alexametrics

Belajar Materi Zakat Efektif dengan Discovery Learning

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran pendidikan Agama Islam saat ini masih mengutamakan hasil dari aspek kognitif saja. Adanya anggapan bahwa Agama Islam adalah sebuah doktrin yang harus diterima tanpa boleh didiskusikan menjadi suatu tantangan tersendiri dalam pembelajaran. Persoalan yang dihadapi penulis di SMP Negeri 31 Semarang adalah banyak peserta didik yang kurang antusias terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam, sehingga harus dicari cara agar pembelajaran berlangsung lebih menarik dan hasil sesuai dengan tujuan.

Discovery learning menurut Kartini Kartono adalah situasi belajar di mana subjek harus menemukan isi sendiri atau prinsip dan kemudian memadukan hal-hal tersebut ke dalam tingkah laku dan cara berpikirnya. (Kartini Kartono, Kamus Psikologi, Bandung: Pionir Jaya, 1987), h. 12). Discovery learning merupakan suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai wujud adanya perubahan perilaku. (Hanafiah dan Cucu Suhana, 2009)

Baca juga:  Supervisi Manajerial Pengawas Kekepan, Pentingnya Renstra Madrasah

Dipilihnya model pembelajaran discovery learning dengan pendekatan saintifik dalam materi zakat, karena model ini memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berpikir, menemukan, berpendapat, dan saling bekerja sama melalui aktivitas belajar secara ilmiah. Peserta didik memiliki kesempatan untuk belajar materi tentang zakat dan segala persoalan yang terkait, agar teori yang mereka pelajari sinkron dengan zakat yang mereka praktikkan.

Dalam discovery learning, ada beberapa tahapan yang harus dilalui, yaitu; a) Stimulation (Pemberian rangsangan), guru memulai pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan seputar zakat. Misalnya, apa yang dimaksud dengan zakat, apa saja syarat-syaratnya, atau siapa saja yang berhak menerimanya. Guru menganjurkan peserta didik untuk membaca buku dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah; b) Problem statement (Identifikasi masalah). Pada tahap ini, peserta didik mencari dan mengumpulkan sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan zakat kemudian menentuakan hipotesis dan menganalisisnya; c) Data Collection (Pengumpulan data). Pada tahap ini, peserta didik mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang materi zakat. Data didapat dari buku paket, buku pendamping, internet, eksperimen, atau sumber lain yang relevan; d). Data Processing (Pengolahan Data) Pada tahap ini, informasi yang telah didapat peserta didik kemudian diolah atau ditafsirkan; e) Verification (Pembuktian) Pada tahap ini, peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan data hasil proses; f) Generalization (Menarik kesimpulan) Pada tahap ini, peserta didik menarik sebuah kesimpulan yang dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.

Baca juga:  Integrasikan Budi Pekerti dengan Mapel yang Relevan, Kuatkan Karakter Siswa

Setelah melalui serangkaian prosedur tersebut, guru kemudian melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Pembelajaran dengan model discovery learning di Kelas 9 SMP Negeri 31 Semarang dalam materi zakat telah berhasil meningkatkan semangat belajar dan hasil belajar siswa. (ips1/ton)

Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP Negeri 31 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya