alexametrics

TPS Alternatif Metode Pembelajaran Materi Hidup Rukun di Sekolah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Jenjang sekolah dasar saat ini dilakukan pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik merupakan program dari sebuah pembelajaran yang berawal dari suatu tema atau topik kemudian dielobarasi dan diintegrasikan berbagai perspektif mata pelajaran dalam proses pembelajaran jenjang sekolah tersebut.

Metode Think Pair Share (TPS) merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang melibatkan interaksi aktif antara pendidik dan peserta didik. Berdasarkan nama dari metode ini secara singkat dapat diartikan bahwa pembelajaran mengacu pada pola berpikir, berpasangan, dan berbagi. Ketiga pola ini yang akan menjadikan pembelajaran aktif dan tidak monoton. Keaktifan peserta didik membuat pembelajaran semakin menyenangkan dan menjadi inovasi tersendiri bagi pendidik dalam mengembangkan kegiatan belajar mengajar.

Metode Think Pair Share (TPS) dapat diimplementasikan dalam pembelajaran jenjang sekolah dasar yakni materi subtema hidup rukun di sekolah. Materi ini memberikan pemahaman bahwa toleransi adalah hal yang penting dalam aktivitas sehari-hari. Kemudian, menghargai dan menghormati pendapat teman sehingga dapat menerima secara rasional dan lapang dada atas jawaban yang telah diputuskan secara bersama-sama. Melalui pola berpikir, berpasangan, dan berbagai maka materi ini sangat tepat menggunakan metode TPS. Hal ini karena peserta didik dapat secara langsung mempraktikan hidup rukun di sekolah tanpa hanya memahami lewat teori semata.

Baca juga:  Merdeka Belajar Bersama Mading Bunasen

Adapun kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik apabila menggunakan metode Think Pair Share (TPS) dalam pembelajaran subtema hidup rukun di sekolah yakni: pertama, pendidik memberikan stimulus dengan bertanya dan memberikan bacaan kepada peserta didik sesuai subtema dengan mata pelajaran sebagai contoh implementasi adalah PPKn. Sesuai mata pelajaran tersebut kemudian pendidik mengaitkan penerapan dengan sila ke-4 dan sila ke-5 melalui timbal balik bertanya, memberi arahan dan proses menulis ke buku catatan peserta didik. Kedua, pendidik membentuk peserta didik berkelompok yang terdiri atas dua peserta didik dalam satu kelompok. Sebagai catatan pendidik melakukan pengelompokan berdasarkan hasil pretest yang telah dilakukan sebelumnya sehingga pembagian kelompok sesuai dengan kemampuan kognitif. Peserta didik dalam satu kelompok saling mendiskusikan hasil jawaban di masing-masing buku catatan peserta didik dengan bertukar ide dan gagasan, apabila antar peserta didik dalam satu kelompok memiliki jawaban yang dianggap lebih tepat maka dapat menjadi masukan dan dicatat dalam buku catatan tersebut. Ketiga, peserta didik mempresentasikan hasil dari diskusi atau bertukar ide dalam satu kelompok tersebut. Presentasi yang dilakukan bersifat terbuka sehingga apabila pendidik atau peserta didik lain memiliki ide dan masukan lain dapat menjadi catatan tambahan.

Baca juga:  Tingkatkan Kemandirian Siswa dengan Problem Posing dan Media

Apabila ketiga proses tersebut telah selesai dilakukan maka pendidik mengambil alih pembelajaran dengan mengaitkan implementasi kehidupan sehari-hari dengan mata pelajaran lain. Suasana kelas yang kondusif juga menjadi prioritas dalam penyampaian materi pembelajaran, maka dalam praktiknya pendidik juga memberikan arahan dan bimbingan kepada peserta didik agar tidak ada kericuhan dalam kelas. Pengawasan ini dilakukan juga agar peserta didik merasa nyaman, percaya diri, dan bangga dalam menyampaikan ide gagasannya. (ips1/ton)

Guru SDN Genuksari 01 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya