alexametrics

Meningkatkan Hasil Belajar IPS dengan Mengunjungi Situs Budaya Lokal

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Capaian hasil pembelajaran IPS di suatu sekolah ditentukan oleh perbedaan kondisi sosial budaya masyarakatnya. SMPN 2 Warungasem terletak di daerah yang masyarakatnya memiliki kesadaran pendidikan rendah, sehingga berpengaruh dalam capaian prestasi belajar mata pelajaran IPS. Salah satu usaha yang ditempuh guru IPS kelas VII untuk meningkatkan capaian hasil belajar siswa dalam pembelajaran Kehidupan Masyarakat pada Masa Hindu-Buddha melaksanakan kegiatan pembelajaran di luar kelas melalui kegiatan kunjungan belajar ke situs budaya lokal di Kabupaten Batang.

Kabupaten Batang memiliki peninggalan situs-situs budaya lokal yang tersebar di sepanjang daerah pantai utara Jawa Tengah, diantaranya adalah Arca Ganesha Silurah. Pantai utara Kabupaten Batang merupakan sebuah teluk besar yang sangat landai dan dialiri oleh tiga buah sungai besar yang bermuara di Laut Jawa, yaitu Sungai Kuto, Sungai Sambong dan Sungai Gede. Ketiga sungai tersebut (khususnya Sungai Kuto), berhulu tepat di Gunung Prahu sebelah utara bagian dari dataran tinggi Dieng yang ditemukan monumen Hindu tertua di Jawa Tengah pada abad VII Masehi (Sofyan Noerwidi, 2010 : 36). Laporan penelitiannya tahun 2014 menyatakan bahwa Kabupaten Batang berpotensi sebagai salah satu daerah yang menjadi “pintu” masuk anasir kebudayaan dari luar nusantara, termasuk India. Hal ini terutama dikarenakan posisi dan kondisi geografisnya yang sangat mendukung, yaitu kawasan pesisir yang kondisi lautnya relatif ramah serta keberadaan sejumlah muara sungai sebagai jalur masuk ke daerah pedalaman (Sugeng Riyanto, 2014).

Baca juga:  Aplikasi WA, Google Form dan Blog Atasi Pembelajaran Matematika Masa Corona

Arca Ganesha Silurah terdapat di Dusun Pedati Desa Silurah Kecamatan Wonotunggal Kabupaten Batang yang jaraknya relatif dekat dari SMPN 2 Warungasem yaitu sekitar 15 Km. Ganesha merupakan anak Dewa Siva dan Parvati. Nama lain Ganesha adalah Vignesvara atau Vighnaraja yang berarti penguasa rintangan. Ganesha merupakan dewa ilmu pengetahuan dan penyingkir rintangan. Ganesha duduk utkutika di atas padmasana, pada belalai patah, mahkota kiritamakuta. Bertangan empat, tangan kanan depan memegang patahan gading, tangan kiri depan memegang mangkuk, tangan kanan belakang memegang cakra, tangan kiri belakang memegang parasu(kapak). Di belakang Ganesha terdapat sandaran arca, memakai upavita, keyura, gelang tangan, gelang kaki, berperut buncit sehingga disebut Lambodara yang berarti “Ia yang berperut buncit”. Ganesha juga dikenal sebagai ganapati (pemimpin para gana), ditempatkan dalam bilikatau relung candi untuk mengiringi Siwa yang berkedudukan sebagai dewa utama. Selain itu sebagai dewa penghalang rintangan (Vigneshwara) dipuja secara mandiri dan biasanya ditempatkan di tempat-tempat yang dianggap berbahaya, misalnya di perempatan jalan atau di pinggir sungai (Atmosudiro dkk, 2001: 90).

Baca juga:  Media Power Point Efektif untuk Pembelajaran dengan Microsoft Teams

Dalam kegiatan ini, siswa terbagi atas beberapa kelompok masing-masing beranggotakan 8 siswa dan 5 guru pendamping. Siswa dilengkapi dengan LKS (Lembar Kegiatan Siswa) untuk mencatat dan mendokumentasikan kondisi alam, vegetasi di sekitar lokasi penjelajahan dan arca Ganesha dengan arahan guru pendamping. Untuk menuju ke lokasi Arca Ganesha Silurah, perjalanan dari SMPN 2 Warungasem ditempuh dalam waktu 1 jam dengan kendaraan bermotor dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar 20 menit.

Dengan kegiatan pembelajaran ini siswa sangat tertarik dan lebih memahami materi pelajaran IPS kelas VII tentang Kehidupan Masyarakat pada Masa Hindu-Buddha dibandingkan pembelajaran metode ceramah di dalam kelas. (ips2/ton)

Guru IPS SMPN 2 Warungasem Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya