alexametrics

Kembangkan Keanekaragaman Budaya Sendiri dengan Bahasa Jawa

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, GURU memiliki hak dan kewajiban untuk mengenal bahasa anak. Khususnya pengetahuan, menanamkan karakter atau budi pekerti dan menjaga kesehatan jasmani siswanya. Dengan pendidikan akan menjadikan siswa sebagai manusia yang memiliki kemampuan mengembangkan imtak dan imteknya serta menjadikan jasmani dan rohaninya berkembang. Karakter atau budi pekerti yang dapat ditanamkan kepada siswa salah satunya yaitu sopan santun (puisi).

Sopan santun (puisi) merupakan salah satu sikap yang menunjukan ciri khas bangsa Indonesia. Sikap ini menjadi ciri khas bangsa Indonesia karena Pancasila sebagai kepribadian bangsa dapat diwujudkan dalam sikap mental dan tingkah laku setiap warga negaranya. Tingkah laku siswa yang menunjukkan kepribadian bangsa di antaranya siswa memiliki sopan santun dalam pergaulannnya dan dapat bersikap menghormati teman, guru, orang tua atau orang lain dengan berbicara yang tepat. Berbicara yang tepat dapat diartikan berbicara atau bertutur kata yang halus, menggunakan kata-kata yang tidak menyinggung hati orang lain, memilih kata dan bahasa yang tepat pada saat berbicara dengan teman, guru ataupun orang tuanya.

Baca juga:  Belajar Operasi Hitung Bilangan Bulat Lebih Menarik dengan Permainan Zuzo

Sikap tersebut dapat ditanamkan kepada siswa dengan menggunakan bahasa Jawa. Penumbuhan sikap sopan santun pada siswa dengan penggunaan bahasa Jawa dapat dilakukan dalam pergaulan di rumah, sekolah dan lingkungan masyarakat. Penanaman sikap sopan santun yang dapat dilakukan guru di lingkungan sekolah yaitu dengan memberikan pembiasaan diri siswa untuk berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Pembiasaan ini diberikan pada saat siswa berkomunikasi di luar jam pelajaran, bergaul dengan siswa lain, berkomunikasi dengan guru dan warga sekolah lainnya. Guru dapat memberikan contoh dengan cara berkomunikasi dengan siswa, menegur dan menyapa siswa dengan menggunakan bahasa Jawa serta memberikan penguatan kepada siswa yang telah berusaha menggunakan bahasa Jawa saat berinteraksi dengan teman ataupun warga sekolah lainnya.

Baca juga:  PHT Ketrampilan Merangsang Ekonomi Kreatif

Bahasa Jawa sangat baik dan penting untuk menanamkan sopan santun kepada siswa. Sebab, di dalam bahasa Jawa memiliki unggah-ungguh, yaitu adat sopan santun, tata krama, tata susila dalam menggunakan bahasa Jawa. Unggah-ungguh ini sangat banyak dan bertingkat. Minimal siswa terampil dalam penggunaan unggah-ungguh yang meliputi, 1) penggunaan bahasa Jawa ngoko digunakan untuk berbicara kepada teman sebaya. Bahasa Jawa ngoko ada jenis lain yaitu ngoko alus yang digunakan untuk berbicara kepada teman sebaya tetapi lebih menunjukkan bahwa kita lebih menghargai dan menghormatinya. Penggunaan bahasa Jawa ngoko alus ini lebih baik digunakan siswa dalam kegiatan sehari-hari untuk menumbuhkan sikap menghargai, menghormati temannya sehingga mengurangi pertengkaran sesama siswa, menumbuhkan rasa kebersamaan dan kerukunan. 2) Bahasa Jawa krama inggil digunakan untuk berbicara kepada orang yang lebih tua, orang tua, guru ataupun orang lain yang baru dikenal. Tujuannya untuk lebih menghormati dan menghargai mereka. Contohnya, “Bapak badhe tindhak pundi?” dan “Pak guru ngasta teng pundi?”

Baca juga:  Belajar Asyik Aksara Jawa dengan Book Creator

Berdasarkan unggah-ungguh bahasa Jawa tersebut terlihat bahwa terdapat perbedaan penggunaan kata atau bahasa yang digunakan untuk berbicara dengan teman atau orang yang lebih tua. Hal ini akan melatih siswa untuk membedakan bagaimana bersikap dan berbicara yang baik atau sopan terhadap orang tua atau gurunya. (fbs1/ida)

Guru SDN 3 Pekiringanalit, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya