alexametrics

Budaya Nunyuma, Solusi Tanamkan Unggah-Ungguh Siswa

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pada zaman modern seperti sekarang ini banyak kita jumpai siswa sering mengabaikan unggah-ungguh dan tata krama. Mereka kurang mengetahui tentang cara bersikap dengan cara yang baik dan benar, padahal tata krama ini sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang. Sikap egois, cuek, tidak perduli dan kurang berempati pada orang lain seringkali kita lihat.

Tata krama adalah suatu aturan yang diwariskan turun temurun untuk mengatur hubungan antara individu satu dengan individu lainnya. Tata krama bertujuan untuk menimbulkan saling pengertian, hormat-menghormati dan penghargaan menurut adat yang berlaku di suatu masyarakat.

Dalam sistematika filsafat, tata krama adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik maupun buruk sejauh yang dapat ditentukan oleh akal (Sidi Gajalba, Drs).

Baca juga:  Peran Kosakata dalam Belajar Bahasa

Masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi nilai kesopanan dalam bertingkah laku dan bertutur kata, atau yang kita kenal dengan istilah unggah-ungguh. Unggah-ungguh adalah ilmu tentang adab, yang akan mendidik kita bagaimana cara beradab. Menurut Frans Magnis Suseno, unggah-ungguh identik dengan prinsip hormat yaitu suatu sikap di mana orang Jawa dalam cara bicara dan membawa diri selalu harus menunjukkan sikap hormat kepada orang lain.

Jika unggah-ungguh kita tinggalkan, maka bisa jadi kita disebut orang tidak beradab. Maka muncullah pepatah ajining diri gumantung lathi, ajining raga gumantung busana. Namun seiring perkembangan zaman tidak bisa kita pungkiri nilai unggah-ungguh Jawa tersebut mengalami pergeseran terutama untuk anak-anak muda.

Sebagai seorang guru bahasa Jawa kami merasa ikut bertanggung jawab atas kurangnya unggah-ungguh dan tata krama khususnya untuk para siswa. Untuk itulah kami mencoba menanamkan kepada siswa SMP Negeri 16 Semarang yang pada dasarnya mereka menjelang remaja untuk menerapkan budaya NUNYUMA. Istilah ini kami gunakan untuk mempermudah para siswa mengingat dan menerapkannya terutama jika minta pertolongan kepada orang lain yang lebih tua. Budaya NUNYUMA pada dasarnya adalah bertujuan untuk istilahnya nguwongke atau menghormati orang lain.

Baca juga:  Teknik Membaca Nyaring Meningkatkan Keterampilan Membaca Siswa

NUNYUMA singkatan dari nuwun sewu, nyuwun tulung dan matur nuwun. Perkataan nuwun sewu hendaknya kita ucapkan sebelum kita menyela ataupun memotong waktu orang lain untuk mau memperhatikan kita berbicara atau bertindak memecah konsentrasi orang lain. Dengan kata lain kita mengganggu kemerdekaan orang lain tersebut.

Berikutnya adalan nyuwun tulung. Kata nyuwun tulung termasuk kalimat perintah atau istilah bahasa Jawa pakon alus, atau kalimat perintah halus. Dengan perkataan tersebut orang lain yang kita minta untuk membantu kita tidak merasa diperbudak dan diremehkan.

Matur nuwun merupakan hal kecil yang sering kali kita lupa untuk mengucapkannya. Hal kecil tetapi dampaknya besar. Kita akan dinilai orang yang tahu unggah-ungguh dan tata krama. Sedangkan orang yang kita minta bantuannya merasa dihormati/diuwongke, sehingga akan melakukannya dengan senang hati dan merasa tersanjung karena perbuatannya diapresiasi dengan baik oleh orang lain.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa budaya NUNYUMA hendaknya selalu ditanamkan pada siswa sebagai bentuk tanggung jawab kita menciptakan generasi yang beretika dan bermoral baik. (ips2/lis)

Baca juga:  Aplikasi Canva, Media Pembelajaran Bahasa Jawa Era Society 5.0

Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 16 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya