alexametrics

TGT Tingkatkan Hasil Belajar IPA

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu pelajaran yang diajarkan pada jenjang pendidikan formal, baik dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Pendidikan IPA diharapkan menjadi wahana bagi peserta didik untuk dapat mempelajari diri sendiri dan alam semesta serta prospek pengembangan lebih lanjut.

Kenyataan di lapangan masih banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam pemahaman IPA. Peserta didik kelas VI SDN Karangrejo 02, Kecamatan Gjahmungkur, Kota Semarang masih mengalami kesulitan dalam pemahaman IPA sehingga hasil belajarnya belum mencapai nilai ketuntasan minimal.

Guru mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Robert E Slavin (2005 : 166-167) menyatakan bahwa pembelajaran TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang melibatkan aktivitas seluruh peserta didik tanpa harus ada perbedaan status. TGT memberi kesempatan yang sama kepada semua peserta didik untuk belajar secara aktif. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran TGT memungkinkan peserta didik dapat belajar lebih rileks, menumbukhan rasa tanggung jawab, kerja sama, persaingan dan keterlibatan belajar.

Baca juga:  Pembelajaran Asyik Materi Perkembangbiakan pada Manusia dengan Google Classroom

Sintaks TGT ada lima komponen dalam penerapannya yaitu : 1) Penyajian Kelas. Pada saat penyajian kelas peserta didik harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan oleh guru, karena akan membantu peserta didik bekerja lebih baik pada saat kerja tim dan pada saat games karena skor games akan menentukan skor tim. 2) Kelompok (team). Kelompok biasanya terdiri dari empat sampai lima orang peserta didik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat games. 3) Pemainan (games). Kebanyakan games terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan. 4) Pertandingan (tournament). Untuk memulai turnamen masing-masing peserta mengambil nomor undian. Siswa yang mendapat nomor terbesar sebagai reader 1, terbesar kedua sebagai chalenger 1, terbesar ketiga sebagai chalenger 2, terbesar keempat sebagai

Baca juga:  Blended Learning Masa Pemulihan Pembelajaran, Tingkatkan Keterampilan Siswa Menulis Teks Tanggapan

Chalenger 3. Dan kalau jumlah peserta dalam kelompok itu lima orang maka yang mendapatkan nomor terendah sebagai reader 2. Reader 1 tugasnya membaca soal dan menjawab soal pada kesempatan yang pertama. Chalenger 1 tugasnya menjawab soal yang dibacakan oleh reader 1 apabila menurut chalenger 1 jawaban reader 1 salah, Chalenger 2 tugasnya adalah menjawab soal yang dibacakan oleh reader 1 tadi apabila jawaban reader 1, dan chalenger 1, menurut chalenger 2 salah. Chalenger 3 tugasnya adalah menjawab soal yang dibaca oleh reader 1 apabila jawaban reader 1, chaleger 1, chaleger2 menurut chalenger 3 salah. Reader 2 tugasnya adalah membaca kunci jawaban. Permainan dilanjutkan pada soal no dua. Posisi peserta berubah searah jarum jam. Yang tadi menjadi chalenger 1 sekarang menjadi reader 1, chalenger 2 menjadi chalenger 1, chalenger 3 menjadi chalenger 2, reader 2 menjadi chalenger 3, reader 1 menjadi reader 2. Hal itu terus dilakukan sebanyak jumlah soal yang disediakan guru. 5) Penghargaan kelompok (team recognise). Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila skor memenuhi kriteria yang ditentukan. (pai1/ton)

Baca juga:  Belajar Operasi Hitung Bilangan Bulat Mudah dengan Media Kobil

Guru SDN Karangrejo 02 Kota Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya