alexametrics

Konsep Dasar Bilangan Pecahan Menggunakan Metode potong kue

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Selama ini pandangan bahwa matematika merupakan pelajaran yang sangat menakutkan dan membosankan masih belum berubah. Menurut Carraher (dalam Ahmad, 2015) bahwa matematika berkenaan dengan konsep, representasi simbol, dan aturan dalam konteks berpikir manusia.

Matematika merupakan ilmu yang harus dimiliki oleh semua orang, untuk dapat memudahkan dalam mengatasi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini yang menjadikan matematika disebut sebagai ratunya ilmu. Menurut James (dalam Hasratuddin, 2014) matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan besaran dan konsep-konsep berhubungan lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi kedalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisa dan geometri.

Kesulitan siswa kebanyakan adalah dalam mengolah pikirannya untuk membayangkan suatu hal yang abstrak. Contohnya dalam pelajaran perhitungan pecahan. Penulis tertarik untuk membuat metode pembelajaran matematika SMP khususnya pada materi hitung bilangan pecahan dengan semenarik mungkin. Tujuannya melihat peningkatan pemahaman siswa setelah mengetahui metode potong kue saat mempelajari operasi hitung pada bilangan pecahan.

Baca juga:  Pembelajaran Sifat–Sifat Himpunan dengan Indeks Card Macth

Apa yang dimaksud menghitung pecahan dengan memotong kue itu? Menghitung dengan memotong kue adalah menghitung pecahan dengan cara mengilustrasikan bilangan pecahan ke dalam kue. Kita misalkan satu kue adalah bilangan 1, kemudian kita potong kue tersebut menjadi 2 bagian. Ketika kue tersebut kita potong menjadi 2 itu bukan berarti kuenya jadi 2, melainkan kue tersebut menjadi ½, dikarenakan bilangan 1 itu untuk mewakili 1 kue penuh, jadi ketika kue tersebut kita potong maka kue tersebut menjadi 2 bagian kecil dan sehingga kita artikan kue tersebut terbagi menjadi 2. Karena kita menggunakan satu kue maka dua bagian kecil itu kita sebut ½. Begitu juga saat kue tersebut kita potong menjadi 3 bagian, maka potongan kue tersebut menjadi 1/3.

Baca juga:  Penerapan Model Pembelajaran PjBL pada Materi Pembuatan POC

Mari kita lakukan dengan menggunakan 2 kue. Kita misalkan si Andi mempunyai 2 kue dengan rasa yang berbeda, dan dia ingin memberikan beberapa potong kepada Ani. Andi ingin memberikan ¾ kuenya untuk rasa A dan ¼ untuk rasa B. Apa yang harus dilakukan Andi? Andi harus memotong kue-kuenya menjadi beberapa potong dahulu, kita misalkan Andi memotong kuenya masing-masing menjadi ¼ bagian, maka sekarang Andi mempunyai potongan kue ¼ ada 4 bagian untuk kue rasa A. Begitu juga untuk rasa B. karena satu kue saat dipotong menjadi ¼ maka berjumlah 4. Sekarang Andi akan memberikan potongannya ke Ani, bagaimanakah caranya? Untuk rasa A, sebanyak ¾, maka Andi harus memberikan 3 bagian potong kuenya, karena andi mempunyai 4 potong kue, artinya ¼ + ¼ + ¼ = ¾ potong kue (¼ = 1 potong kue). Sedangkan untuk rasa B, sebanyak ¼, maka Andi harus memberikan 1 potongan kuenya. Berapakah sisa kue Andi sekarang? 4/4 adalah satu kue penuh, maka untuk rasa A, 4/4 – ¾ = ¼, dan untuk rasa B, 4/4 – ¼ = ¾.

Baca juga:  Belajar Narrative Text dengan Metode Role Playing

Dengan adanya visualisasi kue pada proses pembelajaran menghitung pecahan, diharapkan kemampuan siswa dalam memvisualisasikan konsep-konsep bilangan pecahan menjadi lebih baik, serta dapat membangkitkan kreativitas siswa. Selain itu, keaktifan siswa dalam pembelajaran juga semakin meningkat dan pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi bilangan pecahan. (dj1/ton)

Guru Matematika SMPN 2 Kesesi Kab. Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya