alexametrics

Berlatih Mandiri saat Pandemi dengan Aritmetika Sosial

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, KEJENUHAN peserta didik yang harus Learn From Home/Stay at Home menuntut guru mampu memberikan tugas pada peserta didik yang bersifat rekreatif, kreatif, dan menunjang kecakapan hidup di masa mendatang.

Hal itu sesuai Surat Edaran Mendikbud nomor 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Pada poin 2 menyatakan proses belajar dari rumah (BDR) dilaksanakan dengan ketentuan, 1) BDR melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. 2) BDR dapat difokuskan pada pemdidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19. 3) Aktivitas dan tugas pembelajaran BDR dapat bervariasi antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah. 4) Bukti atau produk aktivitas BDR diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitaf.

Baca juga:  Solutions to Evercome Student Boredom pada Pembelajaran Daring

Karena itulah, penulis menerapkan pendekatan MIKiR untuk menunjang penguasaan matematika materi Aritmetika Sosial. Caranya, dengan memberikan tugas kepada peserta didik untuk berkreasi membuat makanan atau produk/souvenir dengan bahan-bahan yang sangat sederhana. Kalaupun terpaksa, harus membeli cukup di warung sekitar rumah atau bahkan cukup memanfaatkan belanjaan kebutuhan sehari-hari orang tua.

Pada tugas ini, peserta didik diminta membuat produk misalnya bakwan, mendoan, pisang goreng, pisang coklat, sosis bakar, bros, gantungan kunci atau yang lain. Intinya peserta didik diberi keleluasan untuk berkreasi dan Merdeka Belajar.

Dalam menyelesaikan tugas di rumah, peserta didik berkesempatan melakukan interaksi dengan orang tua, saudara, nenek atau anggota keluarga lainnya. Interaksi ini memberi kesempatan peserta didik untuk lebih akrab dengan anggota keluarga dan mendapatkan tambahan wawasan ataupun ide-ide dari anggota keluarga.

Baca juga:  Tingkatkan Prestasi Belajar Matematika dengan Kuantum pada Pembelajaran Luring

Hal ini sejalan dengan Helmawati (2017: 63) yang menyatakan kebiasaan yang dapat dilakukan pertama-tama dan utamanya dalam keluarga adalah menumbuhkan karakter sportif dan kreatif. Antara lain dengan membiasakan selalu berkreasi dengan melakukan hal-hal baru. Membiasakan dan menggali kemampuan diri seoptimal mungkin dan membiasakan untuk selalu berusaha dan pantang menyerah.
Untuk menunjang materi Aritmetika Sosial, peserta didik diminta menghitung modal sebagai harga beli, dan produk dianggap laku dijual sebagai harga jual, kemudian menghitung keuntungan sampai dengan persentase. Andaikan terpaksa rugi tetap dihitung sampai dengan persentase kerugian. Hasil produk dan perhitungan untung ataupun rugi, peserta didik melakukan Komunikasi dengan orang tua, anggota keluarga yang lain atau guru. Dalam komunikasi ini, bila ada kekurangan atau kekeliruan diharapkan menjadi suatu pengalaman yang berharga.

Baca juga:  Model Berbasis Masalah melalui Window Shopping Tingkatkan Pembelajaran Persamaan Garis Lurus

Kemudian mengajak peserta didik melakukan Refleksi. Hasilnya, peserta didik sangat antusias mengerjakan tugas dengan sebagian besar membuat masakan. Profesi menjadi chef banyak diminati. Hasil tugas dikirim lewat link google form. Jika terpaksa, diizinkan kirim foto lewat whatsapp (WA).

Tugas BDR diharapkan sebagai modal kecakapan hidup sehingga mampu menghadapi tantangan pada zamannya. Jadi kegiatan rekreatif dan kreatif ini menepis anggapan bahwa Generasi Rebahan yang hanya tiduran/banyak tidur di rumah. Tapi menjadi generasi yang Kreatif, Pantang Menyerah dan siap dengan Tantangan Zamannya. (dj1/ida)

Guru Matematika SMP Negeri 2 Brangsong, Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya