alexametrics

Dongkrak Prestasi Belajar IPA dengan Metode Eksperimen

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan terjemahan dari bahasa Inggris natural science. Natural berarti alamiah atau berhubungan dengan alam. Science berarti ilmu pengetahuan. Jadi menurut asal katanya, IPA berarti ilmu tentang alam atau ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa di alam (Srini M. Iskandar, 1996: 2).

IPA adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya (Hendro Darmodjo, 1992 : 3). Menurut Nash 1963 (dalam Hendro Darmodjo, 1992 : 3) IPA adalah cara atau metode untuk mengamati alam yang sifatnya analisis, lengkap, cermat serta menghubungkan antara fenomena alam yang satu dengan fenomena alam yang lainnya.
Sedangkan menurut Powler (dalam Winaputra, 1992:122) IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur dan berlaku umum berupa kumpulan hasil observasi dan eksperimen.

Tujuan utama pengajaran IPA agar siswa memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar. Serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya dengan lebih menyadari kebesaran dan kekuasaan pencipta alam semesta (Hadiat, 1996). Pengajaran IPA adalah pengajaran yang tidak menuntut hafalan, tetapi memberikan latihan untuk mengembangkan cara berfikir yang sehat dan masuk akal berdasarkan kaidah-kaidah IPA.

Baca juga:  Meningkatkan Sikap Ilmiah dengan Pendekatan Salingtemas

Salah satu metode yang sesuai dan dapat menunjang keterampilan proses adalah metode eksperimen. Penggunaan metode eksperimen dapat mengembangkan berbagai kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor melalui kegiatan-kegiatan : mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan, berusaha mencari dasar teori yang relevan. Kemudian mengamati percobaan, menganalisis dan menyajikan data.

Menyimpulkan hasil percobaan, mengomunikasikan hasil percobaan (membuat laporan. Karena dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan.

Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah harus menguasai teknik-teknik penyajian, atau biasanya disebut metode mengajar (Roestiyah N.K, 1993:1).

Metode ini penulis praktikan pada siswa kelas VI di SDN 2 Campursari,, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung dalam pembelajaran IPA materi membandingkan kemampuan menghantarkan panas dari berbagai benda. Pada pembelajaran ini siswa diarahkan untuk melakukan percobaan dengan menggunakan berbagai jenis logam dan kayu.

Baca juga:  Efektifitas Permainan Happy Kingdom pada Pembelajaran IPA

Logam yang digunakan antara lain, besi kuningan, tembaga, sendok logam, lidi, dan pensil kayu. Siswa diminta meletakkan sedikit mentega di tengah logam dan kayu yang mereka bawa. Kemudian menyalakan lilin dan meletakan di ujung logam dan kayu di atas nyala lilin. Setelah beberapa waktu, mentega akan mulai meleleh terlebih dahulu menunjukan bahwa logam tersebut merupakan konduktor (penghantar panas) yang lebih baik.

Beberapa menit kemudian, siswa diarahkan untuk mencatat urutan logam berdasarkan waktu meleleh dan terjatuhnya mentega dari logam/kayu yang dipegang oleh siswa.
Dengan menggunakan eksperimen, siswa kelas VI di SDN 2 Campursari Kecamatan Ngadirejo dapat mengetahui secara langsung bahwa jenis logam yang berbeda memiliki kemampuan menghantarkan panas yang berbeda pula. Mereka juga menunjukan sikap ilmiah dan dapat mengingat materi dalam eksperimen materi pelajaran IPA tentang konduktor panas yang lebih baik dibandingkan dengan saat guru menyampaikan materi pelajaran menggunakan metode ceramah.

Baca juga:  Mudahnya Membuat Kalimat Berupa Masalah dan Saran dengan Cergam

Metode ini meningkatkan prestasi siswa dalam pembelajaran IPA di SDN 2 Campursari Kecamatan Ngadirejo. Selain itu, keberhasilan penerapan metode eksperimen dalam pembelajaran IPA SD telah dibuktikan oleh Nurhadi (2006). Bahwa pembelajaran dengan metode eksperimen memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi dan motivasi belajar siswa. Ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus serta pernyataan siswa yang menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan metode eksperimen sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar. (dk1/lis)

Guru SDN 2 Campursari, Ngadirejo, Kabupaten Temanggung

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya