alexametrics

Tingkatkan Pemahaman Bangun Ruang melalui Pembelajaran Kontekstual

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, MATEMATIKA memiliki keterkaitan dan menjadi pendukung berbagai bidang ilmu serta berbagai aspek kehidupan manusia. Tetapi di sisi lain, matematika juga dianggap sebagai mata pelajaran yang cukup sulit bagi siswa, bahkan cukup menakutkan bagi beberapa siswa. Hal ini terlihat pada saat pembelajaran berlangsung di SMP Negeri 16 Semarang hampir 60 persen di antara para siswa memiliki ketahanan pribadi dalam belajar matematika masih rendah, data yang lain dapat dilihat dari hasil wawancara beberapa siswa. Sedikit siswa yang mengajukan pertanyaan dan berani menjawab pertanyaan atau menanggapi pendapat temannya, kurang berani mengambil risiko (takut salah), kebiasaan mencontoh pekerjaan temannya dan kurang terlibat aktif dalam kelompok (cemas), merupakan indikasi lemahnya ketahanan pribadi (keuletan) siswa dalam belajar matematika.

Baca juga:  Antusiasme Siswa Belajar Integral melalui Tayangan Video

Kondisi di kelas juga diperparah dengan pengelolaan guru dalam proses pembelajaran, masih kuatnya dominasi guru dalam proses pembelajaran, guru secara aktif menjelaskan materi, memberikan contoh dan latihan, sementara siswa bekerja secara prosedural dan memahami matematika tanpa penalaran. Di samping itu, guru dalam pembelajarannya masih indoktrinasi yaitu mendudukkan dirinya sebagai maha tahu, maha benar. Dalam proses pembelajarannya, guru belum mengembangkan kemampuan belajar siswa dalam berpikir kritis, logis dan kreatif. Dampaknya, nilai matematika peserta didik masih rendah atau masih di bawah batas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Model pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata peserta didik. Pembelajaran kontekstual memiliki dua peranan dalam pendidikan yaitu sebagai filosofi pendidikan dan sebagai rangkaian kesatuan dari strategi pendidikan (Nurhadi, 2003), dengan pembelajaran kontekstual peserta didik diajak untuk menghubungkan masalah dalam bangun ruang dengan kehidupan sehari-hari sebagai gambaran yang dapat dilakukan adalah, pertama, peserta didik mengingat materi pra syarat tentang luas dan keliling bangun datar. Kedua, peserta didik diajak memahami pengertian dan jenis bangun ruang. Ketiga, dibentuk kelompok untuk menemukan rumus luas dan volume bangun ruang. Keempat, setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok dan kelompok yang lain menanggapi hasil kerja kelompok yang dipresentasikan. Kelima, guru bersama-sama peserta didik untuk membuat rangkuman yang dibahas dan untuk memperdalam materi dapat diberikan beberapa soal yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Baca juga:  Bikin Siswa Aktif Belajar Bangun Datar dengan NHT

Dari pengalaman penulis dengan cara ini pemahaman peserta didik meningkat cukup signifikan dan dapat menumbuhkan rasa percaya diri, keberanian menyampaikan pendapat, berani bertanya apabila mengalami kesulitan, terjalin kerjasama kelompok yang baik, dan yang paling utama peserta didik dapat berpikir kristis, logis dan kreatif. Sebagai hasil akhir yang penulis alami ada peningkatan nilai rata-rata peserta didik dari 65,45 menjadi 81,45. (fbs1/ida)

Guru Matematika SMPN 16 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya