alexametrics

Memahami Kesulitan Siswa Membaca Akibat Disleksia

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, BERANEKA ragam kepribadian siswa, masih belum lancar membaca. Terutama di kelas 4 SD Negeri 3 Tanggung. Ada juga kelas 3 SD yang belum menghafal abjad dengan benar. Bahkan ada siswa kelas 5, yang baru bisa membaca lancar. Ironisnya, masyarakat memberikan label “bodoh” pada anak yang belum lancar membaca tersebut. Padahal sebenarnya kesulitan belajar membaca dengan lancar merupakan salah satu tanda gangguan disleksia.

Disleksia adalah sebuah gangguan dalam perkembangan baca tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7 hingga 8 tahun. Ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar dan kesulitan dalam memahami, meskipun normal atau di atas rata-rata.

Pada anak usia dini, tanda-tanda gejala awal yang dapat didiagnosa adalah keterlambatan dalam berkomunikasi (pengucapan), huruf terbalik satu sama lain atau menulis seperti dalam bayangan cermin, serta kesulitan dalam memahami arah kiri ke kanan atau sebaliknya, dan mudah terganggu dengan kejadian dimasa lampau. Gejala-gejala dapat termasuk kesulitan mengidentifikasi atau menghasilkan kata-kata berima, atau menghitung suku kata dalam kata-kata (kesadaran fonologi) (sumber :wikipedia).

Baca juga:  Kegiatan Membaca Bersama dengan Big Book di Kelas Awal

Ketika menjumpai anak yang memiliki kebutuhan khusus seperti ini (disleksia), alternatif tindakan yang penulis lakukan di antaranya, menyadari karakteristik setiap anak berbeda, memadukan pembelajaran dengan video, menghindari penggunaan kalimat-kalimat panjang, menggali dan menfokuskan pada potensi yang dimiliki anak, serta membuat pembelajaran tetap nyaman dan menyenangkan bagi anak.

Menyadari bahwa setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda sangat penting bagi pendidik di rumah, di sekolah maupun di masyarakat. Melabel anak “bodoh” akan menyakitkan bagi si anak maupun orang tuanya. Terlebih hal itu akan berakibat tidak baik bagi perkembangan psikis dari si anak.

Bagi orang tua yang mempunyai anak penderita disleksia, perlu dipahami bahwa di luar segala kesulitan yang dialami anak, juga terdapat banyak area minat dan bakat yang luar biasa. Misalnya kemampuan imaginasi yang tinggi, kemampuan berolahraga yang terampil, kemampuan bermusik, dan lain sebagainya. Padahal ada tujuh tokoh ternama dunia yang ternyata menderita disleksia. Muhammad Ali sang legendaris petinju dunia, Leonardo da Vinci pencipta lukisan Monalisa, Agatha Christie penulis novel-novel misteri, John Lennon (salah satu personil band The Beatles) dengan bakatnya yang hebat dalam menulis lirik dan lagu, Steven Spielberg seorang sutradara dan pembual film yang paling fenomenal di masanya Jurassic Park, Albert Einstein penemu teori relativitas, dan Henry Ford seorang entrepreneur yang menjadi penemu Ford Motor Company.

Baca juga:  Asik Belajar Lapisan Bumi dengan MABURLAMI

Stop melabel anak dengan sebutan “bodoh”, karena setiap anak pasti memiliki area minat dan bakat yang siap dikembangkan. Tetap memfokuskan didikan pada pengembangan minat dan bakat anak. Semoga sebagai guru maupun orang tua, kita dapat mengantar anak-anak sebagai generasi penerus bangsa untuk meraih potensi mereka yang maksimal. (dj2/ida)

Guru SD Negeri 3 Tanggung

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya