alexametrics

Kolaborasi dengan Orang Tua Siswa Atasi Kendala PJJ

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN daring di SMPN 2 Kaliwungu terbentur banyak kendala. Tidak semua siswa berasal dari keluarga mampu sehingga tidak semua memiliki smartphone yang bisa digunakan untuk pembelajaran daring. Diperburuk dengan kurang stabilnya sinyal di daerah pedalaman. Para orang tua peserta didik merasa keberatan dalam membeli kuota. Apalagi tidak semua orang tua mampu memberikankan bimbingan dalam belajar online, karena ketidaktahuannya dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran. Peserta didik pun merasa jenuh belajar di rumah. Solusi untuk mengatasi hal tersebut, butuh peranan guru bimbingan konseling (BK) atau konselor yang bekerjasama dengan wali kelas untuk menentukan langkah selanjutnya.

Dalam hal ini, wali kelas harus menyerahkan data siswa kepada guru BK/konselor sekolah tentang siswa yang kurang respon atau tidak ada respon sama sekali dalam pembelajaran daring. Guru BK menerima data tersebut selanjutnya mencari penyebab atau latar belakang, mengapa peserta didik kurang ada respon atau tidak respon dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) tersebut.
Berikutnya, guru BK mengelompokkan penyebab siswa kurang respon atau tidak respon terhadap sistem PJJ dengan menggunakan pendekatan psikologis. Melakukan pengembangan individual siswa ke arah kesehatan rohaniah yang mengarah terbentuknya kepribadian yang bulat dan sehat. Yakni yang didasari nilai–nilai agama, sehingga berkembang menjadi kekuatan pengendali terhadap segala bentuk tingkah laku sehari–hari. Selain itu, butuh pendekatan pedagogogis, karena siswa tanpa dibimbing tidak akan sampai pada titik optimal.

Baca juga:  Serunya Belajar Asmaul Husna dengan Make A Match

Siswa yang orang tuanya tidak punya smartphone, dianjurkan untuk datang ke laboratorium komputer sekolah. Di bawah bimbingan tim IT sekolah, peserta didik dapat mengerjakan tugas atau mengikuti pembelajaran daring. Tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan. Dibentuk kelompok, tiap kelompok lima peserta didik.

Bagi peserta didik dan orang tuanya yang belum mampu penggunaan teknologi, maka guru BK bersama guru bidang studi atau wali kelas melakukan door to door ke peserta didik tersebut untuk melakukan pembimbingan kolaborasi dengan orang tua. Bagi siswa yang kurang mampu dalam pembelian kuota, tapi bisa menguasai IT, maka sekolah memberikan subsidi pembelian kuota.
Kepada orang tua siswa yang anaknya jenuh belajar di rumah, perlu diberikan pembelajaran yang variatif dan kreatif. Terutama dalam membangun interaksi dengan anak. Karena dengan interaksi yang baik, diharapkan bisa menjadikan perasaan anak tidak merasa kehilangan interaksi fisik yang biasa dimiliki di sekolah bersama teman-temannya. Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak agar anak mau bertanya dan mau mengungkapkan kesulitan atau perasaannya.

Baca juga:  Asyiknya Mengenal Karakteristik ASEAN melalui Crossword Puzzle

Dalam perkembangan berikutnya, guru terus melakukan pemantauan terhadap siswa yang bersangkutan, melalui laporan dari guru bidang studi dan wali kelas serta orang tua siswa. Hasilnya, ternyata banyak kemajuan. Peserta didik jauh lebih aktif mengikuti kegiatan pembelajaran daring. Karena itu, kolaborasi antara guru BK, tim IT sekolah, wali kelas, pihak sekolah dan orang tua siswa, dapat mengurangi kendala yang dihadapi siswa dalam sistem PJJ selama masa pandemi Covid-19. (dj2/ida)

Guru BK SMPN 2 Kaliwungu, Kabupaten Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya