alexametrics

Terampil Bercerita melalui Cadingjuta

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan di SD terdiri atas empat keterampilan berbahasa, yakni keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Berdasarkan aspek-aspek tersebut berbicara merupakan salah satu dari empat aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting dimiliki dan dikuasasi oleh seseorang. Bloomfield (1977:42) mengatakan bahwa semua aktivitas manusia yang terencana didasarkan pada bahasa. Bahasa sendiri mempunyai bentuk dasar berupa ucapan atau lisan. Jadi jelas bahwa belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi, dan komunikasi itu adalah berbicara.

Menurut Bygate (1987:26) bahwa dalam berbicara seseorang harus mempunyai pengetahuan keterampilan perspektif motorik dan keterampilan interaktif, maka agar dapat bercerita dengan baik, seseorang harus mempunyai kompetensi kebahasaan yang memadai serta unsur-unsur yang menjadi syarat agar proses berbicaranya dapat lancar, baik dan benar. Di antaranya, lafal, intonasi, ejaan, kosakata dan sebagainya. Dalam hal ini proses pendidikan diperlukan keterampilan guru dalam mengajar melibatkan peranan, inisiatif, dan keikutsertaan siswa yang tinggi.

Baca juga:  Memaknai Lagu Bahasa Inggris Asyik dengan Aplikasi Google Classroom

Pada aspek berbicara khususnya materi menceritakan kembali isi bacaan, siswa kelas V SD Negeri 1 Gondangawayang mengalami kesulitan. Kesulitan tersebut disebabkan karena guru belum menggunakan metode yang melibatkan peran, inisiatif siswa. Melalui penerapan cadingjuta atau baca mading maju bercerita diharapkan siswa dapat menginterpretasikan isi cerita sesuai dengan imajinasinya , dapat mengungkapkan kembali isi cerita bacaan, dan keterampilan berbicara berkembang secara mandiri .

Majalah dinding atau yang biasa diakronimkan menjadi mading merupakan satu jenis media komunikasi massa tulis yang paling sederhana. Disebut majalah dinding karena prinsip majalah terasa dominan di dalamnya. Sementara penyajiannya biasanya dipampang pada dinding atau yang sejenisnya (Nursito, 1999:1). Mading di kelas berisi bermacam-macam kreativitas siswa, di antaranya cerita bergambar, puisi, poster, cerpen, lukisan , dongeng, pecakapan dan lain sebagainya, yang tentunya menarik menjadi ajang ilmu, hiburan dan kreativitas siswa. Mading terpampang di kelas bagian belakang diganti setiap dua minggu sekali yang tertata indah dan rapi.

Baca juga:  Mencetak Pahlawan Milenial dengan Metode Pembelajaran Picture and Picture

Setiap hari sebelum masuk sekolah, siswa diarahkan menyimak mading kelas. Siswa membaca atau menyimak mading kelas, daya imajinasi siswa akan muncul selaras dengan alur dan tokoh cerita dari objek mading yang diamati. Sehingga siswa dapat menginterpretasikan isi cerita sesuai dengan imajinasinya. Tiga menit siswa maju ke depan kelas untuk menceritakan kembali isi cerita dari objek yang diamati secara bergilir, siswa lain mendengarkan. Bercerita di depan kelas ini merupakan modal dasar dalam melatih aspek keberanian, keterampilan berbicara, ketrampilan mengungkapkan perasaan sesuai dengan apa yang dilihat, dibaca atau diamati. Kebiasaan dan keterampilan bercerita di depan kelas tidak terjadi dalam seketika atau secara otomatis, melainkan terjadi melalui proses pembelajaran dan latihan serta kerja keras secara rutin dan berulang. Karena kebiasaan dan keterampilan berbicara menuntut penguasaan keterampilan berbicara yang tidak datang dengan sendirinya.

Baca juga:  Berkorespondensi Surat Resmi Lebih Menyenangkan dengan Peer Deck

Melalui cadingjuta yang dilaksanakan setiap hari merupakan salah satu metode pembelajaran yang ampuh untuk mengembangkan kemampuan bercerita, mengungkapkan hasil pengamatan dengan bahasa yang runtut dan bermakna dengan mengembangkan peran, inisiatif, dan pengetahuan. Sehingga meningkat keterampilan siswa dalam berbicara dan prestasi pelajaran bahasa Indonesia. (ips2.1/aro)

Guru SD Negeri 1 Gondangwayang (Kesty7171@gmail.com)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya