alexametrics

Flipped Method dalam Pembelajaran Bahasa Inggris di Masa Pandemi Covid-19

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID,Saat ini kita sudah memasuki generasi Z, peserta didik benar-benar harus familiar dengan teknologi dan gadget apalagi dimasa masa pandemi Covid-19. Untuk pencegahan penyebaran virus guru dan peserta didik harus belajar dengan konsep daring atau tidak bisa mengadakan kegiatan pembelajaran secara langsung.

Generasi Z ini sangat dekat dengan teknologi dan gadget dan secara usia sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja, yaitu dengan menempuh proses belajar pada tingkat kejuruan.
Menyikapi karakteristik generasi Z, yang merupakan usia para peserta didik saat ini, maka menjadi guru di era sekarang dituntut untuk tidak hanya memiliki PCK (Pedagogical Content Knowledge) yaitu konsep yang pertama kali dikenalkan oleh Shulman (1986), mamun, dibutuhkan juga satu aspek tambahan yaitu technological knowledge.

Baca juga:  Writing Skill Tetap Asyik dengan VCD

Aspek penggunaan teknologi menjadi hal mendasar yang perlu diperhatikan oleh guru di era sekarang, namun itu bukanlah segalanya. Teknologi merupakan alat yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan pengalaman bermakna dalam proses belajar mengajar.

Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan menerapkan konsep flipped classroom. Menurut Bergmann & Sam (2012) metode flipped classroom adalah pendekatan pedagogis inovatif yang berfokus pada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan membalik sistem pembelajaran kelas tradisional yang selama ini dilakukan oleh guru.

Metode flipped classroom ini memang memiliki banyak manfaat (McLaughlin et al, 2014), flipped classroom adalah bentuk pembelajaran blended (melalui interaksi tatap muka dan virtual/online) yang menggabungkan pembelajaran sinkron (synchronous) dengan pembelajaran mandiri yang askinkron (asynchronous).

Baca juga:  Pembelajaran Menulis Teks Prosedur dengan Metode Discovery Learning

Pembelajaran sinkron biasanya terjadi secara real time di kelas. Peserta didik berinteraksi dengan seorang guru dan teman sekelas serta menerima umpan balik pada saat yang sama. Sedangkan, pembelajaran asinkron adalah pembelajaran yang sifatnya lebih mandiri. Konten biasanya diakses melalui beberapa bentuk media pada platform digital. Peserta didik dapat memilih kapan mereka belajar dan juga mereka dapat mengajukan pertanyaan di kolom komentar, serta berbagi ide atau pemahaman mereka tentang sebuah materi dengan penngajar atau teman sekelas. Sedangkan, umpan balik akan diterima mereka tidak pada saat yang sama.

Video adalah media yang sering digunakan sebagai input untuk belajar mandiri karena dapat diakses dan memungkinkan siswa untuk berhenti dan menonton kembali konten sesuai kebutuhan. Teks dan audio juga dapat digunakan sebagai konten untuk menyampaikan materi dan memastikan siswa sepenuhnya siap untuk kelas sinkron.

Baca juga:  Muasabah Diri Meningkatkan Pemahaman Siswa pada Empati Terhadap Kedua Orangtua

Pelaksanaan metode flipped learning yang dikaitkan pada bloom taxonomy dalam proses pembelajaran merupakan salah satu bentuk implementasi Pedagogi Ignasian yang dijiwai oleh peserta didik SMK 1 Kedungwuni.

Metode flipped learning yang berfokus pada peserta didik inilah, penerapan pedagodi reflektif dapat mencapai siklus pembelajaran dalam skala konsep hingga evaluasi. Guru perlu memberikan ruang dan kesempatan kepada peserta didik untuk secara penuh terlibat dalam proses pembelajaran dengan memberikan kepercayaan dan tanggung jawab pembelajaran. Dilengkapi dengan pendekatan yang tepat dan pemantauan terstruktur, mengarah pada pengembangan yang lebih menyeluruh. (ips1/lis)

Guru Bahasa Inggris SMK Negeri 1 Kedungwuni

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya