alexametrics

Mudah Belajar Procedure Text melalui LSWAQ

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID,Belajar memahami sebuah teks bacaan bahasa Inggris bagi siswa kelas 9 merupakan kendala tersendiri dalam proses pembelajaran. Padahal mereka harus bersiap menghadapi ujian nasional yang sebagian besar soal di dalamnya mengharuskan siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari teks bacaan. Dengan keterbatasan waktu, siswa harus memahami bacaan sekaligus menjawab pertanyaan.

Tidak terbiasanya siswa dalam membaca dan memahami bacaan merupakan kendala utama dalam mempelajari bahasa, khususnya bahasa Inggris. Teks bacaan bahasa Inggris berbeda dengan teks bacaan bahasa Indonesia. Siswa akan lebih mudah memahami teks bacaan bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia digunakan dalam percakapan mereka sehari-hari.

Dalam materi pembelajaran procedure text kelas 9, siswa akan menemui kesulitan ketika mereka diharuskan untuk memahami teks-teks bacaan yang berhubungan dengan cara mengoperasikan alat dan teknologi yang tidak mereka dapatkan dalam kehidupan sehari-hari. Misal, cara mengoperasikan alat penyedot debu, laptop, mesin fotokopi, dan alat-alat komunikasi canggih. Mayoritas siswa tidak mengetahui bentuk dari alat tersebut, apalagi cara mengoperasikannya. Ini akan menjadi kendala utama dalam pembelajaran. Oleh karena itu, Agus Suprijono (2012:112) menyatakan bahwa ada sebuah teknik pembelajaran yang bernama Learning Starts with a Question (LSWAQ) yang dapat mengaktifkan siswa dalam memahami kosakata-kosakata dari teks bacaan dengan tingkat kesulitan yang tinggi.
Adapun langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan teknik LSWAQ. Pertama, guru memilih bacaan-bacaan procedure text dengan tema bagaimana cara mengoperasikan alat dan teknologi. Setelah itu, guru membagi bacaan-bacaan procedure text tersebut kepada siswa.

Baca juga:  Tingkatkan Writing Skill pada Teks Interaksi Interpersonal dengan MetodeTPR

Kedua, siswa dapat mempelajari bacaan yang diberikan oleh guru. Siswa dapat melaksanakan pembelajaran secara individu, berpasangan, atau kelompok. Guru dapat mengatur cara belajar siswa atau siswa sendiri yang memilih dalam cara belajar mereka.

Ketiga, siswa menandai kata, frase, atau kalimat yang belum mereka pahami. Kata-kata, frase-frase, atau kalimat-kalimat yang ditandai merupakan kata-kata, frase-frase, atau kalimat-kalimat yang mereka belum ketahui secara pasti apa makna mereka. Siswa biasanya tidak menemukan makna tersebut dalam kamus. Atau siswa memang merasa bingung dalam menyusun terjemahan dari kalimat-kalimat yang mereka tandai.

Keempat, siswa menggabungkan tanda-tanda dari kata, frase, atau kalimat yang belum dipahami dengan siswa lain. Kegiatan ini dapat dilakukan secara berpasangan atau kelompok.
Kelima, siswa secara berpasangan atau kelompok dapat menuliskan pertanyaan-pertanyaan tentang bacaan-bacaan yang telah mereka baca.

Baca juga:  Solusi Menjaga Kekebalan Diri di Masa Pandemi secara Alami

Keenam, siswa mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang mereka tulis dengan pasangan atau kelompok mereka kepada guru. Ketujuh, guru menjelaskan materi pembelajaran dari pertanyaan-pertanyaan yang ditulis oleh siswa. Siswa juga dapat bertanya sejelas-jelasnya tentang materi pembelajaran tersebut. Selain itu, guru dan siswa membahasa kata-kata, frase-frase, atau kalimat-kalimat telah ditandai oleh siswa.

Teknik pembelajaran ini telah diterapkan kepada siswa kelas 9 semester 1 di SMP Negeri 3 Patebon. Dengan menggunakan teknik pembelajaran ini, siswa dapat dengan mudah memahami dan mengerti secara jelas tentang materi pembelajaran maupun kosakata-kosakata yang dianggap sulit. Sehingga siswa tidak akan menemui kesulitan apabila mereka bertemu dengan soal-soal ujian dengan materi procedure text. Teknik pembelajaran ini telah meningkatkan hasil belajar siswa pada ujian semester maupun ujian nasional. (dj1/lis)

Baca juga:  Perbedaan Kompetensi Guru PAIPB Tersertifikasi Dan Belum Tersertifikasi

Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 3 Patebon, Kabupaten Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya