komunikasi, yaitu agar siswa mampu berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Inilah yang dimaksud pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa dengan tujuan akhir agar peserta didik memiliki keterampilan berbahasa, yaitu terampil membaca, menulis, berbicara, dan menyimak.

Sejak PAUD atau TK/RA anak sudah belajar membaca dan menulis. Melalui KD mengenal keaksaraan awal melalui bermain, mereka sudah mulai belajar bahasa. Di SD kelas I sudah dikenalkan huruf-huruf vokal dan konsonan. Bahkan, belajar jenis-jenis teks seperti halnya di SMP. Jadi sejak duduk di bangku SD, sudah dipush untuk terampil menulis. Namun berdasarkan pengamatan penulis selama 26 tahun mengajar, ternyata kemampuan menulis masih tetap relatif rendah.

Tingkat keberhasilan belajar siswa memang dipengaruhi banyak faktor. Ketika faktor sarpras memadai, input peserta didik bagus, gurunya memiliki kemampuan profesional dan pedagogik yang mumpuni, tapi hasil belajar peserta didik rendah. Kemungkinan ada masalah dalam metode pembelajaran. Inilah yang menjadi dasar penulis mencari jurus jitu agar siswa antusias dalam pembelajaran menulis puisi.

Baca juga:  Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu NKRI

Mind mapping atau peta konsep menjadi pilihan penulis dalam pembelajaran menulis puisi. Mind mapping ini merupakan metode peta pemikiran yang ditemukan Anthony Peter Buzan pada akhir tahun 1970-an. Tujuan awal pemetaan pemikiran ini adalah untuk melihat ide yang mungkin terbentuk dari satu kata kunci. Setiap orang dapat mengasah otaknya dengan cara yang menyenangkan dan tidak membosankan. Dari kata sederhana, dapat bercabang menjadi kata yang beragam. Bahkan hingga membuat kalimat atau pikiran yang sebelumnya mungkin tak terpikirkan (https://id.m.wikipedia.org/wiki).

Dalam bentuk gambar, pola peta konsep ini menyerupai sebuah pohon dengan cabang dan ranting. Titik pusat gambar merupakan tema utamanya, cabang merupakan subtema, dan ranting sebagai rincian dari sub-subtema. Misalnya, siswa mau menulis puisi tentang lingkungan perdesaan, maka titik porosnya adalah lingkungan perdesaan. Lalu dari titik tersebut dibuat garis-garis tak lurus ke atas, bawah, kiri, dan kanan sebanyak mungkin sesuai daya imajinasi siswa tentang objek tadi. Lalu siswa menulis kata gunung, sawah, udara, pepohonan, dan sungai pada garis-garis tadi. Kemudian dari kata-kata tersebut dibuat ranting-ranting yang merupakan bagian dari subtema tadi. Contohnya dari kata sawah muncul kata padi, petani, cangkul, panen, dan seterusnya.

Baca juga:  Dengan KBBI Pembelajaran Lebih Menyenangkan

Setelah siswa merasa cukup menuliskan apa yang ada di pikirannya, barulah mulai menulis larik demi larik puisi berdasaran objek yang diklasifikasikannya dalam gambar peta konsep tadi yaitu kata-kata yang mereka tuliskan pada cabang dan ranting. Mereka boleh mulai menulis dari mana saja. Misalnya dari kata sawah tadi, ada kata padi, panen, dan petani. Maka larik puisinya bisa seperti ini: Musim panen tiba. Padi pun menguning. Dengan bernyanyi riang Pak Tani menuju sawah.

Ternyata, model pembelajaran Mind Mapping dalam pembelajaran menulis puisi dapat memudahkan siswa menuliskan gagasan. Dengan peta konsep ini mereka seperti dituntun untuk menuliskan larik demi larik puisinya. Gagasan mereka menjadi lebih teratur dan terarah dengan gambar peta konsep tadi. Sebagai guru tentu merasa puas, karena bisa mengikuti proses kreatif dari awal sampai menghasilkan sebuah karya puisi. (pai2/ida)

Baca juga:  Belajar Asyik Materi Pencemaran dengan Model Make a Match

Guru Bahasa Indonesia SMPN 19 Depok, Jawa Barat

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya