alexametrics

Memupuk Budaya Menulis Guru melalui Esai dan Puisi Bermedia Google Clasroom

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kegiatan menulis merupakan bagian dari kegiatan literasi yang sangat dibutuhkan oleh guru. Keterampilan menulis tidak akan terasah apabila budaya gemar menulis kurang diminati oleh guru. Pada masa pandemi ini, sebenarnya banyak waktu dan kesempatan untuk mengasah keterampilan menulis. Namun, kebanyakan guru masih enggan menulis kecuali memang terpaksa harus menulis. Hal itu disebabkan mereka belum merasa butuh untuk menulis. Alasan yang lainnya adalah tidak adanya cukup waktu untuk menulis. Untuk membudayakan gemar menulis ini kepala SMPN 5 Sragi menggagas pemaanfaatan google classroom sebagai media menulis esai dan puisi bagi guru.

Suparno dan Yunus (2007:13) menjelaskan pengertian menulis sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Media yang digunakan dalam kegiatan menulis adalah bahasa tulis. Bahasa tulis tentu berbeda dengan bahasa lisan. Sebab ada ikatan aturan-aturan tertentu yang harus dipenuhi saat seseorang hendak menulis.

Baca juga:  Tingkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar IPS dengan Tutor Sebaya

Di masa pandemi ini, kegiatan tatap muka dengan peserta didik belum bisa dilaksanakan. Pembelajaran masih dilakukan secara daring dengan menggunakan berbagai media sesuai kemampuan guru maupun peserta didiknya. Google classroom merupakan salah satu media yang sering digunakan oleh guru untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Selain praktis, media ini juga mudah dipelajari serta digunakan oleh peserta didik.

Ajang mengasah budaya menulis esai dan puisi menggunakan media google classroom ini dimulai dengan cara kepala sekolah membuka kelas menggunakan akun. Selanjutnya, melalui email tiap-tiap guru, kepala sekolah meminta semua guru bergabung menggunakan kode kelas. Soal atau perintah dibuat oleh kepala sekolah. Tulisan berupa esai dan puisi dengan tema pembelajaran selama pandemi Covid-19.

Baca juga:  Project Base Learning dan Pembelajaran Kolaborasi, Solusi Tepat di Era PTM Terbatas

Langkah berikutnya, kepala sekolah memberikan arahan dan ketentuan dalam penulisan esai maupun puisi. Guru diberi waktu untuk menulis. Apabila sudah selesai, guru segera mengirimkan hasil tulisannya ke kelas. Hasil tulisan yang sudah dikirim akan dibaca dan ditanggapi oleh kepala sekolah. Apabila masih ada kekurangan, kepala sekolah akan mendiskusikannya bersama guru. Mengapa harus didiskusikan? Hal ini untuk memberi ruang kepada guru ikut menganalisis kekurangan dari tulisannya. Sehingga analisis tulisan bukan satu arah dari kepala sekolah, tetapi juga dari guru itu sendiri. Tulisan yang sudah bagus akan diberi nilai, komentar, dan dikembalikan kepada guru.

Pada pekan berikutnya, guru masuk kelas google classroom lagi untuk mendapatkan tugas baru, yaitu menulis puisi bebas bertema pendidikan. Sama dengan pekan sebelumnya, guru diberi kesempatan untuk menulis puisi di sela-sela kegiatan mengajarnya, ataupun di rumah. Kemudian guru mengirimkan puisinya. Setelah dibaca dan didiskusikan, puisi akan dikomentari, dinilai, dan dikembalikan kepada guru. Rupanya guru sangat menikmati ajang ini. Selain lebih mahir menggunakan google classroom, mereka jadi ketagihan menulis.

Baca juga:  Daring Menarik dengan Powerpoint Digital Storytelling

Membudayakan menulis menggunakan media google classroom bagi guru terbukti sangat asyik dan menarik minat guru untuk menulis. Setelah dilakukan beberapa kali pertemuan, hasil tulisan guru tampak mengalami kemajuan. Harapannya, ke depan guru menjadi lebih gemar menulis, baik tulisan ilmiah maupun tulisan fiksi. (fbs2/ton)

Kepala Sekolah SMPN 5 Sragi, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya