alexametrics

Bercerita dengan Teknik Pemodelan Jauh lebih Menarik

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, DEWASA ini, kegiatan pembelajaran yang berorentasi pada potensi dan kebutuhan siswa menjadi prioritas dan perhatian utama ahli pendidikan. Pendidikan adalah kunci untuk memperbaiki kehidupan di masa depan. Pendidikan yang berkualitas telah menjadi tuntutan dan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap lembaga pendidikan. Kegiatan pembelajaran saat ini lebih memberdayakan siswa secara optimal dengan memberdayakan potensi dan kemampuan yang dimiliki siswa. Oleh karena itu siswa akan belajar lebih baik jika lingkungan yang diciptakan bersifat nyata.

Belajar akan lebih bermakna jika siswa mengalami sendiri apa yang dipelajari. Pendekatan kontekstual sebagai pilihan yang tepat untuk menghidupkan kelas agar siswa belajar dengan sesungguhnya. Melalui keterampilan bercerita diharapkan siswa bisa menciptakan dan menumbuhkan daya imajinasi dan kreasi dalam proses kegiatan pembelajaran tersebut.

Keterampilan bercerita tidak terlepas dari keterampilan berbicara. Karena bercerita (mendongeng) adalah salah satu kegiatan keterampilan berbicara estetik. Berbicara estetik dapat berupa percakapan tentang sastra, bercerita (mendongeng), teater dan drama.
Adapun cara yang bisa dilakukan siswa agar siswa dapat bercerita dengan baik dan menarik adalah siswa dapat memilih cerita, mempersiapkan diri untuk bercerita, dan menyampaikan cerita. Ada tiga hal yang harus dipersiapkan sebelum orang berbicara atau bercerita, yaitu persiapan diri, persiapan materi, dan persiapan pendukung. Persiapan diri berkaitan dengan kondisi jasmani dan rokhani, persiapan materi berkaitan dengan materi yang akan disampaikan dan persiapan pendukung mencakup persiapan ilmu, vokal, dan bahasa.

Baca juga:  Penilaian Teman Sejawat Tingkatkan Motivasi Pembelajaran Berpidato

Menurut pendapat Arsyad (2002:20), ada dua faktor yang dapat menunjang keefektifan berbicara, yaitu faktor kebahasaan dan faktor nonkebahasaan. Faktor kebahasaan meliputi ketepatan ucapan, penempatan tekanan, nada, durasi, pilihan kata (diksi), ketepatan sasaran pembicaraan.

Berdasarkan uraian di atas penulis mencoba untuk memberi rangsangan kepada siswa agar siswa berani bercerita melalui penggunaan teknik pemodelan ini.
Menurut Bandura (dalam Wasti Sumanto, 2003) pemodelan adalah suatu bentuk belajar yang tidak dapat disamakan dengan classical condtioning maupun operan conditioning. Dalam modeling seseorang yang belajar itu mengikuti sikap dan perilaku orang lain sebagai model. Dalam proses pembelajaran siapapun dapat menjadi model (guru atau siswa). Pada awal proses pembelajaran guru bisa dijadikan sebagai model, pada proses berikutnya siswa yang berani dan terampil bercerita bisa dijadikan sebagai model.

Baca juga:  Emosi Sumber Inspirasi Puisi di WA Story

Di SMK Negeri Karangpucung bahwa pembalajaran bahasa Indonesia kelas X BDP 2 pada materi bercerita tingkat keberanian siswa masih kurang. Pembelajaran tidak selamanya meninggalkan pemahaman yang kuat pada pengalaman belajar siswa. Siswa sering tidak percaya pada kemampuan dirinya. Berdasarkan permasalahan tersebut penulis mencoba menerapkan Bercerita Melalui Penggunaan Teknik Pemodelan Jauh Lebih Menarik.

Melalui penggunaan teknik ini, dimaksudkan penulis untuk merangsang dan meningkatkan keberanian dan rasa percaya diri siswa. Bahwa tampil di depan kelas bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi siswa. Pembelajaran menggunakan teknik pemodelan juga memberikan pengalaman baru dan nyata bagi siswa. Pengalaman baru ini juga diharapkan mampu menginspirasi siswa untuk berkreasi sesuai keinginannya.

Baca juga:  Metode Critical Thinking dalam Pembelajaran Teks Tanggapan Kritis

Pembelajaran keterampilan bercerita menurut penulis sangat menarik dengan menggunakan teknik pemodelan. Apalagi model yang digunakan juga dari teman mereka sendiri yang terampil dalam bercerita. Penulis berharap muncul keberanian dalam diri siswa untuk mampu bercerita di hadapan siswa yang lain.

Berdasarkan uraian di atas dapat dsimpulkan bahwa melalui pembelajaran bercerita dengan menerapkan teknik pemodelan, siswa termotivasi, sehingga berani tampil di depan kelas, percaya diri, dan kreatif dalam mengekspresikan perasaannya, sehingga mampu bercerita dan siswa dapat mengambil nilai-nilai kehidupan dari tiap cerita. Melalui pembelajaran bercerita dengan menerapkan teknik pemodelan aktivitas dan respon siswa juga semakin meningkat. (ips2/zal)

Guru Bahasa Indonesia SMKN Karangpucung, Cilacap.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya