alexametrics

Setoran Hafalan melalui Pemanfaatan Fitur Video Call Whatsapp

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEJAK pemerintah Indonesia menetapkan adanya pandemi covid-19, mulai pertengahan bulan Maret 2020 lalu, pendidikan menjadi salah satu aspek kehidupan yang terdampak paraturan pemerintah untuk memutus tali penyebaran covid-19. Pemerintah mengeluarkan kebijakan belajar berupa sistem BDR atau Belajar Dari Rumah untuk semua tingkatan, dari PAUD sampai perguruan tinggi. Belajar yang tidak dilaksanakan dengan tatap muka, tetapi secara online atau daring.

Proses pembelajaran via online oleh satuan pendidikan dilakukan melalui berbagai aplikasi, ada yang menggunakan video conference seperti Zoom Cloud Meeting, Google Meet, Cisco Webex Meeting, dan lain-lain. Ada juga yang menggunakan aplikasi belajar online seperti Ruangguru, Quipper School, Zenius, dan sebagainya. Bahkan ada juga yang memanfaatkan media sosial seperti Instagram dengan fitur live-nya atau Whatsapp yang dapat digunakan seluruh fiturnya. Sebagaimana mata pelajaran PAI di SMPN 29 Semarang yang menggunakan Whatsapp sebagai media dalam melakukan proses pembelajarannya. Pemilihan Whatsapp sebagai media karena sebagian besar peserta didik atau orang tua mereka memiliki aplikasi ini. Utamanya karena Whatsapp merupakan aplikasi yang penggunaannya mudah dan tidak boros kuota.

Baca juga:  Mendalami Salat melalui Think Pair and Share

Pembelajaran dengan sistem seperti ini tentu bukan suatu hal normal bagi sebagian besar satuan pendidikan di Indonesia, dan kondisi yang tidak biasa ini ‘memaksa’ kita untuk mampu cepat beradaptasi. Sehingga berbagai cara ditembus guru agar tujuan pembelajaran tercapai. Oleh karena itu, penilaian digunakan untuk mengukur ketercapaian sebuah tujuan dari pembelajaran.

Penilaian pembelajaran mencakup tiga ranah, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sepanjang kondisi belajar ini berlalu, guru terlihat sulit untuk menyentuh aspek afektif dan psikomotorik. Mengingat penilaian yang digunakan pada sisdiknas yang tertuang dalam kurtilas periode ini adalah penilaian berbasis autentik. Penilaian langsung yang dilakukan oleh guru dengan observasi melalui pengamatan. Namun, selalu ada kemudahan dalam setiap kesulitan. Penilaian psikomotorik yang dilakukan guru mata pelajaran PAI di SMPN 29 Semarang memanfaatkan fitur video call pada aplikasi whatsapp. Langkah ini digunakan karena guru harus menilai bacaan dan hafalan surat pilihan peserta didik. Teknis penilaian ini memiliki sifat yang fleksibel, karena setoran dapat dilakukan di luar jam pembelajaran yang telah ditentukan yaitu pada malam hari setelah salat maghrib. Akivitas pembelajaran seperti ini bagi peserta didik tampaknya unforgettable, karena peserta didik belum pernah bertatap muka langsung dengan guru secara virtual. Jumlah peserta didik yang harus melakukan setoran hafalan ini mencapai angka tiga ratusan.

Baca juga:  Discovery Learning Jadikan Siswa Kreatif, Inovatif, dan Keingintahuan Besar

Jika diukur dengan kemampuan fisik guru, tentu lelahnya tubuh sangat terasa. Namun cara ini dianggap yang terbaik dibandingkan sekedar menyuapkan materi PAI kepada anak atau tujuan pembelajaran terancam kacir. Abdul Majid dalam bukunya “Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam” (Rosyda Karya, Bandung: 2014) menyebutkan bahawa Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur’an dan Al-Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Prinsip inilah yang menjadi landasan guru PAI di SMPN 29 Semarang untuk mengusahakan tercapainya tujuan pembelajaran. (ips1/zal)

Baca juga:  Asyik dan Ceria dengan Modeling The Way

Guru SMPN 29 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya