alexametrics

Mewujudkan Sekolah Ramah Anak dengan Sarana PPPK

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Sekolah dipercaya oleh masyarakat sebagai pelaksana proses pendidikan, pembentuk karakter siswa sehingga dituntut harus memiliki budaya ramah dalam menjalankan fungsinya. Akhir –akhir ini banyak berita kekerasan terjadi di sekolah. Masyarakat khawatir dengan maraknya kasus-kasus kekerasan, keracunan jajanan dan juga kasus anak yang menjadi korban karena sarana prasarana yang tidak memadai. Selain itu ancaman bullying dan kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang yang dekat dengan anak.

Untuk menyikapi kondisi tersebut maka diperlukan adanya perlindungan terhadap hak-hak setiap anak tanpa memandang ras, jenis kelamin, asal-usul, keturunan, agama maupun Bahasa. Anak mempunyai hak-hak yang mencakup hak hidup, hak mendapatkan perlindungan, hak untuk tumbuh kembang, dan hak partisipasi, (Bashori Muchsin, 2010: 51-54).

Baca juga:  Meningkatkan Hasil Belajar Pecahan dengan Pendekatan Joyful Learning

Dari permasalahan kekerasan, bullying dan tindakan diskriminatif lainnya yang diterima peserta didik di sekolah, maka perlu dikembangkan program sekolah ramah anak. Sekolah Ramah Anak diartikan sebagai program untuk mewujudkan kondisi aman, bersih, sehat, peduli, dan berbudaya lingkungan hidup, yang mampu menjamin pemenuhan hak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya, serta mendukung partisipasi anak. Program sekolah ramah anak bertujuan memberikan perlindungan pada anak di sekolah dengan mengutamakan hak-hak anak.

Adapun usaha–usaha untuk mewujudkan sekolah ramah anak di SDN Mejing 2 Kecamatan Candimulyo Magelang adalah dengan Sarana PPPK. Pertama, sarana yaitu mengusahakan sarana yang memadai yaitu sarana yang aman bagi anak anak di sekolah. Contohnya ruangan cukup cahaya dan sirkulasi udara cukup, menumpulkan ujung meja, menghindarkan tanaman yang berduri atau beracun, WC bersih dan air mengalir, UKS dipastikan berfungsi dengan baik, disediakan tempat cuci tangan, kantin sehat. Kedua, proses belajar yang ramah anak meliputi: Penerapan disiplin dan ketegasan tanpa merendahkan anak, adanya komunikasi dua arah, menggunakan bahasa positif dalam berkomunikasi, memberikan motivasi belajar, membangun keakraban dengan anak. Ketiga, pendidik dan tenaga kependidikan yang terlatih. Pelatihan dilaksanakan oleh dinas terkait atau sekolah itu sendiri. Keempat, partisipasi anak, orang tua, lembaga masyarakat, dunia usaha, dan alumni. Anak dilibatkan dalam berbagai aktifitas yang mengembangkan kompetensinya. Partisipasi orang tua antara lain mendukung SRA, membuat paguyuban wali murid, melibatkan orang tua dalam penataan lingkungan, pembenahan sarana dan penyediaan sarapan sehat. Menjalin kerjasama dengan lembaga masyarakat, dunia usaha,dan alumni. Kelima, kebijakan sekolah ramah anak. Adanya deklarasi, komitmen tertulis, SK Tim SRA, program yang mendukung SRA, melaporkan kepada dinas terkait, kebijakan tertulis yang mendukung pemenuhan hak anak, melakukan perjanjian kerjasama dengan lembaga layanan terdekat seperti puskesmas, kepolisian, pemadam kebakaran, lembaga masyarakat, dunia usaha, media massa dll.

Baca juga:  Penggunaan Crossword Puzzle untuk Belajar Ketenagakerjaan

Jadi Sekolah Ramah Anak dapat terwujud bila ada kerja sama yang baik antara keluarga, masyarakat dan pihak sekolah. Tumbuh kembang anak ditentukan oleh keluarga, masyarakat yang ideal, harmonis dan sehat. Indonesia hebat Indonesia bebas dari kekerasan. (gm2/ton)

Kepala Sekolah SDN Mejing 2 Kec. Candimulyo Kab. Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya