alexametrics

Tingkatkan Hasil Belajar Fisika melalui Pendekatan Kontruktivisme

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Fisika merupakan cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang terkenal sulit dan tidak disukai oleh anak. Keluhan mengenai kesulitan dalam belajar fisika adalah hal yang biasa dilontarkan para siswa bahkan para mahasiswa. Dalam mempelajari fisika dituntut untuk dapat berpikir aktif, kreatif dan kritis serta berlatih secara tekun dan teliti.

Jika ilmu fisika tidak penting, kita bisa menghilangkan dari kurikulum pendidikan. Namun dalam kenyataannya ilmu fisika sangat penting dalam kehidupan manusia, fisika diakui sebagai dasar ilmu pengetahuan yang melahirkan inovasi teknolgi. Oleh karena itu perlu adanya solusi agar fisika tidak lagi membosankan tetapi menjadi menarik dan menyenangkan saat belajar fisika.

Peran penting guru didalam kelas khususnya dalam pembelajaran IPA fisika tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa, melainkan membantu siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalaman belajar. Cara yang dapat dilakukan oleh guru adalah menjadikan informasi sebagai sebuah persoalan yang perlu diselesaikan siswa sendiri sehingga menjadi bermakna, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan sendiri ide-ide, kreativitas mereka sendiri untuk belajar.

Baca juga:  Alat Peraga Dakon Perjelas Konsep Pembelajaran KPK dan FPB

Banyak guru mengajar hanya menyampaikan sejumlah materi yang harus dikuasai siswa tanpa mengacu kepada proses terbentuknya pemahaman. Akibatnya pembelajaran menjadi kurang bermakna sehingga hasil belajar tidak tercapai. Untuk mengatasi masalah tersebut guru bisa menggunakan pendekatan konstruktivisme, guru memiliki peran membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Pendekatan ini menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar mengajar adalah aktivitas siswa (mengkonstruksi) pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan dan fasilitas lainnya untuk membantu pembentukan tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang sesuatu yang dihadapinya dengan cara demikian siswa akan terbiasa dan terlatih untuk berpikir sendiri memecahkan masalah yang dihadapi secara mandiri, kritis, kreatif dan mampu mempertanggungjawabkan pemikirannya secara rasional.

Siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek atau merevisi apabila informasi yang didapatkan tidak sesuai (Trianto 2009). Sehingga peran guru berubah dari sumber dan pemberi informasi menjadi pendiagnosis dan fasilitator belajar siswa. Konstruktivisme adalah suatu pendekatan yang lebih berfokus kepada siswa sebagai pusat dalam proses pembelajaran (Hanifa & Suhana, 2009). Karena penekanannya pada siswa (siswa aktif) maka strategi konstruktivisme sering disebut pengajaran yang terpusat pada siswa atau student instuction.

Baca juga:  Film Pendek Sains sebagai Sumber Literasi yang Menyenangkan

Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam tahap tindakan ini adalah : pertama guru melakukan apersepsi selanjutnya menjelaskan tujuan pembelajaran, guru menjelaskan kegiatan yang harus dilakukan kemudian membagi siswa dalam beberapa kelompok, tiap kelompok 4-5 siswa. Kedua, guru membagi lembar kerja sesuai dengan matari yang diajarkan. Secara berkelompok siswa mencoba mengamati dan mempelajari serta menyimpulkan apa yang diberikan oleh guru melalui diskusi terbimbing, secara bergiliran mereka mempresentasikan hasil diskusi didepan kelas. Ketiga, guru memberikan bimbingan dan motivasi sesuai dengan konsep materi ketika terjadi beda pendapat antar kelompok, melalui bimbingan itu siswa menyimpulkan hasil diskusi dari pemahaman konseptual pada pembelajaran saat itu.

Dari kegiatan tersebut siswa mempunyai keberanian untuk bertanya, mengemukakan pendapat atau gagasan dan menjawab pertanyaan dari kelompok lain ataupun dari guru. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran lebih hidup dan antusias siswa dalam mengikuti pelajaran fisika meningkat. Keempat, guru memberikan evaluasi baik secara kelompok maupun mandiri individual melalui tugas dan tes formatif untuk mengetahui hasil belajar dari pembelajaran tersebut.
Pada dasarnya pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme adalah membangun kemampuan siswa berdasarkan pengalamannya sendiri. Siswa terbiasa memecahkan masalah yang dihadapi secara mandiri, kritis dan kreatif serta mampu mempertanggungjawabkan pemikirannya secara rasional. Juga suasana belajar lebih hidup karena aktivitas siswa dalam mengikuti KBM lebih meningkat dan target pembelajaran dapat tercapai. (ips2.1/lis)

Baca juga:  Meningkatkan Pemahaman Fisika dengan Discovery Learning

Guru Fisika SMA N 1 Godong

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya