alexametrics

Sosiodrama Tingkatkan Kemampuan Siswa Belajar Sejarah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran sejarah terutama dengan materi sejarah manusia pada masa praaksara merupakan lingkup materi yang waktunya sangat jauh dengan anak-anak saat sekarang. Hal itu menyebabkan peserta didik kurang merasa memiliki keterkaitan dengan pembelajaran manusia praaksara. Kontekstualisasi merupakan sebuah cara untuk mengaitkan konteks yang awalnya di luar subjek, menjadi konteks yang dapat dimengerti oleh subjek. Dengan melakukan kontekstualisasi, pembaca akan memahami makna dari sebuah teks sesuai dengan semangat zamannya (Historia: 2018).

Begitu juga yang terjadi dengan siswa kelas 7 di SMP Negeri 27 Semarang, dimana keterpautan waktu yang sangat jauh menjadikan motivasi dan semangat mereka kurang terpacu, dalam mengikuti pembelajaran materi masyarakat Indonesia masa praaksara, Hindu Buddha dan Islam. Sehingga hal ini menjadikan tantangan tersendiri bagi guru untuk menyampaikan sejarah dalam konteks kekinian atau kontekstualisasi metode.
Salah satu cara yang penulis lakukan untuk menyampaikan sejarah dalam konteks kekinian adalah sosiodrama. Dengan metode tersebut diharapkan pola pikir siswa akan berubah serta semangat belajarnya akan maksimal. Pada pembelajaran sosiodrama guru lebih bersifat sebagai fasilitator. Fasilitator merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran dengan model sosiodrama. Guru dalam pembelajaran ini bisa bertindak sebagai aktor, sutradara atau penonton. Pembelajaran sosiodrama mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: tahap persiapan, penentuan pelaku atau pemeran, tahap permainan sosiodrama, diskusi, dan ulangan permainan.

Baca juga:  Media Panggung Boneka untuk Pembelajaran Hidup Rukun

Pertama tahap persiapan. Dalam tahap ini guru mempersiapkan skenario pembelajaran sejarah masyarakat praaksara. Skenario dibuat sebaik mungkin dengan melibatkan siswa baik dalam perencanaan maupun pembagian peran. Hal ini urgen agar guru tidak salah memilih karakter siswa dalam permainan. Tentu tidak semua siswa dilibatkan tetapi ditentukan sesuai kebutuhan. Bagi mereka yang tidak beramain bisa ditempatkan sebagai penonton dengan tugas yang dijelaskan terlebih dahulu.

Kedua, penentuan pelaku atau pemeran. Setelah menentukan tema pelaksanaan yakni pembelajaran masyarakat Indonesia praaksara, selanjutnya guru mendorong siswa untuk melaksanakan bermain peran, kemudian guru menentukan siapa saja yang menjadi pemain dalam sosiodrama dan yang menjadi penonton.

Guru bertugas menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh pemain secara sungguh-sungguh, bagaimana pentingnya menjadi pemeran terhadap tema belajar kelas mereka kali ini. Ketiga, pada tahapan ini siswa dipersilakan untuk mendramatisasikan masalah-masalah yang telah ditentukan sebelumnya selama kurang 5-10 menit berdasarkan pendapat dan inisiatif mereka sendiri. Mereka diminta mengeluarkan kemampuan terbaik akan peran yang diberikan bisa maksimal. Keempat, diskusi. Dalam tahap ini permainan dihentikan, kemudian siswa dipersilakan untuk duduk yang dilanjutkan diskusi tentang materi yang telah diperankan. Diskusi dipimpin guru dan diikuti seluruh siswa. Materi diskusi seputar drama yang telah diperankan, apakah sudah sesuai dengan tema cerita atau tidak dan tak lupa guru membuka ruang tanya jawab bagi siswa agar mereka juga bisa memberikan masukan akan jalannya drama.

Baca juga:  Sejarah dan Pendidikan Sejarah sebagai Pembentuk Identitas Bangsa

Kelima, ulangan permainan. Dalam langkah ini guru kembali menugasi beberapa siswa untuk mengulang permainan drama seperti yang dilakukan teman mereka sebelumnya. Tentu dengan harapan apa yang kurang dalam evaluasi melalui diskusi tadi bisa ditingkatkan sehingga pengulangan peran ini akan menyajikan tampilan yang lebih baik dan maksimal.

Setelah metode pembelajaran sosiodrama tersebut diterapkan, ternyata minat dan semangat siswa dalam mengikuti materi masyarakat Indonesia masa praaksara, Hindu Buddha dan Islam ternyata lebih baik. Mereka lebih antusias mengikuti pelajaran dan aktif dalam diskusi. Bahkan waktu yang ada terasa terlalu cepat karena asyiknya bermain peran yang menuntut mereka harus aktif dalam pembelajaran tersebut.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa pengunaan metode sosiodrama lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar sejarah khususnya pada materi masyarakat Indonesia masa praaksara, Hindu Buddha dan Islam. (ips2/lis)

Baca juga:  Metode Picture and Picture Tingkatkan Keaktifan Belajar Manusia Purba

Guru IPS SMP Negeri 27 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya