alexametrics

Meningkatkan Resiliensi melalui Konseling Kelompok Rasional Emotif

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SETIAP orang sepakat bahwa pendidikan adalah investasi hidup yang paling berharga. Melalui pendidikanlah upaya mencetak Sumber Daya Manusia yang berkualitas, beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur dan berkemampuan tinggi akan dapat dicapai.

Sebagaimana diamanatkan dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Namun demikian dalam upaya mencapai tujuan pendidikan tidak selamanya berjalan dengan lancar. Di sekolah banyak sekali ditemui peserta didik yang mengalami hambatan dalam pencapaian tujuan pendidikan karena mengalami masalah.

Berdasarkan hasil analisis assesmen AKPD serta observasi pada siswa kelas 9 SMP Negeri 2 Warungasem, dijumpai peserta didik yang mengalami masalah, peserta didik yang mengalami masalah,sebagian dari mereka berasal dari keluarga yang broken home atau tidak utuh, apalagi kondisi sekarang ini yang penuh dengan perubahan dan tuntutan, tidak jarang menimbulkan dampak yang tidak menyenangkan, untuk menghadapi kondisi dan masalah tersebut peserta didik perlu membangun kekuatan individu, dalam hal ini resiliensi dianggap sebagai kekuatan dasar yang menjadi pondasi dari semua karakter positif dalam membangun kekuatan emosional dan psikologikal seseorang.

Baca juga:  Bimbingan Karir melalui Home-Based Career Education Model

Resiliensi merupakan kemampuan atau kapasitas insani yang dimiliki seseorang, kelompok atau masyarakat yang memungkinkannya untuk menghadapi, mencegah, meminimalkankan dan bahkan menghilangkan dampak-dampak yang merugikan dari kondisi – kondisi yang tidak menyenangkan, atau bahkan mengubah kondisi kehidupan yang menyengsarakan menjadi suatu hal yang wajar diatasi, artinya resilensi akan membuat sesorang berhasil menyesuaikan diri dalam berhadapan dengan kondsi – kondisi yang tidak menyenangkan, perkembangan sosial, akademis, kompetensi vokasional, dan bahkan dengan tekanan hebat yang inheren dalam dunia sekarang sekalipun. Resiliensi merupakan suatu kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan setiap orang.

Pendekatan rasional emotif merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam layanan konseling kelompok, di mana dalam layanan konseling kelompok mempunyai tujuan membantu individu anggota kelompok agar dapat mengurangi pandangan diri yang berpusat pada perusakan diri dan bersama-sama mencapai pandangan realistis dan berpandangan toleran satu sama lain, saling mengarahkan ke perasaan pantas, dan berlatih bersama guna perubahan perilaku sebagai perwujudan pemikiran rasional dan emosi pantas, serta menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri.

Baca juga:  Konseling untuk Mengatasi Konflik Anak dan Orang Tua

Prosedur kelompok dan teknik-teknik pengubahan dalam konseling kelompok rasional emotif adalah konsisten dengan konsep tentang dinamika kepribadian yang telah berperan menimbulkan masalah invidu. Dalam hal ini menggunakan konsep A-B-C yang dilanjutkan dengan D (Dispute : penentangan, menentang) atau (Debate : debat, mendebat) yaitu usaha konselor mengajar dan melatih klien dalam belajar cara – cara kognitif dalam mendebat, menemukan alasan-alasan logis bahwa pandangan semula adalah salah. Akibat selanjutnya akan muncul E (Effect yaitu suatu hasil kognitif baru) atau pandangan baru, individu klien berpandangan sesuai dengan yang diharapkan (B) terhadap (A). Dengan demikian konsep utuh penyembuhan rasional emotif adalah A-B-C-D-E.

Jika dilihat dari tujuan konseling kelompok dangan pendekatan rasional emotif sangat relevan bila diterapkan dalam upaya meningkatkan resiliensi peserta didik, dimana melalui konseling kelompok dengan pendekatan rasional emotif anggota kelompok diberi kesempatan untuk belajar cara-cara memahami keadaan kehidupan dan memberikan reaksi rasional pada keadaan itu, sehingga mengurangi gangguan bagi diri individu, selain itu anggota kelompok belajar memahami sumber masalah mereka dan menggunakan pemahaman kognitif (insight) untuk mengatasi gejala-gejala masalah dan belajar perilaku lebih pantas yang pada akhirnya diharapkan terciptanya resiliensi anggota kelompok, sehingga dari tujuan tersebut melalui layanan konseling kelompok dengan pendekatan rasional emotif dapat meningkatkan resiliensi peserta didik. (ips2/zal)

Baca juga:  Belajar Mudah Memperkenalkan Orang Lain Menggunakan Family Tree

Guru BK SMPN 2 Warungasem Kabupaten Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya